Identitas adalah salah satu konsep dalam ilmu sosial yang membingungkan. Diawali dari usaha untuk mengimbangi kelas, ras atau gender sebagai unit analisis yang membakukan keberadaan seseorang atau sekelompok orang, para pengamat menggunakan konsep identitas untuk menyelidiki kemajemukan yang lekat pada seseorang. Secara politik kemajemukan ini membuka ruang dan peluang bagi praktek politik yang lebih kaya dan tajam untuk menjawab persoalan dunia yang semakin kompleks. Saat ini konsep identitas mendapat pengakuan luas sebagai obat mujarab untuk menghindari esensialisme dan membuat pengamat sungguh memperhatikan sifat cair dari identitas. Dan justru di sini masalah mulai muncul. Penekanan pada kemajemukan dan keterus-berubahan identitas membuat konsep itu sendiri kemudian kehilangan daya penjelasnya. Jika identitas senantiasa majemuk dan berubah-ubah, lalu bagaimana mungkin kita membicarakannya? Bagaimana kita menangkap sesuatu yang terus bergerak tanpa mengurangi geraknya? Dan lebih penting lagi, bagaimana kita bisa memahami tindakan politik yang bertolak dari pengentalan identitas, misalnya etnik atau agama, seperti yang kita saksikan sepanjang sejarah Indonesia modern?

Selama ini pendekatan yang dominan dalam diskusi tentang identitas menekankan segi pemahaman-diri orang atau kelompok dalam studinya. Tentu saja dengan cara seperti ini kita tahu bagaimana seseorang atau kelompok berpikir tentang dirinya, baik melalui pemikiran atau praktek yang langsung berkenaan dengan dirinya maupun dengan yang lain (the other). Tapi saya kira penekanan dan penilaian yang berlebihan pada pemahaman-diri ini membuat proses sosial yang lebih luas terabaikan, dan ini tentu masalah besar. Untuk mengenali identitas orang Indonesia setelah kolonialisme misalnya kita tidak cukup memperhatikan apa yang dikatakan orang mengenai diri mereka atau diperbuat seseorang atau sekelompok orang untuk memperkuat ‘identitas’ yang sudah ditentukan sebelumnya, tapi juga dengan memahami batas dan proses pembentukan identitas itu sendiri. Setiap identitas, betapapun majemuk dan terus berubahnya, tidak dapat lepas dari proses sosial, ekonomi dan politik yang lebih luas. Jadi, di samping pemahaman-diri atau penamaan-diri yang memang esensial dalam studi tentang identitas saya kira perhatian perlu juga diarahkan pada berbagai proses sosial yang membatasi dan mengarahkan pembentukan identitas itu.

Di Indonesia proses tersebut setelah kemerdekaan sangat rumit adanya. Kolonialisme Belanda selama puluhan tahun – untuk sebagian lebih dari seratus bahkan dua ratus tahun – berakhir dengan kedatangan Jepang yang mematahkan pertahanan Hindia Belanda dalam hitungan hari. Berbeda dengan Birma dan Filipina, di Jawa dan Sumatera (dengan perkecualian Aceh dan Sumatera Barat) tentara pendudukan Jepang tidak disambut oleh perlawanan bersenjata terhadap penguasa kolonial. Tidak ada gerakan politik yang datang mewakili Indonesia sebagai kesatuan. Kaum elite terbelah antara mereka yang setuju bekerjasama dengan Jepang dan yang tidak setuju. Di antara yang setuju pun ada perbedaan signifikan mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya. Begitu juga mereka yang menolak bekerjasama dengan Jepang tidak dapat dipersatukan oleh satu agenda politik. Semasa perang kemerdekaan melawan penguasa kolonial Belanda yang ingin kembali perbedaan itu berkurang karena adanya musuh bersama, tapi segera muncul lagi setelah penyerahan kedaulatan. Perbedaan tidak terbatas pada orientasi politik tapi juga kelas, etnik, agama dan regionalisme dan berulangkali pecah menjadi konflik terbuka ketika perbedaan (dan identitas) mengental.

Jakarta adalah situs yang menarik untuk memperhatikan proses ini lebih teliti. Segala ketegangan sosial dan politik sangat kuat dirasakan setelah berakhirnya zaman normal dengan masuknya tentara pendudukan Jepang pada Maret 1942. Setelah proklamasi Jakarta, berbeda dari kota-kota utama yang lain, sungguh terbelah politik-militer dan sosial sekaligus. Segregasi yang sudah berlangsung selama berabad diperkuat oleh konflik politik dan militer yang susul-menyusul. Penguasa lama dibantu oleh para kolaborator berdampingan dengan aktivis bawah tanah, pemuda pemberani, penganggur petualang dan sederet penghuni kota lain yang menetap bukan karena kehendak tapi karena terdampar. Ketegangan gerakan bawah tanah misalnya beradu bahu dengan keberanian mencari kerja dan keputusasaan bertahan hidup. Semua ini tentu berpengaruh pada cara setiap unsur dalam masyarakat memahami keberadaan dirinya dan juga satu sama lain. Adalah karya fiksi yang antara lain merekam proses ini beserta segala kerumitannya dengan baik. Bukan kebetulan jika hampir separuh novel yang terbit setelah 1950 bertempat di Jakarta. Kehidupan di kota ini adalah lahan subur bagi penulis yang paling gersang sekalipun.

Makalah ini akan membicarakan karya Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis yang paling subur dalam sejarah modern Indonesia. Ia menulis banyak novel dan cerita pendek yang bermain di Jakarta. Banyak ceritanya adalah semacam catatan atau rekaman dari kejadian yang dialaminya langsung atau berdasarkan pengamatan. Mungkin karena alasan itu ia menyebut karya sastra sebagai ‘dokumen sosial’. Saya akan bertolak dari konsep ini dan melihatnya bagaimana karyanya mereka-ulang (dan bukan sekadar merekam) cara orang mengalami kota, khususnya setelah penyerahan kedaulatan. Penggambaran pengalaman para tokohnya dari waktu ke waktu – yang oleh Robert Alter disebut sebagai experiential realism – membuka ruang untuk melihat proses pembentukan identitas dari dekat.(1) Perhatiannya bukan hanya pada bagaimana batas-batas diri dan subyek dibentuk tapi juga bagaimana orang secara konkret mengalami ruang serta menggunakan dan pada saat bersamaan diatur oleh waktu. Saya juga ingin menyoroti kekuatan uang yang menentukan dalam keseluruhan proses ini dan pergulatan sosial yang muncul di sekitarnya.

Memperlakukan tulisan Pramoedya sebagai dokumen sosial artinya melihat hubungan kuat antara karya dengan konteks dan juga pengarangnya. Pendekatan yang mungkin dalam kritik sastra dan kajian budaya kontemporer dianggap ketinggalan zaman ini bagi saya tetap ampuh untuk memahami sebuah karya bukan hanya sebagai teks tapi juga sebagai bagian dari praktek budaya dan politik sekaligus. Karya Pramoedya, baik fiksi maupun non-fiksi sepanjang hidupnya turut mengisi, memperluas dan memperkuat spaces of hope yang akan saya bahas lebih lanjut di bagian akhir.

Pramoedya di Jakarta

Pramoedya pertama kali ke Jakarta pertengahan 1942 atau beberapa bulan setelah Jakarta diduduki Jepang dan tinggal di sana selama tiga tahun. Ini adalah masa yang menurut hemat saya teramat penting dalam perjalanannya sebagai penulis, walau ia tidak menulis sesuatu yang diterbitkan atas nama dirinya. Saat tiba ia ngenger pada adik ayahnya, Raden Moedigdo, yang berpengaruh besar pada pemikirannya. Pagi hari ia bersekolah di Taman Siswa, tempatnya belajar antara lain (atau terutama) sejarah dan sastra, sementara siangnya ia bekerja di Domei sebagai juruketik. Setahun setelah bekerja ia mengambil kursus stenografi dan juga mengikuti pelajaran ekonomi, politik, tata negara, dan sejarah yang diberikan oleh para pemimpin nasionalis saat itu. Menjelang kejatuhan Jepang ia sempat mengambil kuliah selama satu semester di Sekolah Tinggi Islam. Boleh dibilang selama tiga tahun pendudukan Jepang, Pramoedya mengumpulkan pengetahuan dan mengasah ketrampilan yang sangat penting bagi karirnya sebagai pengarang di kemudian hari. Di Domei, atas suruhan Adam Malik, ia sempat bekerja di bagian dokumentasi; pekerjaan yang tidak disukainya tapi menjadi kebiasaan yang terus berlanjut sampai hari tuanya.

Saat perang dimulai ia menjadi tentara di Cikampek dan baru kembali ke Jakarta pada awal Januari 1947. Ia kembali tinggal bersama Moedigdo yang saat itu menerbitkan The Voice of Free Indonesia di bawah naungan Departemen Penerangan. Jakarta saat itu praktis dikuasai oleh Belanda sehingga kegiatan penerbitan itu hanya bisa diproduksi dan disebarkan di bawah tanah. Badan itu juga menerbitkan majalah tengah bulanan Sadar tempat Pramoedya menerbitkan dua cerita pendeknya. Saat Moedigdo ditangkap Pramoedya menggantikan posisinya sampai kemudian ia juga ikut ditangkap pada 23 Juli 1947, dua hari setelah agresi militer Belanda yang pertama. Ia terus mendekam di penjara sampai perang berakhir dan selama dua setengah tahun ia menyusun beberapa novel, cerita pendek dan terjemahan. Ia belajar bahasa asing, terutama Inggris, bergaul rapat dengan para tahanan yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi beberapa karyanya. Ia kemudian dibebaskan pada awal Desember 1949 bersama rombongan terakhir tahanan sebanyak delapan orang. Dari penjara ia mulai pengembaraannya di Jakarta selama lima belas tahun ke depan, sampai ia kembali ditangkap oleh penguasa Orde Baru dan disekap tanpa pengadilan selama empat belas tahun.

Tempat pertama yang ditujunya setelah dilepas dari penjara Bukitduri adalah rumah Arfah Ilyas, yang tak lama kemudian menjadi istrinya, di Kebon Jahe Kober, “lima ratus meter garis lurus dari istana,” seperti yang diceritakannya dalam cerpen ‘Kampungku.’(2) Keadaannya begitu mengenaskan sampai Pramoedya memerlukan bertanya, “Bagaimana hidup orang-orang di dalam kampung yang tidak mampu mengatasi kemerosotan lingkungannya sendiri ini? Bagaimana sikap mereka terhadap dunia? Aku tak tahu, aku seorang anyaran yang sedang memasuki dunia, mencari jawaban.”(3) Dari kampung inilah Pramoedya menyaksikan kegagalan revolusi yang ikut diawakinya sebagai tentara, penulis dan tahanan perang. Usaha untuk menjawab berbagai pertanyaan klasik dalam masyarakat bekas jajahan ini – yang juga menjadi pertanyaan bagi penulis seperti Albert Memmi, Frantz Fanon, Ho Chi Minh atau Njoto – dalam karya Pramoedya tidak hanya hadir melalui karakter dan isi cerita tapi juga melalui penggunaan bahasa. Ia kerap bereksperimen dengan bahasa yang ironis, berirama, dan penuh permainan antara kelisanan dan keaksaraan, yang bisa membuat karakternya lebih ‘berbunyi’. Hampir seluruh ceritanya mengenai Jakarta yang dibahas dalam makalah ini berbicara tentang persoalan dan dengan gaya seperti itu.

Di masa ini Pramoedya memutuskan hidup dengan menulis atau menjadi broodschrijver. Novel Perburuan mendapat hadiah pertama Balai Pustaka dan pertemuannya dengan HB Jassin membawanya bekerja di penerbit itu sebagai redaktur sastra Indonesia modern dan kemudian juga mengasuh majalah Kunang-kunang untuk anak-anak. Ia bekerja di pusat kota dan setiap hari melintasi keramaian Jakarta yang mulai disesaki kantor pemerintah dan kantor dagang, dan dengan begitu menyaksikan bagaimana perekonomian kembali dikuasai penguasa lama. Konperensi Meja Bundar antara lain memutuskan bahwa pemerintah Indonesia tetap mempekerjakan dan membayar gaji belasan ribu pejabat dan pegawai Eropa dengan skala gaji Eropa sementara pegawainya sendiri hidup dengan gaji pas-pasan. Hal ini juga yang membuatnya terlibat perselisihan di Balai Pustaka dan berujung pada pengunduran dirinya. Tapi semua masalah itu tidak membuatnya surut menulis. Justru sebaliknya, sepanjang tahun 1950 ia menerbitkan tidak kurang tiga novel (yang ditulisnya di penjara), dua kumpulan cerpen, tujuh belas cerpen yang diterbitkan lepas di berbagai suratkabar dan majalah, serta terjemahan karya Steinbeck dan Tolstoy. Menyusul pada tahun berikutnya tiga novel dan empat cerita pendek, di samping kritik dan esei tentang persoalan sastra, kebudayaan maupun masalah sosial yang lebih umum. Kemampuan mengetik cepat – 280 karakter per menit – yang dilatihnya selama menjadi juru ketik di Domei sungguh mengimbangi kecepatannya menyusun cerita.

Keith Foulcher menyusun makalah yang memukau tentang tulisan Pramoedya dari fase ini.(4) Ia mengkritik anggapan umum yang melihat Pramoedya bergeser dari seorang tokoh humanisme universal yang menulis karya sastra yang ‘baik’, menjadi seorang tokoh politik kebudayaan kiri yang sangar dan tidak lagi menulis sastra. Titik balik dalam karirnya, menurut anggapan umum ini, adalah cerpen ‘Sunjisenjap Disiang Hidup,’ yang merupakan ekspresi kekecewaannya melihat segala harapan sebagai manusia dan bangsa merdeka kandas. Sejalan dengan Foulcher, saya kira anggapan bahwa ada radical shift dalam perjalanan Pramoedya itu tidak benar. Kritiknya terhadap revolusi sudah bisa kita saksikan dalam novel pendek Krandji Bekasi Djatoeh yang terbit segera setelah ia keluar dari tentara. Dan bukankah ia keluar dari tentara juga karena kecewa melihat manipulasi, korupsi dan ketidakbecusan seperti antara lain diuraikannya dalam Ditepi Kali Bekasi? Lebih jauh ceritanya mengenai Jakarta, baik yang dimuat dalam Tjerita dari Djakarta maupun tidak, bukan hanya kritik terhadap penguasa dan pemimpin nasional, tapi juga masyarakat “yang telah berdamai dengan keadaannya, [dan] sudah tak memerlukan kreasi baru.”(5) Jika pun ada perbedaan maka letaknya pada ketajaman dan kedalaman kritik serta pilihan wadah untuk menuangkannya, yakni karya non-fiksi, khususnya studi sejarah.

Para Tokoh: Yang Terdampar dan Terkapar

Pramoedya memberi anak judul pada kumpulan Tjerita dari Djakarta, Kumpulan Karikatur Keadaan dan Manusianja. Pesan yang jelas: adalah keadaan yang membuat manusia mengalami segala yang diceritakannya. Hampir semua tokoh ceritanya adalah orang miskin di Jakarta, para jongos dan babu, pembantu dan orang ngenger yang mandi dan mencuci di halaman belakang, pekerja seks yang lelah terkapar di bangku beton taman kota setelah melayani lima lelaki, pejuang kapiran yang hidup menggelandang di kota, pemuda miskin yang bermimpi jadi penulis, kuli angkut di stasiun kereta. Hanya dalam ‘Njonja Dokterhewan Suharko’ tokoh utamanya adalah dokter hewan dan istri mudanya yang menggeliat mempertahankan privilese sebagai lapisan tengah di Jakarta yang berubah. Susunan seperti ini menarik karena memberi peluang untuk mendiskusikan unsur yang lama menghilang ditelan dalam postcolonial discourse tentang identitas, yakni kelas. Dalam ‘Djongos dan Babu’ soal kelas ini nampak jelas dalam kalimat pembukanya, “Sedjak Jan Pietersz. Coen turuntemurun keluarga itu memang berdarah hamba.”(6) Dan Pramoedya dengan memukau menunjukkan bagaimana pariahisasi masyarakat terjadi:

“Kalau bandjir telah surut, untuk sekian kali ia mengulangi kata-katanja sendiri jang selalu dihafal-hafalkannja, dan dihafalkannja kembali bila ia sedang tak bersenanghati, hitunglah, berapa banjak ikan terdampar dibeting-beting. Dan binatang2 itu tidak berdaja karena mereka tertjerai dari air. Dan aku – aku ini salah seekor diantara binatang2 itu.”

Banjir itu adalah perpindahan penduduk ke Jakarta yang masih selama dan setelah revolusi. Antara 1948 dan 1952 penduduk Jakarta bertambah dua kali lipat lebih dari 832.000 menjadi 1.782.000.(8) Orang dari pinggiran kota yang sempat mengungsi saat Jepang mendarat dan perang kemerdekaan berkecamuk kini kembali ke kota ditambah dengan ribuan orang yang kehilangan keluarga, tempat tinggal dan juga penghidupan di daerah asalnya. Menjelang penyerahan kedaulatan para pemimpin republik beserta seluruh aparat pemerintah pindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Bersama mereka turut pula rombongan pemuda, aktivis politik laskar, yang bercampur-baur dengan para petualang dan pencari untung. Di tengah formasi sosial yang belum menemukan bentuknya yang pasti mereka bergulat membentuk ruang hidup, tidak jarang dengan saling melumpuhkan dan menyingkirkan. Suharko dalam ‘Njonja Dokterhewan Suharko’ tidak lagi punya pelanggan setelah kemerdekaan karena kaum kolonial dan borjuasi nasional lebih senang memelihara manusia daripada binatang. Hanya karena ‘suatu kebetulan’ ia bisa mendapat kedudukan yang baik di kantor pemerintah. Mereka yang tidak beruntung menjadi ‘machluk daif yang tak mendapat tempat dimasjarakat merdeka jang dahulu mereka perdjuangkan.”(9) Dan berbeda dari bekas penguasa kolonial dan juga orang yang diuntungkan oleh sistem itu, para pendatang baru ini “namanja tak terdaftar dibuku-besar, dan menurut tjatatan resmi […] belum dilahirkan – belum pernah ada diatas tanah Djakarta.”(10)

Identitas ke-Indonesia-an adalah barang mewah. Hanya Idulfitri dan alterego-nya, Namun, yang terus bergulat memikirkan nasib sebagai bekas pejuang. Lainnya terlalu sibuk dengan kenyataan hidup sehari-hari. Bagi Inah dan Sobi, yang turun-temurun hidup dalam keluarga hamba solusi dari segala kesulitan adalah dengan menjadi Belanda. Sambil menunggu kedatangan tuan Belanda yang akan menjadikannya nyai, Inah sang babu berbicara sendiri,

“Engkau memang tjantik, bisiknja. Kemudian pipinja dirapatkan pada katja itu. Mengatja lagi. Berkata: Sebentar lagi engkau djadi Belanda. Aku toh bukan orang Betawi? Aku djuga bukan orang Indonesia. Emak dulu djuga bilang begitu. Malah waktu Djepang masih ada emak bilang kak Sobi dan aku paling sedikit sama mulianja dengan Djepang. Alangkah senang djadi Belanda.”(11)

Di Jakarta segregasi sosial masih berlanjut dan menjadi basis bagi tumbuhnya identitas non-Indonesia jika bukan anti-Indonesia di kalangan penduduk. Republik juga bukan tubuh politik yang solid dan terus diterjang gangguan selama dua puluh tahun ke depan sehingga tidak bisa menjadi tempat orang menggantungkan harapan sepenuhnya. Tapi tentu tidak semua orang bernasib malang. Dalam cerita yang agak berbeda, ‘Maman dan Dunianja,’ Pramoedya menghadirkan Maman seorang pembantu rumah tangga yang kemudian sukses sebagai pengusaha mainan dan akhirnya bisa memberi pekerjaan kepada bekas majikannya. Ada pula Nana dalam ‘Tanpa Kemudian’, pelayan Concordia yang “membaktikan tubuhnya kepada balatentara Dai Nippon,” dan kemudian dari waktu ke waktu mengikuti arus mencari kenyamanan. Terlepas dari perbedaan nasib mereka kemudian, semua tokoh ini bergulat dengan kenyataan Jakarta setelah revolusi. Dan juga Tuan Kariumun dalam ‘Biangkeladi’ yang terus berjaya sejak zaman kolonial bermodal manipulasi dan kemunafikan. Sungguh menarik jika diperhatikan bahwa di latar belakang cerita-cerita itu ada para pekerja kantoran, yang berangkat pagi dan kembali sore hari, menikmati hidup normal dengan pekerjaan tetap sebagai pegawai pemerintah atau kantor dagang. Tidak ada imagined community di sana. “[D]ulu kita badjingan untuk kepentingan negara dan tjita-tjita, sekarang kita badjingan untuk kepentingan diri sendiri.”(12)

Dalam berbagai kesempatan Pramoedya menamai para tokohnya sebagai ‘gelandangan’, yang berasal dari kata ‘gelandang’, yang terus bergerak dan tidak pernah tetap di satu tempat. Berbeda dengan sangkaan selama ini bahwa gelandangan senantiasa merujuk pada orang yang tidak bekerja, tidak punya rumah dan jorok, Suparlan mengungkap bahwa gelandangan di Jakarta sebenarnya bekerja di siang hari sebagai pedagang atau penjaja makanan dan malam hari akan berkeliaran di kota menempati pelataran yang kosong, gerbong kereta atau kolong jembatan.(13) Hal yang menentukan seseorang sebagai gelandangan bukanlah tampilan fisik atau perilaku sosial tapi tindak bergelandangnya di kota. Namun, alterego dari Idulfitri dalam ‘Ikan-Ikan jang Terdampar,’ menyebut keadaan diri mereka sebagai ‘bergelandangan’. Hal pokok dalam hidup bergelandangan atau sebagai gelandangan adalah mencari makan dan uang. Dalam hampir semua cerita para tokohnya merenungi hidup mereka dalam kaitannya dengan makanan dan uang. Kisah Aminah dalam ‘Berita dari Kebajoran’ sungguh mengiris. Sebagai perempuan yang menjelang tua ia terus terseret arus ke bawah dan hidup tidak jauh dari binatang, sebagai tubuh yang terdampar di taman kota. Setelah tidak bisa lagi menjual tubuhnya yang dikoyak penyakit, “ia bekerdja dengan mulutnja, dengan lidahnja dan dengan sedikit dari giginja.” Dan,

“Sedjak itu ia merasa bahwa apa jang dinamai kehormatan tidak ada samasekali didalam tubuhnja jang telah hantjur itu. Tjita-tjitanya untuk meluruskan djalannja sendiri kini telah padam. Ah, asal sadja ada orang bisa memberinja barang seringgit sehari ia sanggup mengerdjakan segala-galanja jang sebanding dengan tenaga dan kebiasaannja.”(14)

Menjadi gelandangan bukanlah pilihan. Berulangkali Aminah dan para tokoh dalam cerita-cerita lain merenungi hidup yang lebih baik dan mengutuki perjalanan hidup yang (terpaksa) mereka tempuh. Termasuk di dalamnya para seniman, seperti Pramoedya sendiri, yang terdampar di kota untuk hidup sebagai juruketik, pegawai administrasi, guru sekolah atau pengangguran, yang tidak jarang hidup bergelandangan juga. Di Jakarta salah satu pusat pertemuan gelandangan, penjahat kecil, pekerja seks, bekas pejuang dan seniman adalah taman di dekat Pasar Senen.(15) Dari kalangan ini juga kita melihat bahwa hidup bergelandangan tidak senantiasa dianggap buruk atau rendah, dan bahwa para gelandangan hanya bisa menatap pusat kekuasaan dari pinggir. Banyak seniman dan penulis dekat dengan pemimpin nasional dan berpengaruh besar dalam membentuk diskursus publik, dan dengan begitu memberi sumbangan pula bagi pembentukan identitas nasional. Mereka tidak hanya mengamati dan menulis renungan dari pinggir tapi menjadi bagian dari pergulatan sosial yang akan dijabarkan lebih lanjut di bawah ini.

Pergulatan Membentuk Ruang Hidup

Sejarah Jakarta adalah sejarah segregasi. Penguasa kolonial membangun benteng, dan kemudian pusat perdagangan, administrasi dan pemukiman di pusat kota, yang dikelilingi oleh kampung tempat tinggal orang pribumi. Pola ini pertama digariskan oleh VOC pada abad ketujuhbelas saat membangun Batavia dan terus bertahan sampai abad keduapuluh dengan sedikit modifikasi.(16) Di masa akhir kekuasaan kolonial walau tidak ada pembatasan secara formal segregasi jelas dirasakan. Adalah penguasa militer Jepang yang kemudian mematahkan pengaturan ruang semacam ini. Perubahan secara fisik dilakukan dengan merubuhkan patung pendiri Batavia Jan Pieterzoon Coen yang sekaligus menjadi simbol kekuasaan kolonial Belanda. Belasan ribu orang Belanda yang tidak ikut mengungsi bersama pemerintah disekap di kamp-kamp tawanan yang tersebar di seluruh Jakarta, membuat daerah pemukiman orang Eropa seperti Menteng kosong melompong. Kemiskinan akut dan kekurangan pangan membuat orang pribumi bergelandangan di seluruh kota. Batas yang semula membelah kota dan memelihara segregasi selama tiga ratus tahun pun runtuh. Ketika Jepang menyerah tidak ada mekanisme yang efektif untuk menghentikan arus hilir-mudik ini. Seorang perempuan Belanda yang baru lepas dari kamp tawanan Jepang mengeluhkan keadaan ini,

“Our Queen of the East, our glorious Batavia, can now properly be called Jakarta. It has become an Eastern town, disorderly, filthy, dusty, full of natives and stinking beggars, emaciated with hunger, half-naked due to lack of clothes, etc. The roads are full of holes… You find pasars (markets) everywhere on the street.”(17)

Penguasa kolonial tetap menguasai perdagangan dan daerah pelabuhan sementara produksi makanan di sekeliling Jakarta dikuasai republik. Perdagangan di antara keduanya terjadi dengan pelanggaran yang dilakukan kedua belah pihak. Proses ekonomi semakin rumit dengan konflik militer dan politik – sekalipun Jakarta dianggap sebagai zona bebas pertempuran – seperti tercermin antara lain dari konflik di sekitar penggunaan mata uang.(18) Tidak ada aturan resmi yang melarang orang bepergian atau menetapkan batas yang jelas, sehingga ruang dibentuk dan diatur melulu dengan kekuatan fisik dan simbolik. Pramoedya mencatat bagaimana sebuah keluarga Indo-Eropa ditumpas oleh pemuda di dekat Kramat Sentiong saat ingin mengambil kembali rumah mereka yang ditinggalkan saat mendekam dalam tawanan Jepang. Mekanisme hukum tidak berfungsi untuk mengatasi perselisihan yang kerap timbul. Dalam ‘Rumah’, tuan tanah Arab mengeluh soal perkaranya yang diputus di pengadilan,

“Pengadilan! orang Arab itu berseru djidjik. Pengadilan! Pengadilan! Bagaimana pengadilan! Perkara sudah dua kali putus! Dua kali putus! Tjuma disini ada perkara jang dua kali putus! Orang jang tinggali rumah itu mesti pergi. Tapi siapa mesti usir itu orang?!”(19)

Dalam suasana ketidakpastian kampung-kampung mulai kembali disesaki penduduk. Jakarta pada awal 1950-an kembali menjadi ibukota dan pusat perdagangan. Produksi masih jauh dari normal tapi tidak menghalangi orang untuk membanjiri kota dengan harapan bisa meraih kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks inilah penduduk kota kemudian bergulat membentuk ruang hidup dalam ketegangan ini. Para tokoh dalam cerita-cerita Pramoedya banyak berasal dari kalangan tenaga kerja berlebih (surplus labour) ini, yang tidak dapat diserap oleh jaringan produksi dan perdagangan yang masih kurus akibat perang. Sebagian bergerak hilir-mudik dengan sebelah kaki di daerah pedesaan, yang bergerak ke kota setelah musim tanam dan kembali saat panen tiba. Tapi bagi Aminah dalam ‘Berita dari Kebajoran’, kota bukan lagi tempat singgah, “tak ubahnja dengan Arabia untuk orang Islam atau Palestina untuk orang Kristen.” Ia tidak bisa lagi pulang [ke kampungnya di Kebayoran] karena tak ada lagi djembatan jang tersedia. Djembatan jang satu-satunja itu sudah lama hancur. Dihantjurkan oleh ketakutannja.”(20) Di Jakarta ia bergelandangan di tempat-tempat yang aman dari pengawasan petugas.

“Mula2 ia dan golongannja punya daerah didepan istana presis. Tapi lampu2 terang dipasang orang disepandjang djalan jang meretas-retas kegelapan taman depan istana itu. Dan lampu2 itulah jang mengusirnja dengan golongannja kesebelah kanan lagi: tak lebih dari duaratus limapuluh meter. Tak lebih duaratus lima-meter dari pagar istana.”(21)

Di sebuah taman dekat istana itulah Aminah bersama golongannya menguasai taman, tidur di rerumputan atau bangku taman kota. Cahaya lampu kota, gedung tua peninggalan kolonial dan seluruh landscape yang terlihat memukau dalam album foto tua, tidak punya banyak arti bagi mereka yang menghidupinya. Pengamatan terhadap hidup di kota dan segala kelengkapannya didorong oleh keperluan akan uang, makan dan terkadang hasrat seksual. Seperti Idulfitri yang ‘hidupnja merupakan tritunggal, merupakan mesin jang berputar pada tiga inden: makan, uang dan perempuan.(22) Tentu urutan ketiganya tidak dapat dibolak-balik. Dalam cerita ia dan alterego-nya berdiri termangu di depan poster film yang memperlihatkan paha telanjang seorang bintang film. Tapi, “[g]ambar2 paha telandjang dan tjium-tjiuman ini tidak ada gunanja bagi orang lapar.”(23) Sama halnya bangunan dan karya arsitektur hanya menarik dari segi fungsi. Para tokoh menggunakan dan memanipulasi ruang untuk kepentingan mereka, seperti menyulap pojok taman menjadi rumah sementara dan bangku taman sebagai tempat tidur dan melepas hasrat seksual. Orang tidak bergelandangan demi kesenangan tapi kebutuhan bertahan hidup.

Kemelaratan menciptakan jarak dan ruang sosial. Aminah yang kabur dari rumahnya di Kebayoran karena suaminya ketagihan judi, tumbuh kontras dengan Chatidjah, adik perempuannya yang memilih tinggal dan akhirnya menikah dengan bekas suami Aminah. Keduanya bertemu setelah lam berpisah. Tapi perbedaan membuat keduanya tidak mungkin dipertemukan. Aminah sendiri sudah menjadi gelandangan di taman kota yang bahkan terputus dari pacu kehidupan modern di kota. Saat melihat Chatidjah melintas ia lari ke jalan mengejarnya.

“Didepannja radio dari reparasi radio mendengung-dengung. Bukan dunianja! Ia tak dapat memperhatikan musik dansa itu. mobil menderuderam didjalanan depannja. Bukan dunianja! Pegawai2 masuk kantor dengan pakaiannja jang teratur rapi. Bukan dunianja! Hanja Chatidjah sebagian dari dunianja.

Chatidjah sudah besar sekarang. Dadanja sudah berisi. Ja, kelihatan dari permainan tjaja pada tubuhnja. Chatidjah sudah dewasa. Dan dadanja telah berisi. Kesedihan menjerangnja tiba2. kulitnja sendiri telah terlampau longgar untuk tubuhnja. Dan ia tak punja djalan kembali kedunianja sendiri. Kampungnja kini seakan telah pindah kesorga – Kebajoran itu! dan keluarganja jang dahulu ikut pula pindah kesorga.”(24)

Di tengah pergulatan sosial yang nyata identitas dibentuk. Aminah, seperti Sobi dan Inah, mungkin tidak pernah berpikir tentang Indonesia, orang merdeka yang baru bebas dari penjajahan Belanda. Batas-batas etnik juga sepertinya lenyap dari Jakarta yang digambarkan Pramoedya, kecuali pada tuan tanah Arab dalam ‘Rumah’. Lapar, derita dan serba kekurangan adalah bahan dasar untuk pemahaman-diri dan pembedaan-diri dari orang dan kelompok lain. Identitas dibentuk ketika para tokoh bergentayangan dalam ruang sosial dan berusaha memaknai perjalanan mereka. Retorika nasionalis mengenai ‘warga negara merdeka’ yang sarat dengan beban normatif dan punya konotasi etis ini biasanya absen dalam proses tersebut. Orang mengidentifikasi diri bukan berdasarkan hak-hak konstitusional yang menggariskan hidup mereka seharusnya seperti apa, tapi oleh klasifikasi yang digunakan penguasa untuk mengatur ruang gerak mereka.(25) Bagai ikan yang terdampar di beting, mereka kepayahan mencari napas di alam berbeda, walau geliat badannya kadang masih mengandung gerak berlawan.

Waktu Kolonial, Waktu Merdeka

Bagi mereka yang terlibat langsung dalam konflik politik dan militer antara Indonesia dan Belanda, tahun-tahun setelah proklamasi sampai penyerahan kedaulatan mungkin adalah yang terpanjang dalam hidup mereka. Pramoedya bersama adiknya, Koesalah Toer, menyusun seri Kronik Revolusi yang terdiri atas lima jilid dengan tebal masing-masing melebihi lima ratus halaman. Di Belanda, sejarawan de Jonge menyusun karya akbar tentang sejarah Belanda semasa perang dengan jilid 11 yang terdiri atas lima buku mengenai Indonesia.(26) Pemerintah republik yang baru merdeka dan lawannya menghasilkan arsip yang mencapai puluhan meter kadang dengan catatan rinci tentang menit-menit yang menentukan, tapi bagi Sobi dan Inah, jongos dan babu sejati, “waktu beredar dengan tjepatnja.”(27) Perjalanan sejarah yang panjang dan rumit dari zaman Jan Pieterzoon Coen sampai Belanda angkat kaki, dari sudut pandang keluarga Sobi dan Inah, amat sederhana. Kejadian politik hanya ditandai datang-perginya penguasa, yang bagi Inah lebih khusus lagi berarti datang-perginya orang yang menindih tubuhnya. Setiap zaman baginya membawa kepekaan tersendiri, termasuk bau. Inah yang semula tak peduli dengan bau tubuh orang Belanda, ketika Jepang datang tiba-tiba bisa merasakan apaknya. Setelah Jepang kalah dan mereka kembali memihak kepada Belanda, perasaan itu berganti lagi. Begitu halnya para pengungsi dalam novel Ditepi Kali Bekasi hanya berharap agar perang lekas usai dan keadaan kembali ke ‘normal’. Keadaan itu dicapai dengan kembali diterimanya kekuasaan asing yang menjadi persyaratan damai dalam Konperensi Meja Bundar. Setelah kekacauan tempat dan waktu sekitar tujuh tahun keadaan perlahan kembali normal, dan “[b]unji tembakan sudah tak terdengar lagi. Jang meribut tiap hari: distribusi! Orang sudah djemu berteriak sambil mengepalkan tindju. Djuga mereka jang dulu menamai dirinya pelopor.”(28)

Kembalinya modal membantu menggerakkan dan mempercepat sirkulasi modal. Di pusat perdagangan, administrasi pemerintahan dan pemukiman “kaum penggendut-perut-sendiri”, waktu-modal (capital-time) yang berkuasa. Setiap pagi jalanan penuh dengan kendaraan yang membawa para pegawai dan pekerja ke tempat kerja masing-masing, di mana mereka menghabiskan waktu delapan jam atau lebih. Mereka yang tidak bekerja dan sekadar bergantung pada para pegawai dan pekerja, juga terpengaruh. Hubungan darah dan pertemanan tak banyak artinya karena uang adalah kekuatan abstrak yang menguasai hubungan manusia yang nyata. Idulfitri pun harus menyesuaikan waktu makan dengan jam kerja sahabatnya. Dikatakannya,

“Kawan2 sedang kerdja sekarang. Tak ada seorangpun jang dapat kauharapkan diwaktu sedjahanam ini! Lebih baik kita duduk2 disini barang tiga djam, Namun achirnja mengusulkan. Tapi kala dilihatnja Idulfitri tak sudi mendengarkan dan terus berdjalan, buru-buru ia mengikutinja.

Kedua pemuda jang merasa sebagai ikan, jang terdampar dibeting setelah bandjir surut itu, kini membelok kekiri. Dan gedung kantortilpun menggarang disamping kiri mereka. Sebentar mereka memandangi djam jang terpasang disamping depan.

Kawanmu si Ida kerdja disitu, bukan? Namun menuduh.

Sedjak dia bunting tiga bulan, lakinja melarang kerdja, Idulfitri mematikan harapan Namun. Kemudian: Aku ingat si Mansur sekarang. Aku dengar dia sudah kerdja. Kalau betul tudjuh djam lagi kita bisa makan.”(29)

Waktu juga membentuk ruang hidup. Para gelandangan dalam cerita Pramoedya memang tidak bekerja mengikuti disiplin waktu modal tapi tetap terpengaruh olehnya. Suara bising kendaraan yang membawa para pekerja dan pegawai pulang sore hari juga menjadi penanda waktu bagi mereka.

“Matahari kian lama kian menegak dan kemudian menjondong kebarat. Tambah lama tambah kebarat. Djam lima tepat djalan Gambir Selatan penuh dengan iring-iringan mobil pulang dari kantor. Klaskon meraung-raung tak henti-hentinja. Dan kedua sahabat itu terbangunlah.

Mula2 mereka mengotjok mata masing2. Kebiasaan mengembara membuat mereka mengerti, hati telah djam lima sore.”(30)

Begitu pula peluit kereta dan kepala stasiun mengisyaratkan datangnya kereta pagi tanda gelandangan bersiap angkat kaki dari peron kereta dan menyingkir ke tempat gelap dan waktu bagi para kuli untuk berebut kerja. Lampu jalan dekat istana menjadi penanda dimulainya kehidupan malam di taman kota, menghabiskan sebagian upah yang susah payah diperoleh lewat kerja pada siang harinya. Pada awal 1950-an zaman normal tegak kembali meninggalkan mereka yang sudah terlanjur biasa – dan mengambil keuntungan dari – zaman kacau. Kalangan elite memacu diri mengejar lambang-lambang modernitas, seperti Kiki, istri muda Suharko dalam ‘Njonja Dokterhewan Suharko’, yang selalu terlibat konflik dengan suaminya untuk menata ruang maupun waktu. Segera setelah mereka menikah Kiki mengganti semua perabotan tua di rumah mereka.

“Dalam waktu jang tidak lama Kiki telah robah rumahtangga beserta suasananja sekaligus mendjadi ‘modern’ sebagaimana ia dan golongannja menamainja. Ia susun kembali letak perabot-perabot menurut petundjuk daripada madjalah2 wanita jang terbaharu. Mula2 pendule, jang tiap malam membuatnja mendjadi pening, karena chajal-chajalnja selalu diganggunja, didjualnja, digantinja dengan djammedja dari model terbaharu.”(31)

Dan dalam beberapa minggu saja, “kian lama daerah kenangan2 Suharko kian terdesak. Tiap tindakan Kiki menjebabkan dunia kenang-kenangannja ikut terkutung.”(32) Suharko adalah representasi orde lama yang digerus oleh istrinya sendiri sebagai representasi orde baru. Kendali waktu yang dipegang oleh istrinya membuat Suharko cepat menjadi tua, tidak berdaya dan mengalah. Sampai akhirnya ia terdesak dan bangkit melawan serta mengklaim kembali ruang hidupnya. Ia meminta istri mudanya itu mengembalikan semua perabotan yang dibeli oleh istri pertamanya “jang membawakan suasana petani.”(33) Idenitas dengan begitu juga dibangun dalam hubungan individu serta kelompok dengan waktu. Para gelandangan yang beredar di luar jangkauan waktu-modal dinista sebagai menghalangi kemajuan dan tidak menjadi kekuatan yang menentukan pembentukan identitas di masa kemudian. Partai politik dan organisasi massa yang berusaha menjangkau rakyat jelata lebih banyak berbicara untuk kepentingan mereka daripada meletakkan landasan politiknya pada geliat kehidupan mereka. Justru para pengarang dan seniman yang sejak awal, mungkin karena persinggungannya dengan kaum gelandangan di berbagai tempat seperti Pasar Senen, menaruh simpati dan menjadikannya tokoh utama dalam cerita dan karya mereka.(34)

Keterpukauan pada modernitas dan teknologi melengkapi pemaksaan waktu-kapital dalam kehidupan sosial. Keterbukaan dan kesempatan yang muncul di kala banjir menyapu beting sungai tertutup kembali seiring surutnya arus ‘zaman kacau’. Kaum lapar yang sempat mendapat gelanggang di masa pendudukan Jepang dan revolusi, sebagai tentara, aktivis politik dan petualang, sebagian ikut arus naik, sebagian lain terdampar di beting. Idulfitri menyadari kelemahannya mengikuti gerak zaman yang begitu cepat,

“Tapi kita berdua kaum lapar jang belum mendapat gelanggang. Djuga belum pernah mentjoba memasuki gelanggang. Belum lagi membentuk kaum. Achirnja lambat2 dan murung Idulfitri meneruskan: Kita terlampau lambat, kita ketinggalan djaman. Seharusnya sedjak dulu2 kita telah mulai membuat kaum.

Itupun tidak bisa, Namun menjela. Jang dulu2 sekarang telah terlandjur mampus.

Ja.”(35)

… dan Kuasa Uang

Dalam kapitalisme uang berperan penting menata kehidupan sosial, terutama di daerah perkotaan di mana uang “menjadi alat ukur abstrak dan universal dari kemakmuran sosial, dan alat ekspresi konkret dari kekuatan sosial.”(36) Tidak adanya produksi makanan atau barang yang memenuhi kebutuhan dasar membuat hubungan sosial yang kompleks direduksi ke dalam hubungan uang, dengan upah, harga, sewa dan transaksi lainnya. Dalam cerita-cerita Pramoedya kepemilikan uang atau sebaliknya ketiadaan uang juga berperang penting dalam membentuk pemikiran dan mengarahkan tindakan (dan juga merumuskan identitas) para tokohnya. Mereka bekerja resmi atau tidak resmi untuk mendapatkan uang, berkelahi atas sewa dan harga rumah, memperebutkan bidang tanah yang punya harga jual tinggi, dan bahkan melanggar hukum dan mengorganisir seluruh kehidupan mereka di sekitar usaha mencari uang. Dalam ‘Ikan-ikan jang Terdampar’ seluruh kejadian berputar di sekitar lapar dan usaha mencari makan dan uang guna membeli makan. Identitas ditawar, dimanipulasi dan dibentuk sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Di masyarakat yang tengah kepayahan mengatasi akibat krisis dan perang berkepanjangan, hidup direduksi:

“Sesederhana ini: orang lapar, makan, kenjang dan buangair. Antara lapar dan buangair terletaklah hidup manusia ini. Dan hidup jang baru itu berdjalan pula dari lapar sampai buangair. Hidup jang lainpun menjusullah. Tak habis-habisnja sampai dunia bedjat. Dan tak ada satu kepalapun merasa bosan. Kalau dia bosan, dia bunuhdiri.”(37)

Dalam proses mencari makan dan buang air orang hidup menyendiri. Pramoedya dengan cermat menangkap rontoknya solidaritas dalam masyarakat justru ketika euphoria nasion baru tengah pasang. Dalam Ditepi Kali Bekasi ia menyoroti korupsi para pejuang dalam mengelola logistik tentara, bukan sebagai bentuk kriminalitas tapi bentuk merosotnya komitmen pada cita-cita bersama dan hasrat ‘cari enak sendiri.’ Dalam kumpulan Tjerita dari Djakarta ia menggambarkan pepatah Jakarta yang terkenal: lu lu, gua gua! Orang tercerai dari ikatan lamanya, Aminah dengan Chatidjah dalam ‘Berita dari Kebajoran’, jongos-babu Belanda dengan sesamanya dalam ‘Djongos dan Babu’, kuli angkut di stasiun dengan sesamanya dalam ‘Gambir’, dan dikuasai oleh kategori abstrak yang dibentuk oleh uang: pegawai kantoran, orang yang hidupnya teratur mengikuti logika akumulasi modal, pedagang dan pengusaha. Dalam kasus Aminah, ia tercerai bahkan dari tubuhnya sendiri,

“Tak atjuh ia terbangun dan membiarkan dingin malam meraba matakakinja. Kemudian dingin itu naik keatas lagi: betis. Naik lagi: paha. Naik lagi: hampir keperut. Dalam mengimpi iapun tahu: saat demikian adalah saat Diman datang. Dalam tidurpun ia tahu landjutannja: benda berat jang hangat menekan sekudjur tubuh. Tapi ia tak atjuh. Diam sadja, dengan mata terpedjam, tubuh tidak bergerak. Ia sudah demikian lelah, tidak bertenaga lagi. Geraknja hanja untuk lelaki jang berani membajarnja. Paling tinggi: seringgit! Lebih dari itu adalah keluarbiasaan, kemurahan. Dengan tak atjuh pula ia dengar disela mimpinja tubuh berat itu menggelepak djatuh disampingnja disusul oleh keluh dan nafas terengah-engah. Kemudian malam melandjutkan tugasnja: kosong dari segala perasaan.” (TDD: 49)

Geliat individu yang direkam oleh Pramoedya ini dalam kenyataan ditelan oleh latar belakang cerita-cerita itu: masa sesudah revolusi saat disiplin dan tatanan lama kembali berkuasa, saat para elite baru, “secara perlahan mengambil tempat penguasa lama, dan tidak ada pertanyaan mendasar yang dikemukakan mengenai asas tatanan sosial yang baru.”(38) Aminah mati mengenaskan, begitu pun nasib Idulfitri tak ada juntrungan. Hasan dalam ‘Gambir’, setelah nekat membunuh jagoan yang mengganggu keluarganya dengan pistol yang disewanya dari seorang polisi, “untuk selama-lamanja ia akan mendjadi machluk malam. Kadang2 dengan pestol dan kadang2 dengan pisau ia mentjari penghidupannja.”(39) Inah dan Sobi menjalani hidup yang sederhana, antara makan dan buang air, sementara Kariumun dalam ‘Biangkeladi’ “lebih suka bersinggasana diatas dunia resmi, dunia njata, dunia popular – karena inilah baginja djalan jang paling selamat dunia dan achirat.”(4) Sampai di sini Pramoedya tidak menyediakan alternatif lain bagi para tokohnya, yang mungkin mencerminkan kemuraman sosial dan dirinya yang mengkristal dalam ‘Sunjisenjap disiang Hidup’, yang ditulis 1956. Ketegangan sosial yang hebat dalam semua ceritanya tidak pernah meledak tapi seperti merapuh ke dalam (implode) dan menghancurkan para tokohnya.

Kesimpulan

Identitas ke-Indonesia-an dibentuk oleh proses sosial yang rumit dan makalah ini coba menguraikan dua aspek penting dalam pembentukan identitas, yakni produksi ruang dan pengaturan waktu. Cerita-cerita Pramoedya yang dibahas di sini berbicara tentang bagaimana spaces of hope yang terbentuk dalam zaman kacau (1942-49) berakhir dengan kegagalan bukan hanya untuk mencapai mimpi Indonesia merdeka, tapi juga pembentukan identitas ‘orang Indonesia’ sebagai subyek yang merdeka. Tanpa kenal ampun Jakarta menggerus kaum jelata yang sempat menang gelanggang, menjadi mahluk daif yang terkoyak tubuhnya, terasing dari satu sama lain, menjadi ikan yang terdampar dan terkapar di beting kota. Lebih penting lagi potret dari ikan-ikan yang terdampar yang dalam dunia cerita sesungguhnya hidup bertetangga di taman kota, stasiun dan kampung kumuh, gagal menjadi kekuatan sosial ntuk mengubah keadaan. Namun keliru jika karya Pramoedya dari periode ini dilihat semata sebagai ratapan atas “kemerdekaan yang sia-sia.”(41) Ceritanya yang berakhir dengan muram dan nasib para tokohnya sungguh mengenaskan justru membuat retorika ‘Indonesia merdeka’ lebih berpijak pada bumi dan mengingatkan orang bahwa identitas ke-Indonesia-an tidak dibentuk oleh retorika semata tapi praktek sosial dalam kehidupan nyata.

Hilmar Farid, 2010

*Disampaikan pada Konferensi Internasional ‘Kemerdekaan dan Perubahan Jati Diri: Postcolonial Indonesian Identity,’ di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 14-15 Januari 2010.

  1. Robert Alter, Imagined Cities: Urban Experience and the Language of the Novel. New Haven and London: Yale University Press, 2005, hlm. x-xi
  2. Diterbitkan pertama kali dalam Mimbar Indonesia, 30 (6), 1951, hlm. 20, 21 dan 26.
  3. Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, II, Jakarta: Lentera, 1997, hlm. 178. Selanjutnya disebut NSSB II.
  4. Keith Foulcher, “On a Roll: Pramoedya and the Postcolonial Transition,” Indonesian Studies Working Paper No. 4, January 2008.
  5. NSSB II, hlm. 178.
  6. Pramoedya Ananta Toer, Tjerita dari Djakarta: Sekumpulan Karikatur Keadaan dan Manusianja, Djakarta: Penerbit Grafica, hlm. 7. Selanjutnya disebut TDD.
  7. TDD, hlm. 22. Cerita ini sedianya merupakan bagian dari novel Limaratus Meter dari Istana yang tidak pernah selesai ditulis oleh Pramoedya. Diterbitkan pertama kali sebagai ‘Idulfitri Mendapat Ilham,’ dalam majalah Indonesia, 6 (2), 1951, hlm. 17-29.
  8. Susan Abeyasekere, Jakarta: A History, Singapore: Oxford University Press, 1987, p. 171.
  9. TDD, hlm. 22.
  10.  TDD, hlm. 47.
  11.  TDD, hlm. 17.
  12.  TDD, hlm. 26.
  13. Parsudi Suparlan, “The Gelandangan of Jakarta: Politics Among the Poorest People in the Capital of Indonesia,” Indonesia, No. 18, October 1974, hlm. 41-52.
  14. TDD, hlm. 57.
  15. Pada 1950-an seniman yang berkumpul di taman ini disebut dan menyebut diri ‘seniman Senen’ yang terkenal dengan gaya bohemian dan vrijdenken-nya. Pramoedya adalah angkatan kemudian yang banyak bergaul dengan kelompok ini walau tidak pernah menjadi bagian darinya. Kehidupan di tempat ini digambarkan dengan baik oleh Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban di Pasar Senen, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.
  16. Susan Abeyasekere, Jakarta: A History, Singapore: Oxford University Press, 1987.
  17.  Dikutip dalam Abeyasekere, 1987, hlm. 142.
  18.  Pramoedya membahas masalah ini dalam ‘Gado-Gado’ sebuah cerita panjang yang ditulisnya dalam penjara Bukitduri pada April 1949 dan diterbitkan pertama kali dalam kumpulan Pertjikan Revolusi, Djakarta: Gapura, 1950.  Lihat juga artikel dari Robert Cribb, “Political Dimensions of the Currency Question 1945-1947,” Indonesia, No. 31, April 1981, hlm. 113-136.
  19.  TDD, hlm. 63.
  20.  TDD, hlm. 47.
  21.  TDD, hlm. 47
  22.  TDD, hlm. 21.
  23.  TDD, hlm. 23
  24.  TDD, hlm. 50.
  25.  Partha Chatterjee, “Community in the East,” Economic and Political Weekly, 7 February 1998, hlm. 279.
  26.  Karya ini berjudul Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog dan terdiri atas empatbelas jilid (dengan duapuluh sembilan buku), yang diterbitkan oleh pemerintah sejak 1969.
  27.  TDD, hlm. 9.
  28.  TDD, hlm. 11.
  29.  TDD, hlm. 32.
  30.  TDD, hlm. 39
  31.  TDD, hlm. 93.
  32.  TDD, hlm. 94.
  33.  TDD, hlm. 95.
  34.  A. Teeuw mengatakan “ribuan cerita semacam itu [tentang orang melarat di pinggiran Jakarta] ditulis di Indonesia sehabis perang.” Lihat Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Jakarta: Pustaka Jaya, hlm. 183. Perkiraan ini saya kira berlebihan, mungkin untuk menekankan bahwa Pramoedya dalam hal ini tidak istimewa, tapi tidak dapat disangkal bahwa kemelaratan memang menjadi salah satu tema terpenting dari produksi sastra di masa itu.
  35.  TDD, hlm. 30.
  36.  David Harvey, The Urban Experience, Oxford: Basil Blackwell, 1999, hlm. 168
  37.  TDD, hlm. 18.
  38.  Abeyasekere, 1987, h. 151
  39.  TDD, hlm. 196.
  40.  TDD, hlm. 162.
  41.  Teeuw, 1996, hlm. 183 dst.