“Dari Ayah saya belajar segala yang berurusan dengan pengetahuan, mulai dari bahasa sampai cara berpikir. Dari Ibu saya menyerap soal-soal yang berkaitan dengan pandangan dan sikap hidup.”

Agak sulit membicarakan hubungan saya dengan orang tua dalam satu tarikan napas. Hubungan itu naik-turun dan melalui berbagai fase. Ayah saya Agus Setiadi, yang dikenal oleh anak Indonesia melalui karya terjemahannya seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif dan banyak lainnya. Ibu saya Els Lapian, seorang pekerja keras yang lama bekerja pada kedutaan Indonesia di Belanda dan Jerman, lalu setelah kembali ke Indonesia di Goethe-Institut, Jakarta. Saya lahir saat keduanya tinggal di Bonn, waktu itu ibukota Jerman Barat. Kami tiga bersaudara. Saya anak bungsu yang terpaut lima tahun dari abang tertua serta tiga tahun dari yang kedua. Jerman waktu itu bukan tempat yang ramah bagi keluarga perantauan alias migran seperti kami. Rasisme sedang hangat karena krisis yang berkepanjangan dan orang Jerman menuding gastarbeiter (buruh tamu/migran) sebagai penyebab berkurangnya ruang mereka mencari nafkah. Orang tua kami kerja penuh-waktu di kota yang berbeda. Mereka berangkat pagi dan baru kembali sore hari, kadang menjelang malam. Sering kami ditinggal bertiga di rumah, dan setelah abang tertua sekolah di kota lain, bahkan hanya berdua. Tentu tidak begitu saja. Ayah atau Ibu akan memberitahu tetangga bahwa kami hanya bertiga atau berdua di rumah, tapi selebihnya, rumah menjadi ‘kerajaan’ kami. Dari kecil kami dibiasakan mandiri karena keadaan tidak memungkinkan keluarga untuk selalu berkumpul.

Tentu ada saja yang bisa terjadi jika anak-anak “berkuasa” di rumah. Pernah suatu saat saya dan abang yang kedua tiba lebih dulu di rumah. Kami tahu Ayah dan Ibu baru akan kembali beberapa jam kemudian, sementara abang tertua juga pulang sore karena bersekolah di kota lain. Kami menyelinap masuk ke kamar Ayah dan mencuri rokoknya. Batang demi batang kami nyalakan, kadang dua sekaligus, lantas bergaya-gaya di atas tempat tidur menirukan Ayah. Entah bara api dari rokok siapa yang terjatuh, tahu-tahu kasurnya terbakar. Kami panik dan berloncatan mencari air. Api tak sempat membesar tapi kami ketakutan setengah mati. Sambil menangis kami bersihkan kamar yang berantakan. Karena kami tinggal di flat, tidak ada tetangga yang mendengar. Ketika Ayah dan Ibu pulang tentu kami jadi sasaran amarah. Saya bisa rasakan kemarahan yang sangat sekaligus kesedihan atau penyesalan yang mendalam. Saya juga sangat menyesal. Walau tidak berhenti mencuri rokok, setidaknya kenakalan yang konyol seperti itu tak pernah terulang.

Sembilan

Waktu itu memang tidak ada kebiasaan menyewa tenaga pengasuh atau pembantu rumah tangga. Belum ada banjir pekerja migran dari Filipina dan Indonesia seperti sekarang. Jadi segala sesuatu harus dikerjakan sendiri dan karena orang tua kami tentu tidak mungkin mengerjakan semua hal, jadilah kami dibiasakan membantu mengurus rumah tangga sejak awal. Salah satu tugas favorit saya adalah membantu Ibu memasak. Menemani mungkin lebih tepat daripada membantu, karena tugas saya paling mengupas kentang atau wortel, atau mengayak tepung terigu. Selebihnya saya hanya menikmati sisa adonan kue yang menempel di sendok atau mencicipi saus pasta sebelum dihidangkan. Pengaruhnya tentu ada. Saya tidak berani mengklaim pandai memasak, tapi saya suka memasak dan mengurus dapur, termasuk membuat roti sendiri. Setelah lebih besar tentu tugas bertambah, tapi terutama berkaitan dengan rumah atau kerja domestik. Urusan ini saya agak cekatan apalagi karena kedua abang saya sering “mendelegasikan wewenang” alias mengalihkan tugas mereka ke pundak saya. Nasib anak bungsu!

Selama di Jerman kami hidup rapat dan akrab. Masih terekam dalam benak kami sekeluarga pergi ke kota, berbelanja, dan tentu saja, makan es krim! Setiap Ayah dan Ibu punya waktu luang dari kantor tentu selalu dihabiskan bersama kami. Dan kami menikmati setiap saatnya. Mungkin juga karena pergaulan di Jerman agak terbatas waktu itu. Ayah dan Ibu tidak punya banyak teman yang akrab sehingga kami jarang berkunjung ke rumah teman. Adik Ibu tinggal di Delft, Belanda, jadi kalau musim libur tiba hampir pasti kami berkunjung ke tempatnya. Selebihnya ada beberapa teman Ayah di kantor, orang Indonesia yang juga bekerja di Radio Deutsche Welle. Tapi saya tidak bisa mengingat satu pun teman kerja Ibu.

Keadaan ini mulai berubah ketika kami kembali ke Indonesia pada pertengahan 1976. Di sini kami berkenalan dengan ‘keluarga besar’ dan mulai sering bergaul dengan mereka. Empat bulan pertama kami sering menginap di rumah adik Ayah di Bakstraat, Jatinegara. Ini adalah lingkungan tempat Ayah dibesarkan pada awal 1950-an. Kami sering dibawa ke sana agar cepat belajar Bahasa Indonesia. Memang selama di Jerman kami hanya berbahasa Jerman. Bahasa Indonesia saya waktu itu tidak jauh dari ‘apa kabar’ dan ‘terima kasih’. Sampai tiga-empat tahun setelah kami kembali bahasa pertama di rumah tetaplah Jerman. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena kami sudah dijadwalkan mulai sekolah empat bulan setelah kembali. Karena itu Ayah mengambil jalan pintas untuk mengajar kami berbahasa Indonesia, yaitu dengan mencemplungkan kami dalam lingkungan yang hanya berbahasa Indonesia. Bakstraat adalah kampung yang khas Jakarta, yang saat itu masih dikenal dengan nama Belandanya. Di sini semua anak bicara dengan logat Jakarta yang kental. Kami tidak punya pilihan lain kecuali memaksa diri bicara. Awalnya kami sering jadi tontonan anak-anak sekampung, apalagi kalau marah sumpah-serampah berhamburan dalam Bahasa Jerman. Tapi strategi itu terbukti ampuh. Dalam waktu singkat kami lancar bicara Indonesia, dengan logat Jakarta pula, dan tahun kedua bersekolah nilai bahasa Indonesia saya sembilan!

Lumayan

Ketika beranjak remaja saya mulai punya dunia sendiri. Hubungan dengan orang tua pun mulai berjarak. Kegiatan saya berkisar pada bola basket, sepeda motor dan nongkrong. Sementara kedua abang saya sering membawa teman mereka ke rumah, maka saya lebih sering pergi ke rumah teman. Sejak SD saya sudah sering nglencer menginap di rumah teman dan saudara, atau ikut begadang dengan teman yang lebih tua. Setelah usia saya enam belas dan dapat SIM motor tiap malam minggu setelah makan saya langsung menghilang dan baru kembali esok harinya. Saya tidak banyak bicara dan sibuk dengan ‘dunia gaul’ saya sendiri. Selama SMA saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman di luar rumah. Setelah kuliah saya akhirnya betul-betul meninggalkan rumah dan tidak pernah tinggal bersama orang tua saya lagi. Tentu ini tidak berarti hubungan kami lantas merenggang atau memburuk. Saya kira ini hanya perwujudan sikap mandiri yang sejak awal memang ditanamkan.

fay musik
Hilmar Farid

Tapi ada perkembangan penting yang menentukan perjalanan saya. Selama SMA saya malas belajar dan bukan tipe anak cerdas yang pandai walau malas. Nilai saya tidak pernah jauh dari rata-rata. Kadang di atas tapi lebih sering di bawah. Suatu saat Ayah ikut mengawasi saya belajar untuk ujian akhir dan kaget karena ternyata begitu banyak hal yang saya tidak kuasai. Untuk pelajaran bahasa saya selalu lumayan. Olahraga, jangan tanya. Tapi pelajaran lain terutama matematika, memang buruk. Bahkan ada beberapa soal yang sangat elementer tidak bisa saya selesaikan. Ayah tidak marah tapi kelihatan kecewa. Mulai lagi saya berpikir tentang tanggung jawab. Kebetulan ada tukang bakso langganan yang saya anggap ‘guru kepekaan sosial’ saya yang pertama. Dia yang mengisi kegalauan saya dengan petuah tentang tanggung jawab terhadap orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan sementara banyak anak lain tidak bisa sekolah, tentang jangan menindas orang kecil, dan banyak lainnya. Dalam enam bulan sisa masa sekolah saya kejar pelajaran yang tertinggal, dan hasilnya lumayan. Tapi untuk langkah selanjutnya, ujian masuk universitas, saya gagal. Selama setahun saya ngendon di rumah.

Fase ini mengubah banyak hal dalam hidup saya. Ayah tetap tidak marah tapi malah sering mengajak saya bicara. Ia sempat bilang bahwa tidak semua orang harus masuk universitas. Ia memberikan bermacam kemungkinan mulai dari mengambil ketrampilan tata buku dan kerja kantoran sampai sekolah perminyakan untuk bekerja di pengeboran lepas pantai. Termasuk juga menawari saya menerjemahkan buku cerita anak-anak pesanan sebuah penerbit besar. Ayah tahu minat saya pada bahasa dan kemampuan saya mengetik rapi. Saya setuju dan mulai bekerja. Bukunya tidak terlalu tebal dan sanggup saya selesaikan dalam tiga minggu. Menurut Ayah hasilnya bagus dan saya diberi buku kedua. Selesai dalam seminggu. Dan mulailah saya mengikuti jejaknya bekerja sebagai penerjemah buku anak-anak dan menikmati ‘uang cepat’ (empat ratus ribu rupiah dalam waktu dua minggu, setara gaji guru senior!). Saya waktu itu tidak tahu ada tradisi memberi gaji pertama kepada orang tua, sehingga honor pertama yang saya terima pada usia delapan belas langsung amblas menjadi tape deck lengkap dengan amplifier dan speaker, serta koleksi musik rock.

Sekolah untuk sementara saya lupakan dan saya semakin tenggelam dalam dunia buku. Saya suka buku sejak kecil. Ketika kembali ke Indonesia seluruh waktu perjalanan saya isi dengan membaca dua buku Enid Blyton yang lumayan tebalnya. Saudara yang menyambut kami di airport terheran-heran melihat saya menenteng buku tebal. Kesukaan ini sempat terhenti beberapa tahun ketika energi akil balik menguasai saya dan membuat bola basket dan sepeda motor menjadi jauh lebih menarik daripada buku. Tapi kerja terjemahan itu membuat kesukaan saya bangkit lagi. Saya lahap membaca apa saja dan mulai mencari buku yang dirujuk dalam buku yang saya baca, sehingga daftarnya terus bertambah. Dimulai dari sastra, saya merambah ke buku ilmu sosial (abang saya yang kedua sudah kuliah di Jurusan Antropologi) dan filsafat. Sewaktu saya ‘diungsikan’ ke Bandung agar bisa belajar lebih tenang, saya makin tenggelam dalam bacaan yang lebih serius, dan Ayah menjadi teman diskusi yang baik. Ia tidak pernah tamat perguruan tinggi dan mengaku sebagai ‘generalis’ tapi kedalaman pengetahuannya di banyak bidang membuat seorang ‘spesialis’ kadang terpesona. Saat ujian penerimaan mahasiswa tiba kami diskusi panjang dan berkat anjurannya saya masuk ke Jurusan Ilmu Sejarah.

Izin Merokok

Untuk sebagian orang keluarga kami mungkin agak unik. Penerima nafkah tetap dalam keluarga bukan Ayah tetapi Ibu. Ayah sampai akhir hayatnya adalah tenaga profesional yang dibayar setiap kali pekerjaannya selesai. Ia bekerja di rumah dari pagi sampai sore dan hanya keluar kalau mengambil atau mengantar naskah, tiga puluh tahun sebelum konsep work from home jadi populer! Ibu sementara itu kerja kantoran di Goethe-Institut sampai pensiun. Karena lebih sering di rumah Ayah jadi ‘bapak rumah tangga’ dan ia tidak segan menyebut dirinya begitu. Jadi ‘peran ganda’ yang biasanya jatuh ke pundak perempuan dalam keluarga kami ada di pundak Ayah. “Saya ini feminis tanpa perlu banyak ribut,” katanya suatu ketika pada temannya yang ‘feminis betulan’ dari Jerman. Setelah dewasa saya sering berdiskusi dengan Ayah tentang bermacam hal dan takjub dengan keluasan dan kedalaman pengetahuannya. Tentu kadang ia ngawur juga tapi cukup berbesar hati mengakuinya kalau terbukti. Tapi yang mengesankan dari keadaan ini adalah pengertian bahwa bekerja itu tidak selalu berarti harus pergi ke kantor. Kesan ini rupanya cukup mendalam karena sampai hari ini kami bertiga menghabiskan sebagian besar usia produktif dengan bekerja di rumah juga.

Ibu dan Ayah sangat serius dan bangga dengan pekerjaan mereka. Ibu bekerja sebagai sekretaris di Goethe-Institut. Bukan tipe centil yang sibuk dengan cat kuku dan ngrumpi di telepon (walau Ibu juga suka keduanya), tapi yang betul cekatan mengurus banyak hal. Setiap ada direktur baru, yang pertama dicari adalah Ibu. Setiap kali mereka pergi, dan jika saya sempat bersalaman dengan mereka, pasti kata-kata pujian yang keluar. Dan saya kira mereka tulus. Ibu juga memperlakukan jabatannya dengan serius. Tidak pernah saya lihat ia ragu kalau ditanya. “Ich bin eine Sekretärin!” Ada nada gagah saat berkata. Ayah juga begitu. Ia penerjemah handal yang hasil karyanya banyak dikagumi orang, baik buku anak-anak seperti Lima Sekawan atau Pippi Langstrump maupun novel yang lebih serius. Tidak banyak penerjemah profesional waktu itu – dan mungkin sampai sekarang – dan Ayah adalah salah satunya. Kerja terjemahan sering dianggap sebagai side-job atau pengisi waktu luang tapi bagi Ayah tidak demikian. Menerjemahkan adalah profesi. Ia selalu kerja keras (kadang terlalu keras) dan bisa seharian berkutat memikirkan satu istilah saja. Ia sendiri lebih senang menyebut pekerjaannya ‘alih bahasa’ karena tugasnya membuat sebuah naskah dimengerti dalam Bahasa Indonesia tanpa kehilangan watak dan nuansa aslinya. Ia senang ketika suatu hari Sutan Takdir Alisjahbana muncul di surat kabar menyebut terjemahan sebagai karya seni. “Berarti kita ini seniman juga,” katanya. Saya ikut bangga, terutama karena dengan kata ‘kita’ saya dinobatkan setara dengannya.

Orang tua kami jarang main kuasa di rumah apalagi setelah kami remaja. Tentu ada hukuman kalau kenakalan kami sudah lewat batas, tapi itu jarang sekali terjadi. Boleh dibilang Ayah maupun Ibu sangat toleran terhadap kami. Banyak hal yang kami lakukan untuk orang tua lain sudah tergolong ‘nakal’ atau bahkan ‘kurang ajar’. Kalau saya pikir sekarang ada semacam hubungan timbal-balik di sini. Ayah dan Ibu memberi kepercayaan cukup besar dan kami menghormati kepercayaan itu. Kami tidak pernah terlibat pelanggaran hukum yang serius dan nakal juga dalam batas yang wajar saja. Soal narkotika dan minuman keras misalnya, Ayah selalu bilang: “Boleh coba agar tidak penasaran, tapi harus tahu apa akibatnya.” Sikap ini punya daya hadang yang efektif, tak satu dari kami pernah jadi pecandu apapun… kecuali rokok! Urusan rokok ini memang sulit. Ayah perokok berat dan Ibu walaupun menderita asma, di Jerman masih merokok sesekali. Awalnya kami juga diawasi dengan ketat, tapi saya kira lama-lama mereka menyadari bahwa larangan merokok di rumah hanya membuat kami lebih lama berkeliaran di luar rumah. Di rumah juga kami punya “smoking section” di atap! Akhirnya mereka menyerah. Saya dan abang yang kedua dapat ijin merokok di rumah hampir bersamaan, saat saya masih kelas 3 SMP.

Hilmar Farid Setiadi, Hendarto Setiadi dan Idham Bachtiar Setiadi
Hilmar Farid Setiadi, Hendarto Setiadi dan Idham Bachtiar Setiadi

Selalu Dibuka

Soal pengaruh terhadap saya, Ayah memang lebih dominan daripada Ibu. Salah satu alasannya tentu karena Ayah selalu di rumah saat kami beranjak remaja dan dewasa, tapi juga karena ia pandai bercerita dan sangat meyakinkan. Pernah seorang kenalan yang tinggal di Amerika suatu hari bertandang ke rumah. Tak lama Ayah sudah asyik bicara dengannya tentang kota San Francisco, tentang perempatan jalan, toko dan gedung, seolah keduanya sedang bernostalgia. “Berapa lama kamu tinggal di sana?” temannya bertanya. “Saya belum pernah ke sana,” jawab Ayah sambil senyum. Seluruh pengetahuannya ia himpun dari peta kota, tourist guide dan film yang dilihatnya di televisi. Ia bisa bicara sama baik dan rincinya tentang banyak kota lain di dunia dan juga menghidupkan kembali suasana Bandung saat ia kuliah di sana tengah 1950-an. Banyak teman kami bertiga yang terpesona dengan ceritanya dan akhirnya jadi teman akrab. Mereka akan mampir ke rumah walau kami tidak ada. Ada juga yang setelah Ayah tidak ada mengaku menemukan figur ayah-sahabat dalam dirinya. Walau kadang pegal telinga mendengarnya bicara terus saya kira mereka benar, ia ayah dan sahabat sekaligus.

Tapi sikap bersahabat dan ramah tidak membuatnya lemah atau kurang berwibawa. Sebaliknya ia bisa sangat zakelijk dan tegas. Ia tidak segan menyuruh tamunya atau teman kami pulang kalau ia perlu istirahat atau sedang tidak enak badan. Ia juga bisa marah dan bersuara keras. Konon waktu muda ia dikenal ‘bersumbu pendek’, cepat meledak kalau marah. Ia tidak segan mengutarakan pendapat berbeda, melawan arus dan berdebat. Saya ingat waktu kecil ada teman baik saya yang setiap kali mampir ke rumah selalu minta butterbrot dengan selai coklat. Ayah biasanya menampik. “Kenapa kamu tidak minta roti di rumahmu sendiri?” Dasar anak Jerman, teman ini lugas juga menjawab: “Roti kalian lebih enak!” Tapi tetap tidak diberi. Teman yang nekat ini akan muncul lagi esoknya dengan permintaan serupa dan tetap mendapat jawaban yang sama. Kejadian sebaliknya dialami Ibu dan saya ketika kami ke Jerman lagi saat saya sudah kuliah. Kami bermalam di rumah seorang kenalan. Anaknya masih kecil mungkin sekitar delapan tahun. Saat melihat Ibu mengoleskan selai cokelat ke roti, ia menyela setengah berteriak. “Hei, jangan dihabiskan!” Ibu dengan tenang lanjut mengoles. “Ah, itu masih banyak sisanya. Saya cuma minta sedikit.” Lalu kami berdua berpandangan dan tertawa karena mengingat teman yang permintaannya selalu ditolak itu.

Sikap lugas dan mandiri ini saya kira ditempa oleh perjalanan hidup mereka. Kakek saya dari pihak Ayah, yang kami panggil Eyang Soedarso, adalah dokter lulusan STOVIA. Setelah lulus pada 1931 ia terus berpindah-pindah tempat tugas dari Solo ke Selayar, tempat Ayah lahir pada 1935, lalu ke Surabaya, Semarang, dan akhirnya sampai di Pontianak. Eyang aktif dalam gerakan nasionalis dan ketika Jepang masuk ia bersama beberapa dokter lain dan tokoh intelektual setempat menjadi incaran Kenpeitai. Salah satu dari mereka, dr. Agusdjam, yang juga paman tiri dari Eyang, ditangkap dan dihukum mati di Pontianak. Eyang saat itu bertugas di Sanggau dan selamat karena dilindungi oleh penduduk setempat. Setelah proklamasi ia semakin aktif sampai akhirnya ditangkap tentara Belanda yang sudah kembali menguasai Kalimantan Barat. Eyang disekap di Penjara Sui Jawi dan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Seluruh keluarga pun menyusul dan tinggal di Bakstraat yang sudah saya sebut di atas. Pengalaman Ayah dalam periode ini pernah dituangkannya dalam novel kecil Anak Tiga Jaman. Eyang Putri meninggal waktu kami belum lahir dan hanya sedikit yang saya dengar tentangnya, antara lain bahwa ia berasal dari keluarga pangreh praja dari Semarang. Tapi Ayah sering bercerita ia dekat sekali dengan ibunya, dan menyesal bahwa ia meninggal saat Ayah belum lama tinggal di Jerman.

Ayah senang membaca sejak kecil dan punya perpustakaan sendiri. Tante saya, adik dari Ayah, cerita bahwa semuanya ia beli dengan uang yang dikumpulkannya sendiri. “Ia tidak pernah mau menyusahkan orang lain,” katanya. Mungkin keadaan serba terbatas ketika ayahnya dipenjara dan ibunya harus mengurus enam anak seorang diri, menempanya demikian. Di Jakarta ia bersekolah di ‘sekolah republik’, SMA Budi Utomo bagian B (ketika ilmu sosial dan humaniora masih dianggap serius oleh birokrasi dan disebut bagian A!). Selepas SMA ia sempat kuliah arsitektur di ITB tapi tidak selesai. Saat abangnya dapat beasiswa pampasan perang untuk kuliah di Jepang Ayah tidak mau kalah dan memilih pergi ke Jerman. Tanpa beasiswa. Ia mencari tumpangan di kapal barang yang menuju Eropa dan akhirnya diterima jadi tukang cuci geladak. Eyang tidak bisa berbuat banyak ketika Ayah memberitahu akan pergi, karena wataknya memang keras. Kalau sudah bertekad sulit digoyahkan. Di Jerman ia menumpang pada beberapa kenalan, mencari nafkah dengan kerja bangunan, sambil coba melanjutkan kuliah di Aachen. Kuliahnya terhenti ketika bertemu dan menikah dengan Ibu. Setelah berganti pekerjaan beberapa kali, termasuk menjadi tenaga honorer di kedutaan Indonesia, ia akhirnya berlabuh di Deutsche Welle, seksi siaran Bahasa Indonesia. Perjalanan liat dan panjang ini saya kira membentuk sikapnya yang ‘rada Eropa’, terutama tepat soal waktu dan janji, serta selalu berterus-terang. He wore his heart on his sleeves. Begitu juga Ibu.

Sebagian sikap itu saya kira menular pada kami, tapi pengaruh terbesar bagi saya adalah soal bahasa dan kerja dengan kata. Saya mulai belajar mengetik ketika belum genap sepuluh tahun ketika Ayah menghibahkan mesin tik tua ‘Präsident’ miliknya. Cukup sulit karena susunan tutsnya Jerman, dengan huruf Z dan Y yang terbalik dari mesin tik Amerika. Walau hanya membuat cerita ala kadarnya – dan puisi yang dimuat di majalah Bobo! – saya jadi biasa berurusan dengan kata. Dalam pergaulan di luar rumah saya bicara dengan bahasa dan logat Jakarta yang kental. Tapi di rumah ceritanya lain lagi. Ada aturan tak tertulis dalam berbahasa: tidak baku, tapi rapi. Ujaran jalanan yang kami bawa ke rumah biasanya cuma disambut dengan kernyit di dahi atau alis terangkat. Pernah suatu malam kami asyik bergurau di meja makan, ber-lu-gue dengan Ayah dan Ibu. Selesai makan, kami membereskan perabotan. Ayah tergelincir, dan spontan saya nyeletuk menyambung gurauan: “Lu gimana sih?” Ayah langsung berpaling dan bicara dalam Jerman: “Das war aber zu viel!” Santai boleh tapi tahu batas. Akrab, tapi jangan kurang ajar. Ayah juga sering membagi keheranannya akan keajaiban bahasa, seperti kata ‘salju’ dalam Bahasa Indonesia, yang mungkin berasal dari Bahasa Arab ‘thalj’, padahal di Indonesia dan Arab sama-sama tidak ada salju! Kalau sudah begini Ayah biasanya keluar dengan segala jenis teori dan spekulasi tentang mengapa orang Melayu dan Arab merasa perlu punya kata ‘salju’. Di kamar kerjanya ada beberapa kamus besar yang sudah lusuh dan Lexikothek Bertelsmann andalannya, yang selalu dibuka saban kali ia mengajak saya menyelami keasyikan mencari asal-usul kata.

Aachen

Ibu saya lain lagi. Saya paling rapat dengannya dan di antara tiga bersaudara selalu dibilang paling mirip juga. Ulang tahun kami terpaut sehari saja sampai Ayah menyebut saya ‘kado ulang tahun’ untuknya. Sampai remaja saya juga yang paling sering ikut ke kantornya atau nglencer belanja atau nongkrong di café. Ibu memang connoisseur tulen dan tahu jenis makanan apa ada di toko mana dan sebagainya. Ia rela naik bis kota dari rumah ke tengah kota hanya untuk menikmati secangkir kopi dan taartje. Ketika saya mulai sibuk dengan dunia sendiri tentu timbul jarak, tapi saya masih terus mampir ke kantornya sekadar ‘say hello’ sambil mengadahkan tangan minta tambahan uang jajan. Dan selalu diberi. Di rumah Ibu tidak banyak bicara, sebagian karena sakit asma senantiasa membuat napasnya sesak. Tapi tidak berarti Ibu hanya diam menonton. Saya tahu tidak ada keputusan penting menyangkut kami yang diambil tanpa persetujuannya. Di meja makan boleh saja Ayah mendominasi pembicaraan dan kami akan berbantahan dengannya kalau ada yang tidak disetujui. Tapi sekali Ibu bersuara, kami biasanya turut. Kami tahu Ibu keras, sekali bilang ‘tidak’ artinya memang tidak. Dan tahu juga ia tidak akan bicara kalau tidak perlu sekali. Sementara Ayah yang tidak tegaan selalu berusaha menjelaskan keputusannya, Ibu biasanya cuma bilang ‘tidak’ lantas lanjut mengibas sesak dari dadanya sambil melihat ke arah lain. Diskusi selesai.

Keluarga Ibu lain sekali dari keluarga Ayah. Orang tuanya dari Minahasa tapi lama tinggal di Jawa. Opa Ferdi, begitu kami memanggilnya dulu, dari keluarga Minahasa nasionalis. Ia adik dari Bernard Lapian, yang ikut memimpin pemberontakan KNIL di Manado, Februari 1946 dan kemudian menjadi residen Manado pertama setelah kemerdekaan. Minahasa termasuk wilayah yang paling cepat menikmati pendidikan Barat, tapi secara ekonomi tidak begitu berkembang. Akibatnya ada sejumlah besar orang terdidik tapi tanpa pekerjaan yang seimbang dengan pengetahuannya. Banyak dari mereka yang kemudian memilih pergi ke Jawa, termasuk Opa. Ia tamatan HIS dan mengambil kursus pembukuan tapi tidak punya pekerjaan. Di Jakarta ia dapat pekerjaan yang baik, hidup berkecukupan dan memutuskan untuk menikah dengan Oma yang sepuluh tahun lebih muda. Setelah menikah mereka pindah ke Bandung. Opa dapat pekerjaan lebih baik lagi di Nederlands Handels Maatschappij yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Factorij’. Karena ingin menyekolahkan anaknya ke Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus untuk anak-anak Eropa, Ibu dan adik-adiknya terlebih dulu mendapat status gelijkgesteld. Walau secara hukum diakui sama seperti orang Eropa, status itu tidak membuat hidupnya lebih mudah karena secara sosial masih ada saja diskriminasi dan perlakuan buruk. Dalam beberapa hal mungkin malah lebih buruk.

Ibu lahir tahun 1932, tiga tahun lebih dulu dari Ayah. Penguasa kolonial baru saja menegakkan rust en orde dan memangkas gerakan nasionalis radikal. Banyak orang Eropa sudah merasakan Hindia Belanda sebagai tempat tinggal mereka. Bagi mereka orang pribumi di desa yang praktis tidak terlihat dalam lingkungan mereka bukanlah ancaman. Apalagi di Bandung! Kalangan yang dianggap paling mengancam segregasi rasial justru kaum gelijkgesteld seperti Ibu. Dan ini sangat dirasakan. Adik Ibu bercerita bagaimana di sekolah mereka tetap diperlakukan berbeda dan kadang dengan kasar. Tapi Opa dan Oma keras perkara begini dan selalu menyuruh Ibu dan adik-adiknya melawan. “Jangan pernah kalian tunduk dan anggap diri lebih rendah dari mereka,” kata Oma selalu. Di Eropa saya sendiri jadi saksi bagaimana Ibu memegang teguh petuah ini. Ia tidak segan berkelahi mulut dengan orang Eropa yang menyela antrean, berlaku tidak sopan, bicara kasar, atau dianggapnya curang. Eropa tidak setoleran sekarang dan rasisme masih nyata. Tapi tidak pernah saya lihat minderwaardigheit dalam sikap dan perilakunya. Tidak pernah saya dengar ia mengeluh jadi orang asing yang dilecehkan. Dulu di Jerman tentu saya anggap itu perkara biasa, karena banyak teman migran kami juga begitu. Tapi setelah dewasa dan tahu sejarah hubungan kolonial, saya kira sikap Ibu ini istimewa.

Ibu dari kecil berbahasa Belanda di rumah dan menjadi bagian dari kelas menengah atas. Tongkrongannya juga ‘borjuis’ betul. Tempat jajan favoritnya Maison Bogerijen (sekarang Braga Permai), untuk menikmati kopi, coklat dan kue Belanda. Kesukaan ini dibawanya sampai tua. Pakaiannya dan dandanan selalu dijaga. Tidak mahal apalagi menor, tapi selalu baik. Setelah dari ELS yang sempat terhenti karena pendudukan Jepang ia melanjutkan ke sekolah dagang Belanda di Gang Batu, Jakarta. Sekitar 1953 ia sudah berangkat ke Belanda untuk mencari kerja. Di sana ia sempat mengambil kursus sekretaris dan mulai bekerja di bagian kebudayaan dari Komisariat Agung RI (belum ada kedutaan waktu itu) di Den Haag. Tugasnya antara lain membawa misi kebudayaan – yang disebut ‘perintis budaya’ – ke banyak negara Eropa. Akhir 1950-an ia pindah ke Jerman karena dapat tawaran kerja lebih baik, masih di lingkungan kedutaan. Di sinilah ia bertemu dengan Ayah yang saat itu masih kuliah di Aachen.

Merdeka

Setelah dewasa dan mulai berurusan dengan berbagai gerakan sosial saya bertemu dan membentuk ‘keluarga’ yang lain, dengan orang-orang yang saya hormati dan cintai seperti orang tua saya sendiri. Pengaruh mereka tidak kecil tentunya tapi tidak ada yang menggantikan kedudukan Ayah dan Ibu yang bersama saya dalam tahun-tahun pembentukan diri yang genting. Saya tidak akan menjadi diri yang sekarang tanpa mereka. Dari Ayah saya belajar segala yang berurusan dengan pengetahuan, mulai dari bahasa sampai cara berpikir. Dari Ibu saya menyerap soal-soal yang berkaitan dengan pandangan dan sikap hidup. Dalam banyak hal Ibu lebih zakelijk dari Ayah. Tidak ada unggah-ungguh. Tidak berlagak ramah tapi kalau berkawan sangat setia. Ketika meninggal temannya berdatangan membentuk barisan pengantar yang panjang. Wajah-wajah mereka saya kenal dari kecil dan ada yang saya lihat dalam album foto waktu Ibu muda dan bahkan belum menikah. Teman Ayah lebih banyak karena ia ramah dan senang ngobrol dengan siapa saja. Ketika meninggal ia pun diantar barisan panjang yang disesaki para sahabat, tua dan muda, termasuk teman-teman kami bertiga yang kadang juga menjadi teman Ayah dan Ibu sekaligus. Pengaruh dari mereka yang paling kuat mewujud di masa sekarang adalah pemikiran yang bebas dan sikap mandiri. Ayah dan Ibu tidak pernah menjadi penganut paham atau agama yang fanatik. Mereka berpikir sendiri dan tidak pernah ragu berpendapat. Jalan hidup yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain ditempuh sendiri tanpa ada yang mengatur dan tanpa menyusahkan siapapun. Manusia merdeka sepenuhnya.

Hilmar Farid, 2011

Tulisan ini pernah dimuat di buku Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua (Gramedia 2011), editor Baskara T. Wardaya.