Gie adalah sosok penuh kontradiksi. Ia serius, banyak baca buku, senang diskusi dan debat tentang segala hal mulai dari politik sampai film serius seperti Dita Sáxova-nya Antonín Moskalyk. Tapi ia juga betah nongkrong di asrama mahasiswa, ‘ngomong jorok’ dan nonton blue film yang tak berjudul. Awal 1966 ia jadi man of action, turun ke jalan menuntut Soekarno mundur. Kekuasaan berpindah tangan dan Gie tak menunggu lama untuk menyerang pemerintah baru yang menggantikan. Ia gencar mengkritik PKI tapi juga jadi orang pertama yang memprotes pembunuhan massal terhadap anggota dan pendukung partai itu. Ia ikut dalam sel gerakan bawah tanah yang dipimpin tokoh Partai Sosiais Indonesia (PSI) Soemitro Djojohadikusumo tapi menyebut para pemimpin partai itu ‘sosialis salon’. Ia dengan ringan keluar-masuk markas militer saat aktif di KAMI tapi juga sering bikin panas kuping para perwira karena kritiknya terhadap militerisme. Lantas bagaimana kita memahami himpunan kontradiksi ini?

Di sini saya kira film Gie karya Riri Riza adalah sumbangan berharga. Waktu Gie baru beredar banyak orang ragu. Ada yang menilai film itu kehilangan momentum karena baru beredar waktu gelombang protes mahasiswa sudah surut dan reformasi jelas tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ada yang bilang Gie gagal mengangkat Gie karena jalan ceritanya membingungkan, casting tidak pas, dan macam-macam lagi. Saya bisa mengerti kalau ada orang kecewa. Gie itu tokoh ideal, jadi mereka yang pernah baca Catatan Seorang Demonstran, yang jadi bahan dasar film itu, tentunya punya harapan segunung. Sayangnya review yang semestinya membuat penonton atau calon penonton mengerti malah jadi ajang pamer pengetahuan (dan kadang ketidaktahuan) tentang film dan sejarah. Bagi saya Gie adalah sebuah pernyataan mengenai sejarah, bukan cuma film dengan latar sejarah. Karena itu arti pentingnya bukan pada seberapa jauh dan tepat ia menghadirkan kembali masa lalu, tapi pada apa yang dilakukannya terhadap kesadaran kita mengenai masa lalu.

Mereka yang lahir dan tumbuh di masa Orde Baru tentu ingat film Pengkhianatan G-30-S/PKI karya Arifin C. Noer. Entah berapa kali saya nonton film itu. Di sekolah, bioskop dan juga di televisi. Film itu memang istimewa. Tidak sedikit teman, saudara dan orang yang saya kenal awalnya menganggap film itu bukan rekaan tapi rekaman kejadian nyata. Pengaruhnya juga tidak kecil. Kebiasaan orang menyebut ‘G-30-S/PKI’ dan bukan ‘G-30-S’ saya kira juga karena film ini. Sekalipun tahu bahwa narasi dominan yang menjadi sumber istilah itu tidak dapat dipercaya, istilahnya tetap dipakai. Penggambaran Gerwani dan Pemuda Rakyat berseragam menyanyi dan menari sambil menyiksa para jenderal dengan silet sulit hilang dari ingatan, sekalipun dari visum et repertum para jenderal kita tahu bahwa itu tidak pernah terjadi.

Film ini menjajah kesadaran kolektif, menguasai the unconscious. Gambar kekejaman di Lubang Buaya itu melekat sedemikian rupa sampai kita tidak lagi ingat dari mana datangnya dan menjadi sesuatu yang self-generated yang bisa muncul setiap saat tanpa diminta. Pengkhianatan menjadi signifier yang dipakai sebagai patokan untuk memahami semua signifier lain. Pernah seorang teman semasa sekolah mengomentari pembunuhan yang dilakukan seorang kepala sekolah terhadap istrinya. Tubuh istrinya dipotong-potong lalu dimasukkan ke dalam kotak kardus dan digeletakkan di pinggir jalan. “Ini hanya mungkin terjadi di negara komunis!” katanya. Pengkhianatan menjadi patokan untuk memahami semua perbuatan yang mengerikan, dan membuat kesadaran sejarah terkurung. Dalam konteks ini Gie membuka jalan untuk keluar dari keadaan ini, lepas dari penjara Pengkhianatan dan membuka berbagai kemungkinan melihat sejarah.

Coba kita lihat tokoh Han (yang diperankan Christian Audi dan Thomas Nawilis), sahabat Gie sejak remaja. Keduanya sempat berpisah lama dan saat bertemu kembali sudah tumbuh dewasa. Gie jadi aktivis mahasiswa yang mengkritik Soekarno dengan tulisan, sementara Han jadi anggota PKI yang sibuk merekrut anggota di kalangan miskin. Dalam paradigma Orde Baru keduanya adalah representasi kekuatan yang bertentangan dan tidak mungkin bertemu, tapi dalam Gie mereka masih bisa duduk dan bicara. Bahkan ketika aktivis PKI mulai dikejar dan dihabisi, Gie berusaha menyelamatkan Han. Hubungan seperti ini tidak ada dalam Pengkhianatan. Tentu saja dalam kenyataan ada pendukung Orde Baru yang ikut menyelamatkan teman atau saudara mereka seperti Gie. Tapi kenyataan itu tidak bisa diangkat apalagi dirayakan karena akan menabrak narasi Orde Baru yang hitam-putih.

Lebih jauh Han tidak pernah digambarkan sangar seperti anggota Pemuda Rakyat yang digambarkan berbaris menyanyi Darah Rakjat dalam Pengkhianatan. Ia adalah pemuda miskin yang numpang pada tantenya yang pemarah, dan harus kerja keras untuk menyambung hidup. Saat bertemu kembali ia tetap hangat seperti semula. “Menurut gue, ini revolusi, Gie!” katanya tanpa ragu-ragu dan mengajak Gie masuk PKI. Tapi Gie menjawab bahwa Han tidak paham permainan politik tingkat atas dan malah memintanya keluar dari partai. Han menyela, “Gie denger gue sebentar. Lu mestinya inget dan ngerti kenapa gue pengen hidup gue berubah. Kenapa gue pengen hidup layak. Dan seperti lu, gue juga ngerasa gue punya tugas supaya rakyat kita yang miskin bisa hidup layak. Ini akan tercapai, Gie.” Hok Gie masih berusaha meyakinkan Han, tanpa hasil. Tapi Gie tidak membenci Han karena itu dan begitu juga sebaliknya.

Gie bukan komunis. Itu pasti. Ia percaya propaganda militer bahwa G-30-S didalangi PKI dan juga ikut memakai istilah Gestapu/PKI dalam tulisan-tulisannya. Istilah itu diciptakan Brigjen Sugandhi sebagai bentuk psychological warfare dengan menyamakan G-30-S dengan polisi rahasia Jerman, Gestapo. Dan Gie tentu tahu bahwa asosiasi itu mengingkari kenyataan dan kelaziman berbahasa. Dengan kata lain ia terlibat dalam perang secara sadar. Seperti ribuan mahasiswa saat itu ia percaya Soekarno dan PKI harus dikalahkan untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman komunis.

“Kalau mahasiswa-ABRI dapat mereka kalahkan maka di tanah air akan lahir Barisan Soekarno, yang kemudian akan diisi oleh fungsionaris-fungsionaris PKI-ASU dan kawan-kawan. UI akan dibubarkan (kemudian disusul Unpad, ITB dan IPB). Kemudian Jakarta akan berdiri Universitas Bung Karno, dengan Achmadi sebagai rektornya. Setelah itu akan terjadi pembersihan besar-besaran. Guru besar seperti Prof. Dr. Imam Slamet Santoso akan ‘dicomot’, dan kemudian diikuti rekan-rekannya yang lebih muda seperti Nugroho, Fuad Hasan, Widjojo dan lain-lainnya. Setelah itu mahasiswa-mahasiswa seperti: Marsilam Simanjuntak, Liem Bian Koen, Firdaus dan kaum ‘ekstremis’ akan ditendang dari bangku kuliah.” (Zaman Peralihan: 117).

Tapi ia membaca Marx dan Lenin, mungkin lebih banyak dari mahasiswa kiri di masa itu. Sewaktu SMA ia memprotes pelarangan Harian Rakjat dan Indonesia Raja atas nama kebebasan berbicara. “Mereka yang berani menyerang koruptor-koruptor, mereka semua ditahan…” katanya, sebelum dipotong oleh gurunya (Mulyohadi Purnomo). Berbeda dengan intelektual dan politisi anti-komunis yang memainkan peran mereka dalam ‘perang dingin yang panas’ dengan setia, ia menolak intervensi Amerika di Vietnam dan mendukung penarikan pasukan Amerika dari sana. Seperti mahasiswa progresif-kiri di Amerika dan Eropa ia juga terinspirasi oleh perjuangan rakyat Vietnam. Ia memprotes perlakuan terhadap tahanan PKI dan keluarga mereka yang diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa, dan menjadi orang pertama yang menulis tentang pembunuhan massal di Bali. Karena tulisan ini ia mulai dapat masalah. Ia hampir ditabrak mobil dan pengemudinya melempar gulungan kertas yang bertuliskan Tjina + PKI = Mati. Gie mendatangi Soenarto (Ella Gayo), pemimpin sel bawah tanah yang dekat dengan militer, dan marah-marah menuduh militer berada di belakang serangan ini. Soenarto hanya meminta Gie agar hati-hati bicara. Tanda bahwa tuduhan Gie tidak ditampiknya.

Dalam salah satu tulisannya ia menyesali perlakuan terhadap Prof Soekirno, guru besar FKUI dan ketua HSI yang meninggal di tahanan karena tidak mendapat bantuan medis. Pemakamannya dihadiri banyak orang. “Persahabatan dan rasa hormat dari murid-muridnya terhadap profesor tua ini, lebih besar dari prasangka-prasangka dan slogan-slogan anti-komunis yang telah ditanamkan di tanah air kita.” (Zaman Peralihan: 171). Banyak yang kemudian menganggapnya kiri karena sikap semacam itu, sementara Gie sendiri hanya ingin bicara kebenaran dan melawan ketololan Perang Dingin yang kejam.

Gie tidak sendirian. Dalam soal kritik terhadap rezim Orde Baru ia sehaluan dengan Arief Budiman, abangnya yang kemudian melanjutkan studi ke Universitas Harvard, menulis disertasi tentang pemerintahan Salvador Allende yang kiri di Chile, dan secara terbuka mengumumkan dirinya sebagai Marxis. Gie, seperti juga Arief, memang menyempal dari logika Perang Dingin dan ‘politik aliran’ yang biasa dipakai para ahli untuk membingkai sejarah politik Indonesia. Dan ia juga tidak selalu sejalan dengan kawan-kawannya dalam organisasi. Dalam Gie ia diperlihatkan bergabung dengan gerakan bawah tanah anti-Soekarno yang dipimpin Soemitro Djojohadikusumo, tokoh PSI. Gie direkrut Ben (Ayez Kassar), yang memperkenalkan diri sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis. Gie diperkenalkan kepada anggota sel bawah tanah yang lain, Roeli (Agastya Kandou) dan Yossy (Wyan Sonatha), dan bersama mereka menerbitkan kritiknya dalam bentuk selebaran. Tapi keterlibatan itu tidak membuatnya memegang ‘garis partai’ seperti layaknya kader yang setia. Justru kritiknya terhadap kelompok ini teramat tajam.

“Dari grup mereka ini (sisa-sisa PSI) sudah terlalu senang dan terpandang, borjuis, sehingga mereka menjadi pengecut. Sosialisme bagi mereka adalah slogan-slogan dan lip service saja. ‘Musuh kami adalah kemiskinan dan kebodohan’ adalah slogan yang paling kosong yang pernah mereka dengungkan. Itulah sebabnya PSI telah kalah dan tidak disenangi rakyat.” (Catatan Seorang Demonstran: 158)

Ia juga mengkritik gerakan PRRI, yang antara lain melibatkan para petinggi PSI dan membuat partai ini kemudian dilarang oleh Soekarno. Ia menaruh simpati pada orang yang berjuang “demi cita-cita yang murni.” Tapi pada saat bersamaan mengecam keras para pemimpin yang menggunakan uang perjuangan untuk foya-foya di Hongkong dan Singapura (Zaman: 80). Ia juga tidak bisa menerima ideologi anti-Jawa yang kental di kalangan ini.

“Dan pemimpin-pemimpin yang berani bicara tentang imperialis Jawa sebenarnya bajingan murahan. Jadi kaum intelektual yang menyerang ‘rezim Sukarno dengan kedok Jawa’, bagiku sama dan bahkan lebih jahat dari garong-garong istana sendiri. Kekecewaan seperti ini yang aku jumpai di PRRI. Bagiku sungguh menggembirakan bahwa PRRI mati, karena mereka adalah racun dengan konsepsi anti Jawanya.” (Catatan Seorang Demonstran: 145)

Gie sering disebut sebagai idealisasi sosok Gie dan gerakan mahasiswa di masa itu. Saya kira tidak. Jika dihadapkan pada narasi dari tokoh mahasiswa dari masa itu seperti Yozar Anwar, Sulastomo atau Nurcholish Madjid, sosok Gie agak berbeda. Mereka sama-sama berani, militan dan tidak kenal lelah dalam berjuang. Tapi kalau para tokoh ini sepertinya selalu tahu harus berbuat apa, Gie dalam Gie seringkali bimbang, ragu dan sering merenung. Adegan paling mengesankan adalah saat mahasiswa kocar-kacir karena diserang tentara, Gie hanya berdiri setengah mematung menyaksikan semua itu sebelum perlahan mundur dan menghilang dari pandangan. Ia bukan pemuda pemberani di Lapangan Tiananmen yang menghadang panser dengan tas plastiknya. Bukan juga tipe laskar mahasiswa yang menenteng pistol pinjaman ke mana-mana (walau pernah dipinjami juga).

Gerakan mahasiswa sendiri jauh dari ideal. Masa mahasiswa di film itu penuh dengan pertentangan dan bahkan perkelahian di antara mahasiswa sendiri. Gie sendiri sempat dihardik Jaka (Doni Alamsyah) yang menganggapnya tidak tegas dan cuma sibuk nonton film dan naik gunung. Saat ada demonstrasi di depan kampus UI Salemba, Gie membawa Roeli dan Yossy. Dengan enteng Gie meminta Herman (Lukman Sardi) yang ketua senat untuk memberi identitas kepada dua temannya itu. Adegan kecil yang mengkonfirmasi adanya non-mahasiswa dan non-pelajar dalam barisan KAMI dan KAPPI. Dalam Catatan Seorang Demonstran, Gie sendiri mengakui keberadaan preman yang direkrut dari sekitar Salemba dalam barisan mereka.

Berulangkali ia menyebut peran gerakan mahasiswa seperti koboi kota, pejuang kesepian yang turun gunung untuk mengusir kekuatan jahat, lalu kembali mengembara dalam sepi. Saat membaca baris-baris itu dalam bukunya saya teringat pada lukisan Sudjojono Maka Lahirlah Angkatan ’66, seorang pelajar dengan topi KAPPI memegang kuas dengan tangan kanan dan kaleng cat dengan tangan satunya, berdiri kaku di tengah dengan kaki dan kepala melampaui frame. Di latar belakang terlihat gedung dan tembok yang dipenuhi coret-coretan menentang Soekarno. Pelajar itu memakai jaket yang dibuka kancingnya dan dari pinggangnya menyembul pistol, seperti koboi dalam film yang mungkin baru semalam ditontonnya. Di sisi kanan lukisan seorang ibu berjalan melawan arah seperti tidak ada hubungannya dengan apapun yang dilakukan oleh pelajar itu. Padahal dalam narasi dominan perjuangan mahasiswa dan pelajar ini justru untuk membela rakyat seperti ibu itu. Sudjojono menangkap kontradiksi ini dengan baik, sama halnya seperti Gie memperlihatkan arak-arakan mahasiswa melewati penduduk yang sepertinya sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

Dalam adegan lain terlihat Gie makan es di bawah pohon. Ibunya (Tutie Kirana) kebetulan lewat, menghampiri. Dari pembicaraan dengan Arief (Gino Korompis) di kampus kita tahu bahwa Gie sudah lama tidak pulang. Tapi saat bertemu, ibunya hanya bilang, “Gie, kamu kotor sekali. Bau lagi.” Tidak ada sambutan meriah seperti layaknya pahlawan yang pulang bertempur. Sungguh kontras dengan pasukan RPKAD yang dielu-elukan orang di pinggir jalan dalam Pengkhianatan.

Hal lain yang menarik adalah image militer dan hubungan antara militer dengan mahasiswa. Dalam narasi dominan militer digambarkan sebagai penyelamat republik dengan menumpas ‘oknum’ yang memberontak. Gie sebaliknya mengakui ada perpecahan antara mereka yang mendukung Soekarno dan PKI dengan mereka yang menentang. Dan itu juga terjadi di tubuh militer. Saat bertemu kembali dengan Han itu juga yang dikatakannya. Selama ini hubungan militer dengan mahasiswa digambarkan sebagai ‘partnership’ dan Pengkhianatan menghadirkan hubungan itu dengan gambar mahasiswa menaiki panser militer berpawai keliling kota. Dalam Gie militer baru belakangan muncul di layar dan itu pun dengan cara yang aneh pula.

Saat itu G-30-S baru terjadi dan Gie berusaha mencari keterangan dari teman-temannya di gerakan bawah tanah. Tapi setiba di rumah tempat mereka biasa kumpul, seorang yang tak dikenalnya membuka pintu. Soenarto, yang bertubuh besar, lebih tua, dan kelihatan percaya diri, menjelaskan bahwa ia kini menggantikan Ben yang sudah dipindahkan ke sel lain. Kesan misterius begitu kuat. Gie hanya berdiri mematung sementara Soenarto sibuk mencari kunci mobil. Ia kemudian mengajak Gie, Roeli dan Yossy naik mobil. Dalam perjalanan ketiganya hanya diam dan Soenarto pun tak merasa perlu menjelaskan tujuan mereka. Sesampai di tujuan yang rupanya markas militer, prajurit penjaga langsung mengenali Soenarto, memberi hormat dengan memanggilnya ‘mas’ dan mempersilakannya masuk. Tentu tidak semua orang sipil di masa itu bisa masuk ke markas militer membawa orang yang tidak dikenal tanpa pemeriksaan, kecuali yang bersangkutan punya hubungan khusus atau malah bekerja di sana.

Adegan selanjutnya lebih menarik lagi. Soenarto membawa ketiganya masuk ke markas itu dan memperkenalkan mereka kepada Wiyono (Tio Djarot). Soenarto dan Wiyono masuk ke ruangan sementara ketiganya berpandangan tanda tidak tahu kenapa dan untuk apa mereka berada di sana. Musik Thoersi Argeswara mengalun pelan menguasai latar suara. Setelah duduk dan mulai bicara, Soenarto berjalan ke arah pintu lalu menutupnya. Ruangan itu kini tertutup dari dunia luar dan kita bisa melihat Wiyono bicara. Dari peta yang digambari anak panah kita tahu bahwa Wiyono sedang menjelaskan sebuah rencana. Tapi penonton tetap tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan karena musik terus mengalun. Gie dan kedua temannya diam mendengarkan. Soenarto tampak antusias, sesekali tersenyum sambil mengangguk-angguk. Di akhir adegan Gie menelan ludah, lalu kita melihatnya termenung sendirian di dalam bis.

Ini jelas bukan representasi yang gemilang dari ‘partnership’ antara militer dan mahasiswa yang dirayakan dalam narasi Orde Baru. Segalanya terasa misterius dan begitu kontras dengan rapat dan debat mahasiswa di kampus yang selalu terbuka dan bisa didengar semua orang.

Dalam sebuah tulisannya Gie menjelaskan partnership ini dengan lugas. Ia mengatakan aksi-aksi mahasiswa sejak awal mendapat dukungan militer yang tidak berani muncul secara terbuka karena ingin menghindari perpecahan di tubuh mereka sendiri. Dengan menampilkan mahasiswa mereka bisa mengelak dari tuduhan melawan Soekarno, dan tidak perlu berhadapan langsung dengan pasukan yang masih setia kepadanya. Strategi itu juga akan memberi wajah simpatik kepada militer bahwa mereka tidak mengejar kekuasaan semata. Singkatnya, “universitas sebagai pusat ilmu memberikan wajah yang manis pada Pemerintah AD sejak tahun 1966 … yang terjadi adalah kerjasama yang saling menguntungkan. Kasarnya saling tunggang-menunggangi.” (Zaman: 58-59).

Begitulah, Gie mengikuti hidup Gie yang penuh kontradiksi. Sementara Pengkhianatan melihat sejarah sebagai garis lurus, Gie melihatnya sebagai mosaik yang rumit. Sejarah tidak dibelah garis tegas yang membatasi ‘sini’ dan ‘sana’. Gie tidak mungkin mencampakkan Han, sahabatnya sejak kecil, dan memeluk Wiyono atau Soenarto yang baru dikenalnya sebagai gantinya. Gie menyediakan ruang bagi kebimbangan dan ketidakpastian, wilayah abu-abu, yang tidak mungkin ada dalam dunia kontras hitam-putih yang digambarkan Pengkhianatan dan narasi Orde Baru. Sebagai hiburan Gie boleh jadi tidak berhasil dan membuat penonton gamang setelah dua jam disuguhi kumpulan narasi yang sepertinya tidak koheren. Sebaliknya Pengkhianatan oleh para pengkritiknya pun disebut sebagai film yang berhasil. Bagi saya tidak jadi soal kalau Gie tidak menghibur tetapi mengajak berpikir, daripada sebaliknya menghibur tapi membuai dalam sesat pikir.

Kegamangan dan ketidakpastian tidak membuat kisah Gie dalam Gie menjadi tidak jelas. Ia tetap pemikir-aktivis yang kesepian. Keluarganya sendiri, kecuali abangnya, tidak tahu banyak tentang apa yang dikerjakannya. Ibunya bahkan menggugat, “kadang Mama berfikir untuk apa kamu lakukan semua ini?” Hanya ada seorang anak muda yang selalu menyapanya di jalan. Bagi yang lain, Gie orang biasa. Dalam sebuah adegan terlihat Gie pulang ke rumah malam hari. Sebuah barikade dipasang merintangi jalan yang dijaga orang kampung. Melihat Gie mereka datang berkerumun. “Mau ke mana?” Ia menjawab baru pulang dari rumah dosen. Salah seorang yang mencegat dan berkalung sarung menyuruhnya pulang. “Daripada nanti disangka komunis, bisa dibunuh orang kamu.”

Gie jelas bukan bagian dari pemenang. Tidak seperti Jaka yang sudah ‘sukses’ naik mobil, berbaju safari, berjalan di koridor gedung DPR. Segera saja ia sadar bahwa korupsi, kebobrokan moral dan kesewenangan terus berlanjut, dan kini melibatkan mereka yang pernah berjuang bersamanya menentang semua itu. Segera ia kehilangan teman karena mencoba konsisten. Soemitro yang dulu memimpin jaringan bawah tanah diangkat jadi Menteri Perdagangan dalam kabinet Soeharto yang pertama. Rumah tempatnya berkumpul kelihatan lama tidak didatangi. Roeli dan Yossy juga seperti kehilangan semangat dan hanya duduk menunggu. “Kita lihat saja nanti,” jawab Gie ketika mereka bertanya apakah Soemitro, pemimpin mereka, bisa konsisten dengan apa yang diperjuangkannya dulu.

Kehidupan di kampus juga sudah berubah. Fakultas Sastra tidak lagi hangat seperti dulu. Dosen dan mahasiswa sama malas sementara Gie dituding keras kepala dan selalu cari perkara. Mahasiswa tidak lagi menyapa, sementara dosen lain langsung ke luar ruangan dan banting pintu saat Gie masuk. Di titik inilah ia berkata, “lebih baik saya diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.” Renungan Hok Gie selanjutnya menunjukkan keberanian yang naif. “Saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidak-populeran. Ada sesuatu yang lebih besar: kebenaran.” (Catatan Seorang Demonstran: 203).

Sikap ini mengingatkan saya pada Inge Scholl yang dikutipnya saat berdiskusi dengan mahasiswa di kampus. Inge, anak walikota Forchtenberg di zaman Nazi, bersama saudaranya Hans dan Sophie, membentuk kelompok Mawar Putih di Universitas Munich tempat mereka kuliah. Mereka gencar menerbitkan pamflet bawah tanah mengkritik kediktatoran Nazi dan politik anti-Semit yang mirip politik anti-Cina di Indonesia. Hans dan Sophie kemudian ditangkap dan dihukum mati. Inge selamat dan menulis Students Against Tyranny yang besar kemungkinan jadi acuan Gie saat mengutip pengalaman mereka dalam buku hariannya. Gie terkesan padanya karena berani bicara di tengah penindasan yang hebat.

Scholl bersaudara adalah anak pejabat Jerman di masa Nazi. Seperti Gie dan Djin, mereka adalah anak Neue Ordnung, sebuah tatanan baru yang menjanjikan hari depan lebih baik. Tapi segera mereka menyadari bahwa semua itu janji kosong. Mereka malu melihat ketidakadilan menguasai negeri mereka, seperti Gie yang malu melihat orang makan kulit mangga di pinggir jalan, dan mungkin seperti kita hari ini yang malu melihat orang makan nasi aking dan gaplek, sementara para pembesar hidup bergelimang kemewahan. Di tengah timbunan skandal dan krisis yang melanda negeri ini hari ini, Gie membawa kenangan pada rasa malu yang sudah lama hilang. Rasa malu yang mendorong orang selama bergenerasi bergerak membuat perubahan.

Hilmar Farid, 2009

Keterangan: Tulisan ini dimuat dalam buku Soe Hok Gie, Sekali Lagi  (KPG, 2009).