Para relawan telah mendukung Joko Widodo selama masa kampanye presiden. Kini, setelah kemenangannya, mereka mengutarakan harapannya. Pada sebuah pesta perayaan di mana ia berterima kasih pada ratusan orang yang hadir, mereka membacakan sembilan pokok pernyataan bertajuk Maklumat Rakyat yang merangkum harapan para relawan tersebut akan suatu pemerintahan yang bersih, profesional dan efektif.

Bapak Widodo, yang dikenal juga sebagai Jokowi, telah menjadikan pendekatan merakyatnya sebagai bagian pokok dalam pencalonannya dan itu tampil sepanjang kampanyenya—mulai dari massa yang tak tergorganisasi hingga kaum profesional dan aktivis yang mengelilinginya. Akan tetapi, ia akan menghadapi tantangan di parlemen, di mana koalisinya belum memegang posisi mayoritas, juga dalam tantangan memimpin bangsa kepulauan yang digerogoti oleh korupsi, pelemahan pertumbuhan ekonomi dan beberapa persoalan terkait buruknya infrastruktur.

Wall Street Journal berbincang-bincang dengan Hilmar Farid, salah seorang pemimpin gerakan relawan Jokowi, mengenai perjuangan akar rumput. Berikut adalah hasil wawancara tersunting.

Apa yang mendorong lahirnya gerakan relawan?

Hilmar Farid: Kita menemukan sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik pada sosok Jokowi. Jokowi adalah sosok baru. Ini yang membuat kita berharap padanya. Dia orang biasa … Relawan sangat mandiri. Mereka tidak banyak didukung partai-partai politik, organisasi politik. Wataknya spontan.

Mengapa hal itu perlu diperhatikan?

Hilmar Farid: Jokowi bukan seorang jenius. Kalau ada yang dia tidak tahu, diaakan tanya. Tapi d ia juga butuh rakyat untuk memberitahunya. Dia menggelar pertemuan besar dengan rakyat Solo dan berdialog, sehinggad ia bisa langsung menjawab kegelisahan mereka. In sebuah pesan yang saya pikir sudah lenyap dalam politik Indonesia. Sekarang kita punya seorang pemimpin yang mau mendengar. Kita diyakinkan—dan saya pikir dia tahu itu—bahwad ia tidak akan mampu berbuat banyak tanpa pertolongan, bantuan dan keterlibatan rakyat. Inilah kenapa hal itu jadi penting.

Salah satu kekurangan kampanye Jokowi katanya ialah bahwa kampanye tersebut kurang terorganisasikan sebab itu lebih banyak kerja relawan.

Hilmar Farid: Kalau Anda menggerakan rakyat untuk terlibat, khususnya orang-orang yang tak pernah terorganisir secara politis, hal seperti ini tidak terhindarkan. Harapan kami, pada akhirnya akan ada hasil yang baik jika kami tetap bersabar..

Menurut Anda, adakah peran bagi perjuangan dan keterlibatan relawan semacam ini dalam pemerintahan mendatang?

Hilmar Farid: Saya pikir Jokowi sudah menekankan bahwa selain sebagai pemimpin yang merakyat dan seterusnya, dia juga masih orang partai. Dia tentu masih mendengarkan pejabat partai, memperhatikan gerak-gerik partai. Namun saya pikir partai pun berubah karena sosok Jokowi. Ini kelihatan jelas selama masa kampanye, bagaimana terkadang mereka berupaya mengendalikan semuanya yang nyatanya justru berarti memperlambat keseluruhan proses. Tetapi semua pengalaman ini, pengalaman gotong royong antara partai dan relawan ini, mendorong partai untuk menyadari bahwa mereka tak bisa sepenuhnya terus menjalankan banyak hal dengan cara seperti yang sudah-sudah. Kita berharap energi ini membuka proses demokratis dan gagasan suatu pemerintahan yang benar-benar melibatkan rakyat.

Menurut Anda, apa orang-orang partai menganggap gaya Jokowi yang tidak tradisional ini sebagai suatu ancaman?

Hilmar Farid: Dalam artian tertentu, ya, sebab Jokowi cenderung independen dari partai. Namun saya pikir, selama ini dia sudah menunjukkan loyalitas politik. Dia masih sosok rendah hati yang sama, yang saya jumpai bertahun-tahun lalu. Sekarang dia lebih sibuk, tapi cara dia berhubungan dengan masyarakat masih sama. Saya kira ini saat yang tepat bagi partai untuk berubah dan mengikuti perkembangan tersebut.

Apa menurut Anda sendiri harapan-harapan yang ada terlalu tinggi?

Hilmar Farid: Peliharalah harapan yang mustahil—kenapa tidak? Toh, meskipun akhirnya Anda perlu bersikap realistis, tetapi saya pikir sekarang waktunya bagi kita untuk melambungkan harapan seting-tingginya, untuk membahas segala hal. Ini waktunya harapan dan mimpi, bukan saatnya berhitung secara rasional. Itu fase selanjutnya, setelah keadannya lebih mapan. Sekarang waktunya bagi kita untuk meneriakkan harapan dan kita akan lihat hasilnya. Tuntutlah yang mustahil—itulah yang mesti kita lakukan.

Namun ia betul-betul menghadapi banyak tantangan dan orang-orang bilang, ia pasti harus berubah. Dia tidak bisa terus-menerus blusukan ke rumah warga dan meninjau lapangan di seantero negeri.

Hilmar Farid: Dan memang tidak semestinya begitu. Dia mesti menemukan mekanisme yang lebih baik dalam melakukan blusukan, sehingga dia tetap memperoleh informasi yang dia butuhkan dari akar rumput, tetapi disalurkan secara berbeda. Di situlah tantangannya. Ini satu hal yang perlu diperbaiki. Dia bakal berubah? Pastinya, Anda mau bilang apa lagi?

*Wawancara ini adalah versi terjemahan dari versi asli berbahasa Inggris yang di muat di portal Wall Street Journal pada 26 Juli 2014. Wawancara dilakukan oleh Sara Schonhardt, versi Indonesia diterjemahkan oleh Martin Suryajaya dan diedit oleh Windu Jusuf. Versi Inggris wawancara ini bisa dibaca di sini.