Tersentak saya mendengar kabar Andi Munajat dan anaknya* meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Beberapa minggu sebelumnya, setelah sekian tahun tidak berkabar, saya sempat bicara dengannya di telepon. Rudy Gunawan, seorang sahabatnya, yang memberi nomer teleponnya. Lama kami bicara, bertukar cerita tentang keadaan masing-masing, diselingi gurauan yang mengingatkan pada masa-masa ia menjadi aktivis mahasiswa. la sering datang pada saat tak terduga, tengah malam menjelang dini hari, tanpa pemberitahuan atau permisi. Begitu datang langsung rebah dan hanya bangun untuk makan dan minum kopi. Setelah ngobrol sebentar dan menyampaikan informasi penting maupun tak penting dari tempat-tempat yang baru disinggahinya, ia berangkat lagi ke tujuan berikut. Itulah Andi Munajat. “Umurnya itu habis di jalan,” komentar Joebaar Ajoeb, mantan sekretaris umum Lekra ketika Andi saya ajak berkunjung ke rumahnya. Agak profetis, karena benar maut menjumpainya di jalan raya.

Perjalanan hidup Andi Munajat tidak istimewa. Sama seperti ribuan pemuda seusianya, ia besar dan tumbuh dewasa saat political performance Orde Baru sedang berada pada puncaknya. Kehidupan poIitik memasuki periode yang paling menjemukan dalam sejarah moderen Indonesia. Ketegangan sosial yang mulai meluas akibat pembangunan diatasi dengan represi politik. Soeharto secara lugas mengatakan “pembangunan perlu pengorbanan,” dan air mata para korban pun tak sampai jatuh ke tanah. Pendapatan besar dari minyak, gas dan hutan, membuat Orde Baru bisa tutup kuping terhadap kritik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dan kampus yang semestinya menjadi tempat masalah-masalah ini dibahas secara kritis pun bungkam. Gerakan mahasiswa baru selesai ditumpas, NKK/BKK ditegakkan, dan sistem kredit semester yang baru memaksa mahasiswa untuk bergegas menyelesaikan studi. Semua ini bukanlah lahan subur bagi aktivisme.

Lalu dari mana orang seperti Andi Munajat dan kawan-kawan seangkatannya muncul? Mengapa mereka, di tengah kelesuan massal akibat represi dan mukjizat pembangunan (bagi kelas menengah) justru tergerak memulai dan memimpin gerakan mahasiswa yang bermuara pada jatuhnya Soeharto? Mengapa mereka, tidak seperti mahasiswa dan anak muda lainnya, memilih untuk bersusah payah memikirkan dan memperjuangkan nasib orang lain? Mengapa mereka tidak, seperti mahasiswa dan anak muda lainnya, menelan ilmu yang disodorkan, cepat menjadi sarjana dan masuk dalam angkatan kerja untuk menunjang sistem?

Andi Munajat dan kawan-kawan seangkatannya yang mengawali gerakan mahasiswa di era 1980-an adalah bukti bahwa indoktrinasi Orde Baru sebenarnya tidak pernah efektif. Penataran P4 atau kuliah Pancasila-yang di Fakultas Filsafat UGM tempat Andi kuliah, bahkan menjadi matakuliah wajib selama beberapa semester-seperti tutup panci yang kekecilan. Orang dengan mudah dapat melongok ke dalam dan melihat apa yang berusaha ditutupi. Materi P4 dan pidato Soeharto yang membosankan jelas tidak bisa menutupi ketidakadilan sosial yang meluas ketika Andi mulai kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Letupan kesadaran pertama tentu datang dari kontras ini: di satu sisi mendengar hal-hal baik yang disampaikan penguasa, dan kenyataan yang sepenuhnya terbalik dari apa yang disampaikan. Langkanya pikiran kritis di kampus membuat para mahasiswa muda ini mencari jawabnya di luar dinding kelas.

Tapi di luar sana juga tidak ada sesuatu yang siap menampung rasa ingin tahu dan kegelisahan mereka. Dan inilah yang unik dari gerakan mahasiswa di masa itu. Mereka tidak punya mentor, guru atau pembimbing. Organisasi mahasiswa seperti HMI, GMNI dan PMKRI atau partai politik dan organisasi sosial jelas bukan sumber inspirasi, dan sikapnya terhadap banyak masalah sosial juga mengecewakan. Hubungan dengan aktivis mahasiswa generasi sebelumnya juga serba terbatas apalagi dengan tokoh oposisi politik. Maka jadilah gerakan yang sruntulan, maju terus sambil mencari bentuk. Para aktivis mencoba bermacam cara untuk menggalang dukungan dan merekrut tenaga baru yang diilhami literatur revolusioner yang mulai bertebaran di kampus dan tempat kos atau juga obrolan hasil evaluasi kegiatan sebelumnya. Bentuk organisasi yang paling khas dari angkatan ini di masa awal adalah ‘komite aksi’.1 Dasar persatuannya bukanlah ideologi atau tujuan politik tapi semata-mata kebutuhan untuk menanggapi persoalan tertentu. Sifatnya sementara, dipimpin seorang koordinator dan dibantu perangkat lainnya yang ditunjuk dalam rapat semalam atau sehari sebelumnya, dan langsung bubar setelah tugas usai.

Kisah-kisah perjuangan menjadi menarik karena penuh coba-coba, salah kaprah dan kejadian komikal. Tidak ada yang tahu awalnya bagaimana menyelenggarakan mimbar bebas, apalagi aksi massa di jalan raya. Apalagi menggalang dukungan, membagi kerja dan membangun perangkat organisasi. Dan harus diakui bahwa organisasi-organisasi pertama yang muncul di masa ini masih jauh dari teratur. Karena itu laporan intelijen yang diterbitkan oleh suratkabar dan majalah mengenai struktur dan jaringan SMID sewaktu gerakan pro-demokrasi digebuk menyusul peristiwa 27 Juli 1996, terlihat seperti cerita detektif yang menakjubkan. Bagaimana mungkin gerakan yang sruntulan ini tiba-tiba punya struktur dan jaringan yang hebat dan rapi dengan agen yang tersebar di berbagai sektor dan daerah, bahkan ke luar negeri? Kalau saja laporan intelijen itu benar mungkin Soeharto tidak harus menunggu sampai Mei 1998 untuk pamit sebagai presiden. Saya kira justru watak gerakan mahasiswa yang sruntulan itulah yang membuat ‘reformasi’ menjadi seperti sekarang. Agenda politik yang hebat dari beberapa kelompok mahasiswa radikal tidak didukung oleh kekuatan masif yang mengusungnya, sehingga dengan mudah arus perubahan dikendalikan oleh kalangan elite yang lompat gerbong.

Tapi keliru juga kalau kita berpikir tentang gerakan mahasiswa, dan gerakan pro-demokrasi secara umum, semata-mata sebagai reaksi spontan terhadap ketidakadilan. Andi Munajat dan angkatannya mengawali sebuah tradisi baru dengan merumuskan program perjuangan yang bersifat jangka panjang, bukan hanya soal gonta-ganti pemimpin rezim. Struktur organisasi dibuat lebih rapi walau tidak bisa menggantikan dominasi pola ‘komite aksi’, dan jaringan pun diperluas menjangkau berbagai kota, daerah dan kalangan. Produksi selebaran, pamflet dan juga bahan-bahan pendidikan semakin meluas sementara pers kampus menjadi semakin radikal. Di berbagai kota pun muncul sosok penting dalam gerakan mahasiswa: organizer. Dan tidak berlebihan kiranya jika Andi Munajat disebut sebagai archetype dari sosok organizer ini.

Hilmar Farid, 2009

*Tulisan ini diterbitkan sebagai pengantar buku Menyulut Lahan Kering Perlawanan: Gerakan Mahasiswa 1990-an: Tribute to Andi Munajat, karya  FX. Rudy Gunawan, Nezar Patria, Wilson dan Yayan Sopyan yang diterbitkan oleh Spasi dan VHR Book pada 2009

Foto diambil dari grup Facebook “In Memoriam ANDI MUNAJAT”