Studi tentang pemikiran selalu menarik. Karena kita dihadapkan pada pergulatan pikiran manusia tentang berbagai subyek, dan melihat betapa gagasan-gagasan yang muncul, bertukar-tanding, dan kemudian lenyap dalam sejarah, ternyata melalui berbagai tahap dan secara keseluruhan membentuk bangunan gagasan yang_kompleks. Kadangkala para penulis tentang pemikiran bisa terjebak melihat sekumpulan gagasan seakan berdiri dalam bangunan yang koheren, padahal dalam kenyataan tidak begitu adanya. Untuk itu setiap peneliti perlu menimbang bangunan atau percik-percik pemikiran yang dipelajarinya dalam tradisi tempat lahirnya, dan mengikuti perkembangannya dari waktu ke waktu. Masalah lain, yang sering membuat studi tentang pemikiran terasa hambar, adalah uraiannya yang terlalu abstrak, seolah tidak ada sambungannya dengan tradisi pemikiran yang berkembang di tempat penelitinya berada. Di sini perlu uraian ringkas tentang bagaimana sebuah konsep atau kerangka pemikiran dipahami oleh masyarakat pembaca studi tersebut, agar tidak terperangkap dalam diskusi yang sarat penyederhanaan atau reduksi.

Realisme sosialis, seperti halnya banyak paham lain dalam sejarah kesusastraan dunia, penuh dengan perdebatan bahkan pertentangan pendapat. Titik perdebatannya pun bertingkat-tingkat, mulai dari apakah realisme sosialis sesungguhnya merupakan `kerangka kritik atau paham/ideologi sastra, sampai pada masalah-masalah mendasar seperti hubungan seni dengan realitas. Di Rusia, tempat konsep ini pertama kali dilontarkan, perbedaan pendapat tentang berbagai aspek realisme sosialis sampai saat ini belum berakhir. Dalam perkembangannya, paham ini menarik perhatian banyak pemikir dan sastrawan yang mengalami gelombang gerakan pembebasan, tidak terkecuali di Indonesia. Namun, sama seperti di negara-negara lain, di Indonesia juga tidak ada pemahaman tunggal tentang konsep tersebut.

Pemikir dan sastrawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—kalangan yang dianggap paling dekat dengan paham ini—juga tidak pernah merumuskan pengertian baku tentang realisme sosialis.(1) Di kalangan ini realisme sosialis hanya dibicarakan di kalangan pimpinan berdasarkan bacaan yang sangat terbatas. Hampir tidak ada buku tentang realisme sosialis atau konsepsi Marxis tentang sastra yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sementara naskah aslinya pun hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Buku Hubungan Seni dan Realitet karangan Nikolai Chernyshevski yang membahas masalah-masalah di sekitar konsep itu baru diterjemahkan pada I960, disusul dengan karya Plekhanov Seni dan Kehidupan Sosial beberapa waktu kemudian. Karya-karya lain dari Bertolt Brecht, Walter Benjamin atau Anatoli Lunacharski dan  Ivan  Gronski  hanya  beredar  di  kalangan yang sangat terbatas, dan jika dilihat dari tulisan-tulisan sezamannya, sedikit sekali nampak hasil pergaulan dengan karya-karya tersebut. Realisme sosialis yang diperdebatkan di Rusia dan dunia Barat pada umumnya hanya sebentar menarik perhatian, karena sejak 1950-an bacaan-bacaan dari Republik Rakyat Tiongkok mulai mengalir masuk, seperti pidato Mao Zedong tentang sastra dan seni di Yenan. Dalam periode yang singkat itu, karya yang paling dianggap mewakili langgam realisme sosialis adalah Ibunda karya Maxim Gorki, yang justru di Uni Soviet masih dianggap sebagai penggambaran semangat sosialisme yang tidak tepat.

Dari data-data yang terbatas memang sulit ditelusuri seberapa jauh pengaruh realisme sosialis model Soviet di kalangan sastrawan dan seniman pada masa itu. Tapi bisa dipastikan bahwa realisme sosialis tidak pernah dijadikan garis resmi di dalam salah satu organisasi kebudayaan mana pun. Di sisi lain tentunya tidak berarti bahwa konsep itu dan anak-cabang pemikiran progresif lainnya tidak berpengaruh sama sekali. Ketiadaan rumusan ini mungkin karena begitu longgarnya pengertian-pengertian yang diajukan dalam wilayah pembicaraan (seni) yang begitu abstrak. Di sisi lain, kesusastraan dalam gerakan sosial jarang menjadi isu yang menentukan (decisive) sehingga tidak ada urgensi untuk membuat rumusan yang kaku seperti misalnya dilakukan dalam masalah kebijakan ekonomi atau tata negara.

Hal yang menarik kemudian rumusan tentang realisme sosialis yang tertuang dalam sikap resmi datang dari para pengkritik dan penentang paham itu. Dalam naskah Penjelasan Manifes Kebudayaan yang diumumkan pada 17 Agustus 1963 misalnya, ada satu bagian khusus yang menjelaskan sikap kelompok penandatangan tersebut terhadap realisme sosialis. Para perumus naskah ini membedakan antara realisme sosialis yang merupakan kelanjutan pemikiran Josef Stalin dan yang berangkat dari pemikiran Maxim Gorki. Mereka beranggapan bahwa Stalin udah tumbuh menjadi ‘fetish’, sehingga segala pikiran, ucapan dan tindakan menjadi dogma dalam kehidupan seni dan sastra. Tapi penolakan itu terlebih karena “dasarnya (realisme sosialis) ialah faham politik di atas estetik”. Lain halnya dengan realisme sosialis dari Gorki yang “menempuh politik sastra universal” dan “searah dengan garis Manifes (Kebudayaan)”.

Konsep realisme sosialis dalam naskah ini perlu dimengerti dalam hubungan (pertentangan) dengan humanisme universal, yang ditempatkan dalam posisi berhadapan. Dengan begitu akan terlihat bahwa masalah paling mengkhawatirkan dari realisme sosialis, di mata para penentangnya ini adalah kecenderungan menundukkan kegiatan dan pemikiran artistik di bawah politik. Secara konseptual para pendukung humanisme universal bersikap anti-komando dalam sastra, yang mereka lihat tumbuh subur di tubuh organisasi kebudayaan sezamannya, terutama Lekra. Di masa kemudian kritik terhadap praktek semacam itu diperluas, dan ‘sastra komando’ dianggap sebagai gejala yang lekat pada konsep realisme sosialis di mana pun di dunia. Kecenderungan ini paling nampak dalam karangan Yahaya Ismail—seorang mahasiswa asal Malaysia di bawah bimbingan HB Jassin—tentang berkembang dan jatuhnya Lekra.(2) Ia melihat bahwa gagasan realisme sosialis bersumber pada ajaran Marx dan Engels tentang pertentangan kelas, materialisme historis, materialisme dialektis dan teori nilai lebih (theory of surplus value). Namun penjelasan yang diberikannya bahkan lebih kasar (rude) dari para pendahulunya dalam melihat hubungan realisme sosialis dengan tradisi Marxis.

Jika kekeliruan kebanyakan kritikus liberal adalah menyederhanakan Marxisme sebagai tradisi pemikiran menjadi Stalinisme, maka Ismail bisa dikatakan membuat reduksi total terhadap Stalinisme dan menghubungkannya dengan praktek organisasi-organisasi kebudayaan dan PKI di Indonesia.(3) Akibatnya realisme sosialis kemudian semata-mata dipandang sebagai konsep tentang hubungan seni dan ‘politik’, yaitu tunduknya sastrawan pada perintah partai atau garis politik organisasi.

Hal yang paling mengkhawatirkan dari pembakuan pengertian realisme sosialis di atas adalah sempitnya pengertian politik yang diberikan. Dalam realisme sosialis—seperti halnya setiap paham estetika yang dipengaruhi oleh usaha pembebasan manusia, termasuk humanisme universal yang dirumuskan dalam Penjelasan Manifes Kebudayaan—seni memang tidak dapat dilepaskan dari politik. Tapi politik di sini tidak hanya berarti perintah partai atau ketaatan dalam organisasi. Itu hanya satu aspek saja dari hubungan seni dan politik. Masih ada banyak masalah lain, seperti konsep hubungan seni dan realitas, posisi seniman dalam masyarakat, masalah fungsi dan keberpihakan seni.

Salah pengertian seperti digambarkan di atas, baik di kalangan pendukung maupun pengkritik realisme sosialis, antara lain karena sedikitnya pengetahuan tentang teori dan pemikiran yang disebut-sebut sebagai sumber paham itu. Realisme sosialis adalah salah satu anak-cabang kecenderungan atau perkembangan teori Marxis tentang seni dan sastra, dan jelas diperlukan lebih dari dua halaman—tidak seperti dilakukan Yahaya Ismail dalam studinya—untuk memahami bangunan teori yang kompleks tersebut. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan seni dan politik/kekuasaan—dalam pengertian sempit maupun luas; dalam kecendetungan realisme sosialis maupun lainnya—menjadi satu tema penting dalam tradisi Marxisme sesudah Marx. Namun sebaliknya, perlu ditekankan lagi bahwa hubungan itu bukanlah satu-satunya masalah yang dilihat oleh kecenderungan realisme sosialis, apalagi teori Marxis tentang seni dan sastra.

Dilihat dari sejarahnya, debat di sekitar sastra sosialis dan realisme sebagai dua konsep yang terpisah sudah muncul sejak pertengahan abad ke-19- Diskusi di sekitar sastra atau seni sosialis muncul bersamaan dengan tumbuhnya ide-ide pembebasan manusia di bawah konsep ‘sosialisme’, mulai dari Saint-Simon, Pierre-Joseph Proudhon sampai Karl Marx dan Friedrich Engels dan berkembang terus seiring dengan tumbuhnya gerakan sosialis di Eropa.(4) Realisme muncul_dari_arah lain sebagai kritik terhadap romantisisme yang mengagung-agungkankemenangan perang termasuk pemusnahan manusianya. Konsep mi berkembang terutama dalam bidang senirupa dan sastra, di bawah seniman-seniman Gustave Courbet, Balzac, Tolstoi dan lain-lain. Dalam studi-studi Lukacs sendiri tentang sastra dan seni, realisme jauh lebih menarik perhatiannya daripada debat seni sosialis yang populer pada zamannya.

Di kalangan Marxis setelah Marx, seperti Paul Lafargue, Georgi Valentinovich Plekhanov atau Franz Mehring, kedua tema itu juga dibahas, walau perhatian mereka lebih banyak pada hubungan seni dengan pemikiran Marx tentang masyarakat, seperti kepentingan sosial dan kepentingan kelas dalam kesenian, watak kelas dari karya seni dan hubungan seni dengan pertentangan kelas.

Hampir tidak ada diskusi tentang bagaimana seharusnya seni yang mengabdi pada kepentingan sosialisme secara spesifik. Kecenderungan itu baru muncul belakangan, khususnya di Rusia setelah Revolusi 1917.(5) Setelah revolusi itu muncul tuntutan akan adanya seni yang sejalan dengan usaha-usaha pembangunan masyarakat baru dan dapat mengungkap vitalitas kemenangan ideologi baru di negeri itu. Tuntutan itu mendapat tantangan kuat dari Vladimir Ilich Lenin sendiri, salah satu pimpinan utama Revolusi 1917. Sikapnya terhadap kesenian memang keras, terutama terhadap kecenderungan kumpulan seniman yang berusaha memonopoli kegiatan artistik, tapi di sisi lain ia tidak mengisyaratkan perlunya sastra yang sepenuhnya mengabdi pada cita-cita partai politik. Lenin juga yang memperbaiki pandangan-pandangan sebelumnya tentang hubungan seni dan politik, dengan melihat kedua unsur itu bekerja dan bergerak pada tingkat yang berbeda, sehingga setiap usaha pencampuradukan keduanya tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Banyak kritik yang muncul terhadap Lenin karena menganggapnya memimpin penindasan terhadap kebebasan kreatif. Naskah yang paling sering dirujuk untuk membuktikan pendapat ini adalah Party Organization and Party Literature yang disusun pada 1905. Di sini Lenin mengatakan bahwa bahwa bacaan (literature)—maksudnya adalah bacaan politik partai termasuk suratkabar dan pamflet, bukan kesusastraan arau penulisan kreatif secara menyeluruh—di lingkungan partai harus sejalan dengan prinsip dan pandangan partai. Perlu juga dicatat bahwa tulisan ini dibuat saat Partai Bolshevik sedang berusaha menghimpun kekuatannya sebagai organisasi setelah melewati Revolusi 1905, di mana disiplin di dalam partai sangat diperlukan. Tapi tulisan itu lebih jauh menyinggung masalah watak kelas dan peran sosial serta ideologi di dalam kesenian. Ia melihat bahwa masalah kebebasan individu yang diagung-agungkan itu tidak lebih dan retorika borjuasi-kecil, karena mereka tidak membahas ketidakbebasan akibat watak komoditi dari kesenian. Menurutnya kebebasan ekspresi tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berserikat; artinya seseorang bebas mengeluarkan pendapat seperti apa pun, tapi sebuah partai juga bebas untuk memecat anggota yang tidak sejalan dengan pikiran kebanyakan anggota atau menggunakan nama partai justru untuk mencela partai itu di hadapan publik. Pembebasan seni dari watak komoditi dengan begitu hanya mungkin tercapai jika disatukan dengan kepentingan kekuatan sosial yang sedang berjuang demi pembebasan. Tapi tidak sedikit pun disinggung soal keharusan adanya prinsip tunggal dalam berkreasi, karena menurutnya “kesusastraan adalah subyek yang paling tidak bisa ditundukkan secara mekanik di bawah kekuasaan mayoritas terhadap minoritas.”

Sikap serupa ditunjukkan oleh Lunacharski, komisaris pendidikan pertama yang mengurus masalah kebudayaan dan kegiatan artistik. Seperti Lenin, ia melihat_bahwa seni adalah bentuk ideologis yang mengungkap kepentingan kelas, tapi di sisi lain tidak memperlakukan seni sebagai cerminan dan ungkapan langsung dari kepentingan itu.(6)Dalam hal ini keduanya sejalan dengan pikiran Marx tentang nilai kesusastraan klasik yang termaktub dalam Grundrisse serta Engels tentang otonomi relatif kesenian yang dituangkan dalam surat-suratnya tahun 1890-an. Bersama Lenin juga, Lunacharski menentang gerakan proletkult, yang mengharuskan setiap ungkapan artistik secara langsung dan vulgar menampilkan perjuangan kelas, perlawanan rakyat, dan kepahlawanan kelas tertindas. Leon Trotski lebih jauh berpendapat bahwa seni tidak terikat mati pada determinasi kelas, sehingga tidak mungkin tercipta ‘seni proletariat’. Konsekuensinya, seniman harus dibiarkan bebas mengungkapkan ekspresi dan membiarkan dirinya dibimbing oleh daya kreatifnya sendiri. Tapi perdebatan di sekitar tema ini makin merosot ketika Lenin meninggal dan diganti oleh Stalin yang lebih subyektif dan dogmatis dalam menangani masalah kebudayaan.

Istilah ‘realisme sosialis’ mulai populer dalam periode transisi ini, dan dibakukan pada 1932, saat tuntutan untuk mencipta seni yang mengabdi pada usaha membangun masyarakat baru Uni Soviet makin mendesak. Ada tiga tokoh penting yang sangat menentukan dalam ptoses ini, yakni Josef Stalin, Maxim Gorki dan Andrei Zhdanov. Dua tahun kemudian, di dalam Konferensi Pengarang Soviet istilah itu resmi menjadi ‘garis kebijakan’ dalam kegiatan artistik. Berangkat dari pembakuan ‘Marxisme-Leninisme’ para pemikir Rusia saat itu melihat bahwa di zaman sosialis seniman memasuki realitas sosial baru yang dengan sendirinya menciptakan seni—sebagai refleksi dari realitas—yang baru pula. Setelah dilembagakan kampanye pembakuan ini diwujudkan dalam karya-karya di sekitar pengagungan pembangunan sosialisme, seperti lukisan tentang kehebatan mesin, teknologi yang dicapai oleh Uni Soviet dan tentunya para pemimpin yang membawa masyarakat Rusia ke dalam tahapan baru itu, terutama Stalin.

Secara umum, realisme sosialis dalam tafsiran pejabat kesenian Uni Soviet berarti seni yang menggambarkan kemenangan para pahlawan dan optimisme membangun ekonomi dan masyarakat sosialis. Seni dituntut untuk mengutamakan kolektivitas, berarti gambaran massa rakyat sedang bekerja atau berjuang, kecuali saat menggambarkan para pahlawan seperti Lenin dan Stalin. Fungsi seni ditetapkan sebagai alat mendidik buruh dengan nilai-nilai sosialis yang sejalan dengan garis politik Partai Komunis. Karya-karya dari periode inilah yang kemudian dikenal dan dikecam dalam wacana kritik Barat sebagai kultus individu Lenin dan Stalin. Dalam karya sastra, realisme sosialis versi pejabat Uni Soviet atau Partai Komunis saat itu berarti penggambaran manusia dan kehidupan secara realis. Segala bentuk absurditas dan kecenderungan surealistik ditolak dengan tuduhan menyesatkan jiwa dan menyelubungi pertentangan kelas. Di samping sebagai pedoman berkarya, realisme sosialis juga menjadi metode kritik atau ukuran untuk menilai sebuah karya, walaupun tidak banyak kritik dalam gerakan ini yang dikenal luas di masa kemudian.

Dominasi paham ini di Uni Soviet pada 1930-an dan 1940-an kemudian mengundang reaksi, baik secara terbuka maupun tidak, dari berbagai kalangan. Di Rusia seniman seperti Vladimir Mayakovsky dalam kesusastraan dan Sergei Eisenstein dalam dunia film menolak pembakuan realisme sosiaIis dan bertahan dengan ekspresi masing-masing. Reaksi dari rezim kesusastraan cukup keras, mengecam ekspresi yang ‘liar’ dan bahkan membatasi para senimannya. Vsevolod Meyerhold, seorang pemimpin teater eksperimental yang dipengaruhi oleh pemikir Bertolt Brecht bahkan mengecam realisme sosialis sebagai konsep yang tak bermakna, dan ‘tidak ada hubungannya dengan seni’. Tahun 1939 karya-karyanya dituduh dekaden. Di luar Rusia kritik senada berdatangan dari para pemikir Marxis. Tapi banyak juga di antara mereka yang sekalipun terpengaruh oleh gejolak zamannya, tidak terlalu terpengaruh oleh konsep realisme sosialis resmi model Soviet. Di antaranya adalah Georg Lukacs.

Karya-karya Lukacs terutama menyoroti masalah realisme, walaupun pandangannya kemudian banyak bersinggungan dengan paham realisme sosialis resmi di atas. Ia lahir pada  1885 di tengah keluarga yang pada zamannya jelas disebut ‘borjuis’, dan mulai menulis pada usia belasan tahun. Pada usia 25 tahun ia merampungkan naskah bukunya setebal 1.000 halaman yang berjudul Soul and Form tentang perkembangan drama modern. Sejak awal ia menampakkan ketidaksukaannya pada segala yang berbau resmi, terutama para birokrat Hungaria yang berkuasa dalam segala bidang. Pada 1918 ia bergabung dengan Partai Komunis Hungaria dan tulisan-tulisannya mulai dipengaruhi oleh pemikiran Marxis sezaman. Tulisan-tulisannya dalam ‘periode Marxis’ banyak bicara tentang masalah filsafat, seperti alienasi, fetishism, reifikasi yang menjadi sumbangan penting bagi teori Marxis rentang kesadaran, ideologi dan kebudayaan. Karya penting dari kurun ini adalah History and Class Consciousness yang terbit pada 1923. Keterlibatan dalam partai membawanya ke jali,u.m wakil komisaris kebudayaan dalam pemerintahan revolusioner di Hungatia yang bertahan selama enam bulan pada 1919.

Dalam bidang seni dan sastra, pemikirannya tentang bentuk (form) dianggap sangat menonjol dan berpengaruh. Sistem kapitalisme menurutnya menciptakan pemisahan bidang-bidang kehidupan begitu parahnya, dan pemujaan terhadap komoditas (commodity fetishism) yang membutakan manusia dan jatidirinya. Karena itu karya sastra yang baik adalah yang mampu menggambarkan toralitas kehidupan manusia, dengan segala kekayaan segi dan nuansanya. Dalam Studies in European Realism dan The Historical Novel ia melihat fungsi itu dipenuhi dalam karya-karya penulis realis seperti Shakespeare, Balzac, Tolstoi dan seniman Yunani kuno, dan tentu favorit utamanya, Thomas Mann. Pengunggulan realisme dalam karya-karyanya sempat merangsang perdebatan panjang dengan Bertolt Btecht, salah satu perdebatan terpenting dalam kritik sastra Marxis tahun 1930-an. Bagi Brecht, realisme yang mendamaikan kontradiksi di dalam totalitas adalah cerminan sikap reaksioner. Sebaliknya ia berpendapat bahwa kontradiksi semacam itu justru perlu diungkap lebih tajam dalam kesenian, yang akan merangsang manusia untuk membebaskan diri dari kontradiksi itu dalam dunia nyata. Lukacs di mata Brecht terjebak ke dalam penyakit formalisme, yang asyik dengan wacana kesusastraan, tapi tidak tanggap terhadap perubahan masyarakat di mana kesusastraan itu dilahirkan. Ada banyak masalah lain yang tidak mungkin dibahas satu per satu dalam pengantar ini, tapi gambaran di atas jelas memperlihatkan kompleksitas perdebatan di kalangan Marxis tentang seni dan sastra.(7) Dan cukup jelas juga bahwa bangunan teori Marxis sangat kaya dan tidak mungkin direduksi begitu saja, tanpa menihilkan seluruh arti dan proses perdebatan itu sendiri.

Kembali pada Lukacs. Pada 1924 ia merasa tulisan-tulisannya tidak sesuai dengan garis ‘Marxisme-Leninisme’ atau lebih dikenal dengan istilah Soviet Marxism, terutama setelah karya-karyanya dicerca oleh para pemikir garis tersebut. Usahanya mendekatkan diri ini ditanggapi baik, dan pada 1929 sampai 1931 ia mendapat tempat di Institute Marx-Engels di Moskow, lalu di Akademi Ilmu Moskow pada 1933 sampai 1945. Posisinya jelas berbeda dengan teoretisi Marxis sezaman yang bekerja di luar tradisi Soviet Marxism, seperti Brecht dan Walter Benjamin. Dalam periode ini juga pikirannya tumpang-tindih dan banyak bersinggungan dengan realisme sosialis Soviet yang disebutkan di atas. Bagaimanapun, kedudukan dan suasana pemikiran yang cenderung seragam, tidak membuatnya larut begitu saja. Karyanya, Lenin, yang ditulis dalam periode ini memperlihatkan penguasaan teoretik yang mendalam dan keluwesan berpikir, dan menjadi salah satu naskah dalam langgam Soviet Marxism yang paling disegani. Sekembalinya ke Hungaria pada 1945, Lukacs terus menulis tentang realisme dan masalah estetika pada umumnya. Dalam periode ini ia berpikir ulang tentang realisme sosialis yang berkembang di Uni Soviet, dan menolak sebagian konsep langgam itu, terutama setelah terjadinya invasi tentara Soviet ke Hungaria tahun 1956 dan de-Stalinisasi di dalam partai pada saat bersamaan. Perjalanan hidup dan pemikirannya yang berakhir tahun 1971, sekali lagi memperlihatkan kompleksitas teori Marxis tentang seni dan sastra. Realisme sosialis baginya satu eksperimen yang bersambungan dari segi tekanan pada realisme, tapi bertentangan dengan prinsip ‘mediasi’ antara seni dan kenyataan.

Rangkaian  pemikirannya  tentang  realisme  sosialis,  yang ditelusuri oleh Ibe Karyanto ini—berkebalikan dengan reduksi yang dibuat sejumlah penulis sebelumnya—-menunjukkan
 bahwa konsep itu adalah salah satu buah pikiran dalam tradisi 
teori Marxis yang tidak dapat dianggap identik dengan tradisi 
itu sendiri.

Usaha menelusuri kembali makna, pengertian dan penggunaan berbagai istilah, seperti realisme sosialis, bukan hal yang mudah, mengingat terbatasnya referensi dalam bahasa Indonesia, dan keterbatasan akses terhadap bahan-bahan berbahasa asing. Tentu saja halaman-halaman berikut masih sarat dengan kekurangan, yang memerlukan kritik dan penelitian lebih lanjut. Masih banyak studi lain tentang tema ini maupun lainnya yang diperlukan untuk membuka wacana teoretik yang berpijak pada argumentasi ilmiah, sebagai lawan dari penilaian subyektif-emosional. Dalam konteks inilah buah penelitian Ibe Karyanto tentang konsep realisme sosialis dalam pemikiran Georg Lukacs menjadi sumbangan berharga bagi perkembangan kajian budaya di Indonesia. Semoga.

Hilmar Farid, 1997

Catatan: Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku Realisme Sosialis George Lukacs karya Ibe Karyanto yang diterbitkan pada 1997 oleh Gramedia dan Jaringan Kerja Budaya.

 Catatan Kaki:

  1. Beberapa penulis dari kalangan Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer dan Bakri Siregar pernah menggunakan metode realisme sosialis untuk mengamati perkembangan sastra Indonesia. Lihat Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Satra Indonesia (1963) dan Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Modern Indonesia (1964).
  2. Yahaya Ismail, Pertumbuhan,    Perkembangan   dan   Kejatuhan   Lekra di Indonesia, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1972. Lihat juga naskah Manifes Kebudayaan dan penjelasannya di bagian lampiran.
  3. ‘Dalam ulasannya tentang politik kebudayaan di Indonesia itu ada banyak soal, seperti tidak dilihatnya arti sebuah organisasi bagi seorang sastrawan pada zaman itu, baik Lekra, Lesbumi, LKN dan lainnya. Organisasi diperlakukan sedemikian rupa sehingga niscaya bersifat ‘asing’ bagi semua orang, dan dengan begitu setiap tindakan partai terlihat seperti ‘intervensi’ dari luar terhadap diri sastrawan dan pemikir. Tidak terpikir misalnya bahwa para pemikir dan seniman melihat masing-masing organisasi sebagai perwujudan (embodiment) dari cita-cita dan aspirasi mereka. Tapi untuk masuk ke dalam diskusi ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang bangunan pemikiran dan aktivitas masing-masing organisasi. Lihat misalnya Keith Foulcher, Social Commitment in Literature and the Arts: The Institute of People’s Culture, Monash University, 1986.
  4. Di negeri jajahan, ide ini juga sempat berkembang, walau terbatas pada pengertian bacaan (literature) secara umum, bukan khusus penulisan kreatif atau fiksi. Di Indonesia misalnya, pada 1920-an konsep socialistisch literatuur muncul dari kalangan pergerakan,  yang  melihat  perlunya gerakan  rakyat dilengkapi dengan bacaan yang ‘tidak menyesatkan’ alias membela kepentingan pemodal dan penguasa kolonial. Lihat Razif, ‘Bacaan Liar’ di Hindia Belanda, 1997 (akan diterbitkan).
  5. Tumbuhnya realisme sosialis di Uni Soviet selama ini menarik perhatian banyak peneliti, baik dari segi sejarah maupun perdebatan teoretiknya. Lihat pengantar yang cukup komprehensif, James C. Vaughan, Soviet Socialist Realism: Origins and Theory, New York: Martin Press, 1973.
  6. Hubungan seni dengan ideologi dan kepentingan kelas adalah salah satu tema sentral dalam teori Marxis tentang seni. Pendapat Marx dan Engels tentang tema ini yang tersebar dalam berbagai tulisan menimbulkan banyak tafsir dan perdebatan. Tentang perdebatan ini lihat Raymond Williams, Marxism and Literature, London: Oxford University Press, 1977.
  7. Lebih lanjut centang perdebatan ini, lihat Henri Arvon, Marxist Aesthetics, Ithaca; Cornell Univesity Press, 1973. Beberapa naskah perdebatannya dikumpulkan oleh Ernst Bloth dalam Aesthetics and Politics, London: New Left Books, 1977.