1976 adalah tahun kelam bagi Argentina. Krisis ekonomi merajalela, konflik politik meruyak dan kekerasan meluas di mana-mana. Juan Peron, presiden flamboyan yang didukung persekutuan aneh kaum muda radikal, kalangan konservatif dan nasionalis Katolik, meninggal dunia dua tahun sebelumnya. Isabel Peron, istri keduanya, tampil sebagai pengganti. Walau populer di mata publik, Isabel tidak dapat mengendalikan pemerintahan. Inflasi melonjak sampai 300% lebih, korupsi menggerogoti setiap departemen pemerintahannya, dan konflik di kalangan elite yang mengintai kursinya adalah sarapan paginya di istana negara, Casa Rosada.

Sama seperti suaminya, Isabel mengandalkan militer dan paramiliter untuk menghadapi gerakan bersenjata seperti Montoneros dan Tentara Rakyat Revolusioner (ERP). Kelompok paramiliter terbesar, Aliansi Antikomunis Argentina (AAA) bahkan mendapat dukungan finansial dari Departemen Sosial untuk melancarkan operasinya. Seperti pemerintah sosial-demokrat di Jerman memberi jalan kepada gerombolan fasis berkuasa pada 1930-an, Isabel pun memberi jalan kepada kelompok paramiliter dan angkatan bersenjatanya untuk berkuasa. Antara 1974-76 lebih dari 600 orang hilang diculik, termasuk seorang senator senior dan padri Katolik yang dianggap membangkang.

Memasuki 1976 perkembangannya semakin jelas. Militer secara terbuka menentang pemerintahan Isabel pada 24 April di tahun itu, Isabel digulingkan dan para panglima dari tiga angkatan membentuk junta militer. Begitu berkuasa, junta militer mengumumkan “perang terhadap unsur subversif”. Ratusan orang ditangkap dalam beberapa minggu pertama. Dari 5.018 orang yang dilaporkan ditahan hanya 1.438 yang kembali. Sebagian memang dilepaskan tak lama setelah ditahan, tapi cukup banyak yang hilang tanpa bekas.

Argentina dinyatakan dalam keadaan darurat. Kongres dibekukan dan diganti Komite Penasehat Legislatif yang beranggotakan sembilan perwira militer, lembaga perwakilan di daerah-daerah dibubarkan, hakim agung dan pengadilan biasa diberhentikan, dan semua kegiatan politik dinyatakan terlarang. Pers dikontrol dengan ketat dan pasukan militer menerobos ke semua lembaga demokratik yang masih tersisa. Serikat buruh, universitas, sekolah dan lembaga publik lainnya adalah sasaran terpenting karena menjadi tempat “bercokolnya elemen subversif”.

Operasi militer terbuka terus dilancarkan   untuk   menghancurkan kelompok-kelompok gerilya dan pendukungnya. Sementara itu di perkotaan para panglima angkatan merancang “perang kotor” terhadap “elemen subversif” lainnya, yang dalam kenyataan adalah aktivis mahasiswa, pemimpin serikat buruh, pengacara, jurnalis, ibu rumah tangga, padri dan pekerja gereja lainnya, sampai orang yang kebetulan saja ada di tempat yang salah saat operasi dilancarkan. Militer membentuk patotas (gerombolan) atau pasukan khusus untuk menunaikan tugas ini.

Belasan ribu orang hilang dalam tahun pertama. Korban umumnya berusia antara 20-30 tahun walau banyak juga yang masih remaja belasan tahun, bahkan bayi dan anak-anak serta orang tua di atas 70 tahun. Sekitar 250 perempuan ditangkap dalam keadaan hamil dan sebagian melahirkan di tahanan. Amnesty International mencatat bahwa korban bukan hanya dari Argentina, tapi juga dari Chile, Uruguay dan 25 negara lainnya.

Mereka diculik di rumah, tempat kerja, jalan raya dan bahkan diciduk ketika sedang mengajar di sekolah. Pelakunya menurut kesaksian adalah kelompok 5-10 orang yang biasanya mengendarai Ford Falcon tanpa plat kendaraan. Operasi penculikan biasanya berjalan mulus, seperti menegaskan restu dari polisi atau petugas keamanan setempat. Dalam beberapa kasus, anggota keluarga atau tamu yang kebetulan berada di rumah korban ikut diangkut. Harta benda mereka diambil, mungkin karena tentara menganggapnya sebagai “pampasan perang”.

Melihat jumlah korban dan meluasnya operasi penculikan, nampaknya junta militer menganggap Argentina seperti wilayah musuh dalam pertempuran, dan penduduknya jika tidak terlibat langsung setidaknya mendukung musuh yang harus dihabisi. Penculikan jelas bukan kejadian acak. Untuk menampung korban-korbannya, militer   menyusun   daftar   nama, membangun sekurangnya 380 rumah tahanan rahasia dan melancarkan propaganda untuk mencegah protes dari dalam maupun luar negeri.

Represi yang hebat membuat kebanyakan orang memilih bungkam. Gereja, pers dan lembaga hak asas manusia yang diharap angkat bicara pun tak bisa berbuat banyak. Mereka yang mencoba mencari dan menyebarkan informasi, apalagi mempertanyakan operasi itu, senantiasa hidup terancam. Dua orang bidang yang membantu seorang korban melahirkan di tempa tahanan, lenyap tanpa bekas setelah mereka menyampaikan berita kelahiran kepada keluarganya. Mereka yang merasa terancam memilih lari ke luar negeri dan hidup di pengasingan. Hanya kalangan menengah atas, industrialis pengusaha, bankir dan yang mensyukuri operasi itu karena mendatangkan “stabilitas” yang sudah lama mereka rindukan. Seorang ibu mencatat, “saat itu hanya ada dua sikap, takut atau mendukung.”

Di   tengah   kebungkaman   inilah muncul sekelompok perempuan sederhana, umumnya dari kalangan pekerja dan menengah bawah, yang memecah kesunyian. Dengan tabah dan sabar mereka menuntut agar korban penculikan, yang tidak lain adalah anak-anak mereka sendiri, dikembalikan ke pangkuan mereka. Las Madres de Plaza de Mayo (ibu-ibu dari Lapangan Mei), begitu mereka menyebut diri, memberi contoh kepada masyarakat luas bahwa memilih bungkam di bawah represi takkan membuat hidup lebih baik. Dari kumpulan ibu sederhana inilah lahir salah satu gerakan hak asasi manusia terpenting dalam sejarah Amerika Latin.

Berakar Sebelum Berkembang

Pada 1977, ketika Las Madres untuk pertama kali tampil di hadapan publik, operasi penculikan sudah menjadi kerja rutin bagi junta militer. Diperkirakan lebih dari 30.000 orang diculik. Sebagian besar tidak pernah ditemukan lagi, baik karena ditanam secara massal dalam lubang besar atau dicemplungkan   ke laut dengan pemberat dari helikopter. Ada beberapa yang ditemukan dan visum dokter mengatakan mereka meninggal karena tenggelam, artinya saat dijatuhkan masih dalam keadaan hidup.

Las Madres berperan penting dalam pengungkapan fakta-fakta ini. Awalnya sederhana saja. Setengah putus asa karena usaha mencari kabar tentang anak-anak mereka, empatbelas ibu ber-kumpul di Plaza de Mayo, yang terletak di pusat kota Buenos Aires dan dianggap jantung politik Argentina. Hari itu lapangan sepi saja, sehingga rencana mendatangi Jenderal Videla, salah satu pemimpin junta militer, ditunda ke Jumat minggu berikut. Dua Jumat juga tidak membawa hasil. Sebagian ibu menganggapnya hari sial, sehingga jadwal pertemuan diubah ke setiap Kamis pukul 15.30.

Biasanya mereka hanya duduk berkumpul di bangku taman atau berdiri bergerombol, saling tukar informasi dan cerita sambil membahas nama-nama ibu korban lain yang perlu diajak bergabung. Setiap hari ada saja ibu lain yang datang mencari anak yang hilang di kantor polisi, kementerian dalam negeri dan gereja. Para pejabat umumnya menolak memberi keterangan dan malah balik menyalahkan para ibu itu karena me-lahirkan dan membesarkan anak menjadi subversif. Frustrasi menghadapi arogansi pejabat, mereka memilih bergabung dan saling bertukar cerita mengentalkan rasa senasib.

Dari pertemuan di lapangan ini pembagian kerja dimulai. Sebagian ibu bertugas mendatangi kantor-kantor pemerintah, polisi, penjara, gereja atau tempat apa pun yang diharap bisa memberi keterangan dan bantuan. Sementara sisanya menyebar ke rumah keluarga korban yang lain untuk menggalang dukungan. Bukan hal yang mudah meyakinkan keluarga lain untuk bergabung. Sebagian besar takut terlibat “urusan politik” dan tidak mau membukakan pintu, tapi ada juga yang menyambutnya dengan gembira dan langsung bergabung.

Agar semua ibu yang berkumpul dapat mengikuti perkembangan, sebagian bertugas menulis surat dan menyampaikannya kepada yang tidak hadir, sampai akhirnya mereka memutuskan menerbitkan buletin sendiri. Apa yang semula berlangsung spontan menjadi semakin teratur dan ditata. Pada Juni 1977 mereka melancarkan aksi bersama yang pertama, menyampaikan habeas corpus tentang 159 orang yang hilang diculik. Tidak ada tanggapan, dan sebagai protes ibu-ibu ini berkumpul dan meneriakkan slogan “kembalikan anak kami!” di lapangan itu. Tak seorang pun memperhatikan, mungkin sebagian malah menganggap mereka gila. Junta militer yang terusik menyuruh pers menulis tentang Las Locas de Plaza de Mayo (perempuan gila dari Lapangan Mei).

Kedatangan tamu asing adalah kesempatan baik untuk mengangkat persoalan mereka. Beberapa bulan setelah tuntutan yang gagal, pejabat Deplu AS Terence Todman tiba di Buenos Aires untuk bertemu Jenderal Videla. Las Madres mencegatnya sambil melancarkan protes. Sepasukan tentara menghadang dan mendesak mereka membubarkan diri. Untuk menakut-nakuti komandan pasukan menyuruh anak buahnya mengarahkan senjata sambil berteriak, “Siap, bidik…!” Dan ibu-ibu membalas, “Tembak!” Beberapa jurnalis yang hadir untuk meliput kedatangan Todman mendengar saling teriak itu dan datang menghampiri. Keesokan harinya berita tentang keberadaan kelompok ibu-ibu ini mulai menyebar di beberapa negara.

Cukup lama junta militer tidak menganggap ibu-ibu ini sebagai ancaman. Polisi biasanya datang kalau melihat mereka berkumpul dan meminta mereka bubar. Karena terus dilarang duduk di taman, mereka memilih jalan kaki mengelilingi monumen di tengah lapangan itu. Ketidakpedulian junta memberi kesempatan untuk menghimpun diri lebih baik dan dalam waktu dua bulan mereka berhasil menggalang sekitar seratus ibu. Sebagai tanda khas mereka menggunakan kerudung putih bertuliskan nama anak-anak mereka yang hilang.

Gerakan itu berjalan pelahan. Karena keterbatasan melancarkan aksi, mereka memilih saling berkunjung dan menguatkan. Sebuah kerja pengorganisasian yang telaten. Tidak ada teori atau ahli yang membimbing perjalanan mereka, hanya tekad untuk menemukan kembali anak-anak yang hilang.

Represi dan Strategi

Menjelang akhir 1977 gerakan ibu-ibu ini semakin berkembang pesat dan militer mulai memikirkan cara efektif untuk membungkamnya. Di samping represi fisik, dinas intelijen juga menyusupkan seorang lelaki muda yang melamar sebagai “tenaga sukarela” tapi bekerja memberitahu semua rencana dan kegiatan Las Madres kepada atasannya. Aksi bulan Oktober yang diikuti 300 orang di halaman kongres, sementara delegasi kecil menerobos masuk untuk menyampaikan petisi yang ditandatangani 24.000 orang membuat junta militer tertegun. Setelah setahun penuh menindas kaum muda, justru ibu-ibu mereka yang bangkit melawan. Militer mulai menangkapi ibu-ibu yang berkumpul pada Desember Azucena Villaflor, pemimpin Las Madres yang pertama, diculik bersama sembilan ibu lainnya, termasuk dua orang pekerja gereja. Mereka dikabarkan mengalami siksaan hebat, namun sampai hari ini jenazah mereka tidak berhasil ditemukan.

Tahun berikutnya semakin berat. Junta militer menggunakan Piala Dunia 1978 untuk mengangkat citranya di dalam maupun luar negeri. Kemenangan kesebelasan Argentina justru menjadi pukulan balik bagi Las Madres, karena penduduk mulai mengecam mereka sebagai a-nasionalis dan hanya mencari sensasi saja.

Represi pun meningkat dan Las Madres dituntut bekerja lebih teratur dan rapi. Karena tidak bisa berdemonstrasi di lapangan, mereka memilih berkumpul di gereja-gereja membicarakan perkembangan gerakan. Pada 1979 mulai ada struktur organisasi yang jelas, dan Hebe de Bonafini terpilih sebagai ketua pertama. Di bawah kepemimpinannya gerakan itu berkembang pesat, membuka hubungan dengan lembaga hak asasi manusia internasional, mencari dukungan anggota kongres yang bersimpati dan memberi kesaksian dalam setiap kesempatan. Salah satu kesempatan terpenting datang pada September 1979, ketika Komisi HAM dari Organisasi Negara Amerika (OAS) berkunjung ke Argentina. Las Madres menggalang antrean panjang sekitar 3.000 orang yang akan memberi kesaksian tentang orang yang hilang diculik.

Dalam tahun-tahun berikut tak satu pun kekuatan politik oposisi yang dapat memalingkan muka dari tuntutan Las Madres: “kembalikan anak kami dalam keadaan hidup!” Hubungan dengan organisasi politik dan gerakan sosial mulai berkembang-biak dan berulangkali Las Madres diminta memimpin demonstrasi damai menentang junta militer.

Perang Malvinas 1982 menjadi saat yang menentukan. Junta militer ingin memanfaatkan perselisihan dengan Inggris untuk mengangkat citranya di dalam negeri sebagai “pembela bangsa”. Sebagian besar partai politik dan gerakan sosial mendukung seruan nasionalisme sempit penguasa, sementara Las Madres menentangnya dengan keras. Mereka menerbitkan puluhan artikel di suratkabar dan buletin sendiri, mengecam perang dan menuntut agar pemerintah bertang-gungjawab atas perbuatannya selama ini. Sebuah tuntutan yang tidak populer, dan Las Madres lagi-lagi harus menghadapi cercaan dari masyarakat.

Keadaan berbalik ketika militer Argentina kalah dalam perang itu dan popularitasnya merosot di mata masyarakat. Tuntutan demokratik makin mengemuka dan rezim semakin terpojok. Dukungan bagi Las Madres mengalir deras, termasuk dari mereka yang semula mengecamnya. Tahun berikutnya Raul Alfonsin terpilih jadi presiden. Seperti kekuatan politik lainnya ia harus menjawab tuntutan Las Madres yang sudah masuk dalam agenda politik nasional, ia membentuk Komisi Nasional untuk Orang Hilang (CONADEP) yang bertugas menyelidiki “perang kotor” selama 1974-82. Dua tahun kemudian komisi itu menerbitkan laporan berjudul Nunca Mas yang dalam kata pengantarnya disebut, “laporan dari neraka”.

Tapi Alfonsin dan penerusnya, Carlos Menem, tidak melangkah lebih jauh. Para pemimpin junta militer diseret ke pengadilan, dijatuhi hukuman, hanya untuk dibebaskan melalui dekrit presiden tak lama sesudahnya. Roda kekebalan militer terus berputar. Las Madres mengecam tindakan itu dan menuntut agar semua pelaku dihukum, bukan hanya segelintir jenderal pemimpinnya. Tuntutan itu mulai tenggelam ketika elite-elite “pro-demokrasi” yang bungkam selama kediktatoran mengambilalih proses demokratisasi dan memberi prioritas pada pembangunan ekonomi dan reformasi sistem politik.

Pribadi, Politik, Perjuangan

Berawal dari pencarian anak yang hilang, Las Madres menempuh perjalanan menagih keadilan yang pada saat bersamaan membongkar kebobrokan sistem junta militer. Setiap kantor yang didatangi tak bisa memberi jawaban dan membuktikan bahwa penculikan terhadap anak-anak mereka bukanlah kebetulan belaka, tapi sesuatu yang terencana dan melibatkan begitu banyak lembaga dan pejabat negara. Perjalanan panjang yang menyadarkan Las Madres dan semua yang bersimpati bahwa tidak ada sistem represi yang mau membongkar boroknya sendiri. “Kita perlu perubahan besar untuk mencapai tujuan kita,” tutur seorang ibu.

Memperjuangkan hak asasi manusia bagi Las Madres tidak berarti meninggalkan kehidupan sehari-hari. Gerakan ibu mencari anak yang hilang semula memang bersifat personal tapi dalam perkembangannya diperluas menjadi usaha kolektif untuk melindungi dan merawat kaum muda, masa depan masyarakatnya sendiri. Di sela pertemuan penting ibu-ibu tetap berbicara tentang naiknya harga, mahalnya transportasi dan urusan rumah tangga lainnya. Beberapa di antaranya mengaitkan kesulitan hidup dengan kenyataan anak yang hilang. “Anak-anak kami hilang karena berjuang untuk sistem yang lebih adil.”

Pertemuan dengan kelompok dan organisasi lain dalam perjuangan melawan kediktatoran memperluas gerak Las Madres, menjangkau masalah keadilan sosial dan penegakan hak asasi manusia secara umum. Mereka membantu gerakan ibu rumah tangga yang menuntut penurunan harga, memprotes wajib militer oleh pemerintahan baru, dan berbicara tentang sistem ekonomi alternatif untuk keluar dari krisis berkepanjangan.

Kesengsaraan pribadi karena kehilangan anak berkembang menjadi masalah bersama dan masuk ke wilayah politik kenegaraan. Mereka belajar banyak dari apa yang dilakukan anak-anak mereka, seperti dikatakan Renée Eppelbaum, salah satu pendiri Las Madres, “cara terbaik untuk mengenang anak kami yang hilang adalah dengan memperjuangkan hak asasi manusia, menolak setiap ketidakadilan dan tidak membiarkan mereka (penguasa) melucuti harkat kita.”

Secara tradisional ibu di Amerika Latin, seperti juga di belahan dunia lainnya, dianggap bertugas merawat keluarga. Las Madres tidak meninggalkan peran itu, tapi memperluasnya menjadi gerakan merawat masyarakat. Sementara partai-partai tidak berkutik menghadapi kediktatoran, dengan caranya sendiri Las Madres menggugat penguasa. Sebuah gerakan sederhana yang mengingatkan kita bahwa korban bukan sekadar orang sengsara tapi juga kumpulan energi perlawanan.

Hilmar Farid, 2002

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Media Kerja Budaya edisi Perempuan Bergerak, Agustus 2002

sumber foto: espaciomemoria.ar