Sebagai sejarawan, ia meyakini trauma masa silam dapat disembuhkan dengan keberanian menghadapi kenyataan dan memasak adalah kegemarannya.

PADA 1970-an, krisis ekonomi melanda Jerman. Akibat krisis yang berat itu, para imigran dianggap mengurangi kesempatan kerja orang-orang Jerman dan rasisme memperoleh ruang barunya untuk tumbuh lagi sejak Perang Dunia II berakhir. Di masa ini, seorang bocah laki-laki dan ibunya mengantre karcis kereta di loket stasiun kota Bonn. Tiba-tiba lelaki Eropa bertubuh tinggi besar sengaja menyerobot giliran mereka. Sang ibu protes. Perdebatan keras tak terhindari. Si penyerobot akhirnya pergi. “Kenangan ini membekas. Ibu berani mempertahankan haknya, tidak menyerah untuk apa yang diyakininya benar,” kisah Hilmar Farid, sejarawan dan aktivis budaya, tentang ibunya. Sekolah bahkan tidak kedap dari praktik diskriminasi, karena kecamuk dalam masyarakat telah mempengaruhi kesadaran anak-anak. Ia dan dua kakak laki-lakinya, Hendarto dan Idham, seringkali diganggu atau diejek teman-teman sekolah dengan julukan yang rasis ‘negro’, “Siapa saja yang berkulit coklat atau kulit berwarna akan dipanggil ‘negro’.” Namun, keluarganya juga memiliki sejumlah sahabat Jerman, selain sahabat sesama imigran dari Italia dan Yunani.

Semua pengalaman tadi berawal dari keputusan hidup dua manusia yang kelak membuatnya hadir ke dunia. Ibunya meninggalkan Indonesia menuju Eropa di usia 17 tahun dan kelak bekerja di kedutaan Indonesia di Belanda. Ayahnya, pemuda nekad suka bertualang, yang sengaja meninggalkan kuliah arsitekturnya di Institut Teknologi Bandung lalu naik kapal barang ke Jerman. “Ayah kemudian bekerja serabutan, termasuk jadi tukang batu,” katanya. Kedua insan ini bertemu dalam satu acara di Aachen, kota di perbatasan Jerman dan Belanda, tempat ayahnya sempat melanjutkan kuliah. Mereka saling jatuh cinta, lalu menikah.

Fay, demikian ia biasa disapa, lahir sehari setelah ulang tahun ibunya, pada 8 Maret 1968, sehingga ayahnya menyebut anak bungsu mereka ini sebagai kado ulang tahun untuk sang istri.

Pada 1976, orangtua Fay membuat keputusan meninggalkan Jerman dan membawa anak-anak mereka kembali ke Tanah Air. Namun, Fay bersaudara menjalani masa penyesuaian diri yang tidak mudah saat bersekolah di Jakarta. Mereka tidak mampu memahami penjelasan guru dalam Bahasa Indonesia, karena percakapan sehari-hari di rumah berlangsung dalam Bahasa Jerman. Ayahnya segera turun tangan. “Kami sering dibawa ke rumah adik Ayah di kawasan Bakstraat, Jatinegara. Di situ kami belajar Bahasa Indonesia, belajar berinteraksi. Perkenalan pertama kami dengan Indonesia terjadi di lingkungan ini,” tuturnya, pada pertengahan Oktober tahun lalu, di sebuah kedai kopi di Jakarta. Penampilannya santai siang itu: kemeja katun, celana jins, sepatu sandal.

Dari ayahnya Fay belajar tentang sikap kritis, gemar baca-tulis serta mencintai kata-kata. Agus Setiadi, sang ayah, yang kelak terkenal sebagai penerjemah profesional untuk buku-buku cerita remaja, seperti Lima Sekawan Enid Blyton dan Pippi Si Kaus Kaki Panjang Astrid Lindgren, lahir dan dibesarkan dalam keluarga intelektual Jawa. Kakek Fay, Soedarso, dokter lulusan STOVIA yang sempat ditahan Jepang di Kalimantan dan pernah lolos dari hukuman mati atas pertolongan penduduk kampung. Sementara kakeknya dari sebelah ibu, Ferdi Lapian, seorang Minahasa terpandang yang membuat anak-anaknya masuk dalam gelijkgesteld, golongan yang disamakan dengan bangsa Eropa dan ternyata tidak menjamin mereka luput dari diskriminasi kolonial.

Setelah gagal sekali dalam tes masuk perguruan tinggi akibat “malas belajar”, Fay diterima di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ketika ia gagal dalam tes pertama, ayahnya tidak jemu memberi semangat.

Pada 1988, presiden Suharto tengah di puncak kekuasaan dan Fay menjalani kuliah semester pertama, “Mahasiswa melakukan berbagai kegiatan di kampus dengan tenang. Sementara gejolak dalam masyarakat begitu hebat, tapi juga nampak tenang di permukaan. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Sikap kritis dan rasa ingin tahu menggiring Fay bertemu orang-orang yang gelisah seperti dirinya dan mulai membaca buku-buku yang membuatnya menyadari bahwa ketenangan atau stabilitas semu itu ternyata diciptakan, “Ada karya sastra, musik, lukisan, film yang mengartikulasikan keresahan sosial, tapi dilarang pemerintah. Banyak ilmuwan kritis, tapi tidak boleh mengajar di kampus.”Pemerintah Orde Baru giat menerapkan sensor. Buku-buku dan berita-berita di media massa, cetak maupun elektronik disensor dulu sebelum disebarluaskan kepada masyarakat. “Tujuannya, memproduksi ideologi harmoni,” ucap lelaki yang mengisi hari-hari senggangnya dengan bermain gitar atau memasak ini.

Skripsinya, Politik Bacaan dan Bahasa pada Masa Pergerakan: Sebuah Studi Awal, membahas situasi yang kurang lebih sama dan terjadi di masa kolonial Belanda. Ia mengungkap gagasan di balik pembentukan Balai Poestaka (BP), penerbit milik pemerintah Hindia Belanda, “Untuk menghindarkan rakyat Hindia dari pengetahuan politik secara ketat, sesuai dengan kepentingan politik kolonial.” Tema kawin paksa, menurut Fay, dianggap tidak membahayakan kepentingan kolonial, sehingga muncul banyak novel dengan tema sejenis, “Ada bagian dari novel Siti Noerbaja yang sengaja dihilangkan BP, yaitu tentang Datuk Maringgih yang menentang politik pajak pemerintah kolonial di Sumatra melawan Letnan Samsul Bahri yang justru menumpas gerakan pribumi di Sumatra.”

Orangtuanya tidak melarang Fay aktif dalam diskusi-diskusi kritis, termasuk membahas peristiwa kontroversi G30S dan sejarah yang disembunyikan. “Ayah cuma mengingatkan dua hal, yaitu saya berani mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis atau katakan, dan pikirkan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Apakah dengan saya mengatakan itu masyarakat lebih mengerti atau tidak,” katanya.

Fay dan sejumlah teman kemudian mendirikan Jaringan Kerja Budaya pada 1994, yang menerbitkan media untuk karya-karya seni alternatif dan melakukan kajian budaya secara kritis. Ia juga ikut membangun Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) pada 2002 dan mengetuai lembaga ini hingga tahun 2007.

Bagaimana kebudayaan dan sejarah berfungsi, agar Indonesia lebih baik? Ia menjelaskan, “Indonesia harus mengembangkan kebudayaan yang lebih inklusif. Kebenaran sejarah adalah elemen penting dalam upaya itu. Masa lalu kadang pahit dan menyebabkan luka, tapi bangsa atau komunitas apapun, jika ingin sehat, harus berani melihat luka-luka itu dan menyembuhkannya. Strategi yang ada selama ini adalah menghindar dari kenyataan sejarah. Akibatnya kebudayaan tumbuh seperti api dalam sekam. Di atas permukaan tampak harmonis, tapi di tingkat bawah ketegangannya luar biasa.”

Bersama teman-teman ISSI, ia kini bekerja sama dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia mengembangkan bahan ajar sejarah untuk sekolah menengah.

Pada Mei 2014 lalu, Fay meraih doktor di bidang kajian budaya dari National University of Singapore, dengan disertasi berjudul, Rewriting the Nation: Pramoedya and Politics of Decolonization. Ia membahas sosok Pramoedya Ananta Toer bukan sebagai sastrawan belaka, melainkan sejarawan.

Pengalaman dan pengetahuannya menunjukkan bahwa perubahan dalam kekuasaan menjadi penting ketika menginginkan kemajuan yang bersifat masif dan menjangkau banyak orang. Ia turut mengkoordinasi para sukarelawan untuk mendukung Jokowi sebagai presiden Indonesia dalam pemilihan umum tahun lalu. Alasannya, “Dia orang yang ingin mempelajari persoalan dengan langsung menghadapinya dan berani menghadapi masalah untuk memperbaiki keadaan.” Tantangan ternyata tidak sedikit. Namun, proses demokrasi itu merupakan babak baru dalam sejarah Indonesia. Rakyat berani menentukan pilihan secara terbuka dan belajar bahwa perbedaan pendapat menjadi bagian dari proses tersebut. Ini sebuah tahapan yang mengakhiri harmoni semu dari masa silam. Akhir tahun lalu, ia mengemukakan kembali konsep negara maritim dalam pidato kebudayaannya yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, yang bertumpu pada pemikiran sang proklamator dan pendiri negara Indonesia, Soekarno, tentang fondasi pembangunan Indonesia yang secara geografis dikelilingi laut.

Di kedai kopi ini ia juga bertutur tentang sebuah kebersamaan yang tinggal sejarah. Ayah dan ibunya telah tiada. Menghadapi kenyataan tersebut, ia pernah terguncang. Katanya, “Saya tidak punya resep menenangkan diri, tapi melakukan sesuatu untuk orang lain adalah juga membantu kita melewati masa-masa sulit.”

Artikel ini ditulis oleh Linda Christanty berdasarkan wawancara dengan Hilmar Farid, dan dimuat di Majalah Dewi edisi Februari 2015. Foto oleh Honda S. Tranggono dan pengarah gaya Aldi Indrajaya.