TONDANO- Siang itu Kota Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara masih basah karena hujan seharian. Namun ratusan orang sudah berkumpul di balai di Benteng Moraya, Tondano–sebuah situs sejarah pertahanan rakyat melawan kolonialisme Belanda. Seminar Nasional hari itu menghadirkan, DR Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama sejarawan  DR. Ivan Kaunang, Pdt DR Richard Siwu dan Fendy Parengkuan,– membedah sejarah Perang Tondano, Sabtu, 11 November 2011.

DR Hilmar Farid, dihadapan ratusan pemuda, tokoh organisasi massa dan tokoh agama mengingatkan, bahwa saat ini, ada upaya politik menutup dan mengaburkan sejarah dan kebudayaan Indonesia secara sistimatis. Untuk itu orang Minahasa punya kewajiban dan tanggung jawab untuk meluruskan dan menggali kembali sejarah dan kebudayaan Indonesia, khususnya sejarah dan kebudayaan Minahasa sendiri. Karena para pejuang Minahasa sudah ikut memerdekakan bangsa Indoneia, merumuskan UUD 45 dan mendirikan Republik Indonesia.

“Rakyat Minahasa jangan pernah sampai tercerabut dari akar sejarah dan kebudayaannya di tengah arus global saat ini. Kita orang Minahasa tidak mungkin menjadi orang lain mengikuti arus kebudayaan global masa kini,” ujarnya.

Hilmar Farid bahwa sampai saat ini semangat orang Minahasa tidak pernah melenyap oleh berbagai budaya baru yang masuk karena keterbukaan.

“Walaupun pada masa sekarang melahirkan banyak kebudayaan baru, namun spirit yang menjadi semangat orang Minahasa dalam Perang Tondano tidak akan pernah mati, selama rakyat minahasa berpegang pada sejarah dan kebudayaan Minahasa,” tegasnya.

Oleh karena itu menurutnya, masyarakat Minahasa khususnya pemuda harus diberikan peluang semakin luas untuk membuka dan menelusuri asal usul dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Menurutnya, kelompok-kelompok kebudayaan Minahasa harus tumbuh disamping perkembangan budaya baru.

“Sangat penting saat ini terus dilakukan penggalian sejarah dan pelestarian kebudayaan minahasa. Karena tanpa mengenal sejarah dan budaya minahasa, kita tidak tahu dan kehilangan arah dimasa sekarang dan masa depan,” tegasnya.

Menurutnya berbagai kebudayaan baru yang masuk ke Indonesia harus diverifikasi baik buruknya bagi masyarakat, agar mendatangkan kemajuan bagi perkembangan masyarakat dimasa depan.

“Namun, kalau kita lupa akar sejarah dan meninggalkan kebudayaan kita maka berbagai kita bisa membedakan yang benar dari yang salah bahkan merusak jatidiri kita. Sehingga kita ikut merusak masyarakat dan peradaban yang sudah diperjuangkan dan dibangun oleh para pendahulu kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa, sejarah sangat penting karena mengajarkan masayrakat untuk menuju peradaban yang lebih baik. Buta sejarah akan menyebabkan kemunduran peradaban karena mengulang kembali yang sudah pernah dilewati oleh pendahulu kita. Sehingga masyarakat yang seharusnya menuju pada peradaban yang lebih maju akan mulai dari awal lagi.

“Lewat berbagai pertunjukan kebudayaan minahasa kita bisa mengenal kembali spirit rakyat minahasa yang tidak pernah hilang dalam berbagai perkembangan zaman. Kebudayaan itulah yang akan mendorong kita untuk mencari kembali akar sejarah dan kebudayaan Minahasa, untuk membimbing kita dimasa depan menuju peradaban yang lebih baik lagi,” jelasnya.

Hilmar Farid juga menegaskan bahwa, para pendiri bangsa Indonesia telah merumuskan hasil sejarah masa lalu dalam pembukaan UUD’45. Untuk itu penting sekali untuk mengkaji lebih dalam setiap alenia dalam pembukaan UUD’ 45.

“Pembukaan UUD’45 adalah penuntun kita menyongsong kemajuan peradaban dunia yang sedang berubah saat ini. Karena UUD’45 telah menetapkan kemana arah, lewat mana dan dengan cara apa mencapai cita-cita bangsa Indonesia,” ujarnya.

Hegemoni Bangsa Asing

Upaya hegemoni bangsa asing terhadap wilayah Nusantara telah melahirkan berbagai persoalan bagi masyarakat. Kondisi itu akhirnya memantik berbagai bentuk perlawanan rakyat. Anak-anak bumi pertiwi yang tertindas, terusik dan berupaya melepaskan diri dari belenggu derita itu.

Pengalaman historis itu juga dialami masyarakat Minahasa yang mendiami jazirah utara  Selebes. Rakyat Minahasa yang tidak ingin dicurangi, diperlakukan semena-mena, memilih untuk angkat kepal. Gerakan perlawanan Minahasa itu bergelora dalam perlawanan heroik yang dikenal dengan “Perang Tondano”. Kisah perjuangan masyarakat Minahasa tersebut tersaji dalam rentang waktu 1661-1809.

Upaya tak henti dilakukan para penjajah untuk menguasai tanah Minahasa, rakyat dan kekayaan yang terkandung di dalamnya namun semangat perjuangan rakyat pun tak pernah padam. Laki-laki, perempuan, orang dewasa dan anak-anak, terlibat dalam arak-arakan perjuangan itu. Tangis dan air mata, melayangnya jiwa para waraney (ksatria), mewarnai kisah itu. Namun, melawan sampai titik darah penghabisan adalah pilihan terbaik para leluhur Minahasa ketimbang memberi tanah dan anak-cucunya bagi penjajah.

Perjuangan dan pengorbanan dari peristiwa “Perang Tondano” mempunyai nilai yang tak terhingga. Terutama untuk direfleksikan bagi pembangunan Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dan Negara Indonesia tercinta.  Nilai perjuangan dan pengorbanan tersebut dapat dijadikan “senjata” untuk menangkal berbagai gempuran di era (post) modern ini.

Bangsa dan Negara Indonesia hingga kini terus dirong-rong oleh berbagai “kepentingan luar”, kuasa asing, dan macam-macam ideologi.  Ancaman itu bisa meruntuhkan bangsa ini kapan saja. Namun, gerak melawan dengan bergandengan tangan seluruh elemen bangsa, baik  masyarakat maupun pemerintah, diyakini dapat menangkal bahaya itu. Nilai-nilai sejarah-budaya lokal masing-masing bisa menjadi pilar penting untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik (NKRI) Indonesia. Salah satunya, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa “Perang Tondano”.

Berdasarkan pemikiran di atas Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) merasa penting untuk memahami dengan baik dan mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan dalam “Perang Tondano”. Terkait hal tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Minahasa bersama organisasi sosial “Wangunta Waya” Tondano dan Komunitas Pawowasan Toudano, bermaksud menggelar  Seminar Nasional nilai kebangsaan dan sejarah kebudayaan lokal minahasa di rangkaikan dengan penyas seni budaya minahasa.

Meidy  Tinangon, Ketua panitia kegiatan ini didampingi Janri Rumambi dan Jerry Wuisang mengatakan maksud dari seminar  ini  untuk dapat mengangkat nilai-nilai budaya dalam satu bingkai kebangsaan serta menggali dan mengangkat nilai-nilai sejarah besar perjuangan rakyat Minahasa melawan imprialisme dalam peristiwa Perang Tondano (1661-1809) .

Sementara tujuan kegiatan ini ditambahkan Tinangon untuk mengangkat nilai –nilai dan semangat sejarah besar perjuangan rakyat Minahasa melawan imperialisme dalam peristiwa Perang Tondano (1661-1809) secara nasional.

“Yang nantinya akan menjadi bahan masukan kepada Pemerintah untuk dapat melestarikan dan mengembangkan situs sejarah Nasional. Sekaligus mengangkat nilai-nilai sejarah besar perjuangan rakyat Minahasa melawan imperialisme dalam peristiwa Perang Tondano (1661-1809) secara nasional untuk dapat diterapkan dalam Kurikulum Nasional khususnya mata pelajaran sejarah yang bisa menjadi bahan referensi bagi lembaga pendidikan maupun akademisi di bidang ilmu sejarah,” tegasnya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Seminar ini dibuka dan ditutup dengan Tari Perang ‘Kabasaran’ oleh tiga kelompok penari Cakalele. Dirjen Kebudayaan juga sempat meninjau kompleks kuburan (waruga) dan tonggak-tonggak benteng yang berhasil diangkat dari danau Tondano. Hilmar Farid juga memeriksa nama-nama dotu-dotu yang gugur dalam ‘Perang Tondano’.

“Spirit Perang Tondano harus menjadi semangat menjaga NKRI,” tegas Dirjen Kebudayaan yang berdarah Lapian dari garis ibunya (Web Warouw)

Sumber bergelora.com