Peralihan dari akademikus cum aktivis menjadi pejabat negara adalah persoalan tersendiri bagi Hilmar Farid, 49 tahun. Direktur Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut mengaku masih belum terbiasa dengan rutinitas ala birokrat. “Sekarang kerjaan saya buka- tutup acara,” kata Hilmar, pekan ketiga Juni lalu.

Doktor lulusan National University of Singapore ini mengatakan sering membuat jadwal seremonial menjadi berantakan. Bukan karena datang telat, melainkan Hilmar tak kunjung naik ke mimbar  untuk berpidato ketika gilirannya datang. “Saya masih sering lupa kalau sekarang ini dirjen,” dia berujar, lalu terbahak.

Panggilan beberapa kali dari pewara juga tak kunjung membuatnya beranjak dari kursi. Hilmar pun kadang ikut meoleh kiri kanan untuk mencari pejabat berikutnya yang seharusnya berada di podium. “Saya baru sadar ketika tamu di sebelah mencolek dan memberi tahu kalau giliran saya maju,” tuturnya.

Di mimbar pun, pria kelahiran Bonn, Jerman, ini enggan terpaku pada catatan yang sudah disiapkan stafnya. Walhasil, skenario pidato yang direncanakan sebelumnya kerap berubah menjadi pidato impromptu alias lepas catatan. Biasanya, kata Hilmar, durasi pidatonya jadi agak molor.

Namun penggemar olahraga basket ini menyebutkan gaya pidatonya itu menjadi warna baru bagi acara seremonial yang sering diadakan di pemerintahan. “Saya suka menyapa semua orang yang saya kenal di tiap acara,” ujar Hilmar.

Berita ini dimuat di rubrik Pokok dan Tokoh Majalah Tempo edisi 10-16 Juli 2017