Takashi Shiraishi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926.

Itacha and London: Cornell University Press, 1990. xxi + 365 halaman.

DIMULAI dengan tanggapan terhadap historiografi ortodoks, penulis buku ini menguraikan pandangan yang amat tajam dan kritis terhadap sejarah politik Indonesia pada awal abad XX. Historiografi ortodoks dilihatnya sebagai satu cara pandang yang antara lain bersumber pada karya trilogi J.Th. Petrus Blumberger. Karya trilogi yang membagi pergerakan di Hindia menjadi tiga golongan besar, memang sering di gunakan untuk membicarakan pergerakan di Hindia. Sejak Indonesia memperoleh kemerdekaan, pemikiran ini dikawinkan dengan perspektif Indonesiasentris, yang pertama kali dicetuskan oleh Muhammad Yamin. Hasil yang dicapai adalah munculnya klasifikasi berdasarkan ideologi dan organisasi yaitu golongan Islam, nasionalis, dan komunis. Baik tokoh-tokoh maupun organisasi pergerakan kemudian dipaksa untuk masuk dalam salah satu golongan tertentu untuk diperhatikan arti pentingnya dalam sejarah.

Historiografi ortodoks melihat pergerakan di Hindia sebagai gerakan di mana sebuah bangsa yang masih belum bernama (yet-nameless nation) bergerak mencapai tujuannya, Indonesia Merdeka. Kecenderungan teleologis seperti ini lalu mencari arti penting seorang tokoh atau sebuah peristiwa dari apa yang terjadi kemudian. Kartini dan Budi Utomo pun muncul sebagai pelopor pergerakan nasional, yang berakhir dengan adanya Sumpah Pemuda dan munculnya PNI (Partai Nasional Indonesia) sebagai wakil gagasan Indonesia Merdeka.

Klasifikasi berdasarkan ideologi dan organisasi ini sebenarnya bukan penemuan baru yang diciptakan para sejarawan. Arsip-arsip negara Hindia Belanda lebih berperan dalam menentukan pembagian ini. Tujuannya adalah untuk membuat Hindia menjadi rumah kaca, di mana gerak-gerik rakyat dapat diikuti dengan baik. Hal ini dilakukan lebih banyak demi pengawasan, ketimbang kepentingan akademis.

Kelemahan jenis historiografi ini segera terlihat ketika sejumlah tokoh dan berbagai peristiwa hilang dari panggung pergerakan. Karya ini antara lain berusaha mengangkat kembali tokoh dan peristiwa yang sempat ‘terkubur’ dalam penulisan sejarah Indonesia. Shiraishi kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan yang lebih mendasar sifatnya, seperti: siapa yang bergerak, dan dalam situasi seperti apa? Siapa yang menjadi musuh di mata kaum pergerakan? Dalam bentuk dan bahasa seperti apa mereka bergerak? Bagaimana kaum pergerakan itu berhadapan dengan kenyataan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Shiraishi dengan seksama menyelidiki berbagai sumber, lalu membaca setiap tindakan dan ucapan para pemimpin dan anggota pergerakan dengan meletakkannya dalam konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik. Untuk mencapai tujuan itu dia memusatkan perhatian pada kota Surakarta yang dilihatnya sebagai satu-satunya tempat di mana semua kekuatan sosial terlibat dalam pergerakan — baik sebagai kawan maupun lawan.

Dengan cara pandang baru ini, studi tersebut dibagi menjadi empat bagian. Pada bagian awal diceritakan bagaimana modal dan pendidikan berpengaruh dalam kehidupan di Hindia. Pendidikan Belanda yang sekuler, bidang kerja baru bagi para pribumi, membawa serta kaoem moeda dalam kancah kehidupan di Hindia. Golongan ini tentu membawa serta pandangan dan kesadaran baru terhadap dunia. Kesadaran baru — yang dikenal sebagai kesadaran nasional dalam historiografi ortodoks — dalam buku ini dikaji lebih mendalam. Shiraishi berusaha mencari gagasan apa yang sebenarnya ingin ditampilkan para pelaku. Dengan menganalisa novel Student Hidjo karya Mas Marco, penulis buku ini memiliki pandangan bahwa yang paling mencolok pada masa moderen ini adalah kemajuan (progress) dan modernitas (modernity).

Dalam buku ini, pergerakan dimulai dengan munculnya Sarekat Islam pada 1912 di Surakarta. Kegiatan yang diadakan oleh organisasi ini, seperti sekolah untuk kaum Muslim, penerbitan suratkabar Sarotomo, dan boikot adalah bentuk dan bahasa baru yang ditampilkan rakyat. Meluasnya Sarekat Islam merupakan sesuatu yang penting, karena menandai keterlibatan rakyat Hindia dalam sebuah era baru, yakni pergerakan. Tirtoadhisoerjo, pendiri SDI dan aktivis SI pada tahun-tahun awalnya, kembali mendapat tempat di atas panggung sejarah. Tokoh yang nyaris dilupakan oleh para sejarawan, dalam buku ini dinobatkan sebagai pimpinan era baru ini. Sebaliknya H.O.S. Tjokroaminoto yang selama ini duduk tenang pada posisinya sebagai pemimpin SI dalam penulisan sejarah, digugat melalui karya ini dan ditempatkan pada posisi yang tepat sebagai satria yang bergerak di bawah perlindungan pemerintah kolonial. Tokoh lain yang tidak kurang pentingnya adalah Mas Marco Kartodi-kromo, seorang jurnalis sekaligus pengarang, dan ‘murid’ R.M. Tirtoadhisoerjo. Tokoh ini sangat aktif pada masa itu melalui kegiatan jurnalistiknya, yang membuatnya sering mendekam dalam penjara.

Babak Kegiatan

Pertemuan (vergadering) adalah elemen penting untuk menjelaskan masa awal pergerakan ini. Kegiatan yang pertama kali diperkenalkan oleh Douwes Dekker, kini digerakkan dalam tubuh SI. Digerakkannya bentuk dan bahasa politik yang baru menjadi ciri penting dari pergerakan. Dalam vergadering ini ada suasana baru yang muncul, di mana orang dengan bebas bicara secara langsung. Dalam berbicara (voordracht) ini, para pelaku menggunakan berbagai bahasa, termasuk di antaranya bahasa Ratu Adil. Tetapi berbeda dengan penjelasan ilmuwan lain, yang melihat gejala Ratu Adil ini sebagai sebab meluasnya SI, Shiraishi melihat bahwa pengalaman yang tidak lazim dan aneh dari vergadering yang mengakibatkan munculnya bahasa Ratu Adil pada masa itu. Melebarnya sayap-sayap SI dengan cepat, seketika menimbulkan gosip di kalangan rakyat tentang munculnya Ratu Adil.

Dalam babak kedua, pertemuan-pertemuan yang mewarnai babak sebelumnya, diganti oleh gejala baru dalam pergerakan yaitu pemogokan. Dari akhir tahun 1918 sampai tahun 1919, muncul puluhan serikat buruh di Hindia yang memperjuangkan keadaan ekonomi mereka. Zaman ini menyaksikan munculnya tokoh-tokoh baru seperti Semaoen di Semarang, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Hadji Misbach di Surakarta, serta lembaga baru dalam kehidupan politik Hindia, yakni Volksraad. Di samping menyerang politik kolonial, kaum pergerakan juga menyerang tradisi budaya Jawa sembah jongkok, yang dianggap tidak moderen. Gerakan Djawa Dipa adalah salah satu bentuk serangan yang disebut belakangan.

Semaoen yang memimpin kegiatan SI Semarang merupakan penerjemah dan mengambil alih gagasan sosialisme yang dibawa oleh tokoh-tokoh sosialis Belanda, seperti Sneevliet dan Bergsma. Tjipto mengubah pernyataan-pernyataan politiknya menjadi senjata, sementara Hadji Misbach belajar dari toean Karl Marx tentang gagasan komunisme yang digunakan olehnya dalam perjuangan Islam. Proses penerjemahan dan ambil alih gagasan yang dinamis dan rumit ini yang dilihat Shiraishi sebagai esensi dari pergerakan. Dia tampaknya terkesima dengan gagasan Hadji Misbach yang menyatukan gagasan Islam dengan komunisme. Gagasan yang unik dan orisinal ini — hal yang sama juga ada pada gagasan Tjipto — memperlihatkan bahwa pendekatan dengan klasifikasi berdasarkan organisasi tidak dapat dipertahankan lagi. Hadji Misbach yang aktif di Insu-linde dan dekat dengan orang-orang Muhammadiyah, menyebut bahwa komunisme tidak dapat dipisahkan dari Islam. Tidak seperti Soekarno yang coba menyatukan tiga ideologi untuk keperluan politik, Misbach justeru membuat semacam sintesa dari dua pemikiran yang selama ini dianggap bertolak belakang dalam pergerakan.

Babak berikutnya adalah zaman reaksi dan partai. Pada masa ini (sejak 1920), keadaan ekonomi di Hindia Belanda mulai memburuk. Di bawah pimpinan Gubernur Jendral Dirk Fock, pemerintah mulai menekan gerakan buruh. Kegiatan mereka tidak lagi dilihat sebagai urusan politik, seperti pada masa sebelumnya, melainkan menjadi urusan polisi. Pajak mulai dinaikkan sementara kegiatan bisnis dibiarkan berjalan terus. Kaum pergerakan mulai melihat   adanya   musuh   yang jelas, yaitu kaoem kapitalisten yang mereka anggap sebagai sumber keterbelakangan rakyat Hindia. Gagasan sosialisme mulai meluas pada masa ini melalui aksi propaganda dan suratkabar.

Di samping perkembangan itu, di dalam tubuh pergerakan sendiri ada perkembangan baru, yaitu meruncingnya persaingan di antara dua kekuatan; CSI/PSI di satu pihak melawan PKI/SI Merah di pihak lain. Disiplin partai, gagasan yang melarang keanggotaan ganda dalam suatu organisasi diperkenalkan oleh Soewardi Soerjaningrat dan Tan Malaka, berakibat munculnya partai-partai yang kaku dan berkurangnya kemungkinan para tokoh untuk berbicara langsung sebagai orang pertama. Shiraishi melihat bahwa satu-satunya kemungkinan untuk tetap bertahan adalah dengan pembentukan partai. Pemogokan PPPB 1922 dan pemogokan VSTP 1923, menandai redupnya gerakan massa di Jawa, yang kemudian hanya menyisakan tokoh-tokoh yang paling aktif dan militan di atas panggung pergerakan. Pada pemogokan yang disebut terakhir, VSTP, PPPB, dan PFB, yang selama ini menjadi vanguard gerakan massa, dihancurkan oleh pemerintah kolonial.

Dengan kemenangannya dalam ‘pertarungan’ dengan CSI/PSI, PKI/SI Merah tampil sebagai pewaris pergerakan yang masih dapat bertahan. Kekuatan itu mulai memegang kendali pergerakan sampai 1927. Tokoh-tokoh yang memimpin era ini, seperti Semaoen, membawa gagasan yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya. Tata tentreming dan katentreman mulai digugat, hal yang sbelumnya tidak dilakukan. Hadji Misbach sendiri sekembalinya dari penjara, dengan tegas berpihak pada PKI/SI Merah. Sikap memihak ini tidak berarti tokoh itu meninggalkan pemikiran Islam yang tetap dipegang sampai akhir perjuangan. Kemenangan PKI ini membuat pihak kolonial mengubah cara pandangnya. Pergerakan kini dilihat identik dengan gerakan komunis, yang membuat konteks politiknya juga berubah. Pengawasan terhadap organisasi dan suratkabar yang dianggap komunis, makin ketat. Bagian ini memberikan pengetahuan yang baik mengenai pengawasan politik dari polisi Hin­dia Belanda terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Pergerakan pola pengawasan seperti ini diperhatikan se­cara seksama oleh Shiraishi sejak awal karya ini.

Pemberontakan Banten dan Silungkang yang melibatkan semua organisasi radikal di Hindia, menjadi titik balik dalam dunia pergerakan. Sejumlah to­koh dan organisasi yang paling aktif dalam dunia pergerakan, hancur dengan dibuangnya ratusan orang ke Boven Digoel. Pergerakan, yang dimulai de­ngan hadirnya Sarekat Islam, menemui ajalnya.

Uraian Takashi Shiraishi ini mulanya merupakan disertasi pada Cornell Uni­versity, yang ditulis untuk mencapai gelar PhD pada 1986. Dari diser­tasi tersebut, buku ini tidak mengalami banyak perubahan yang mendasar. Hanya bagian penutup (epilogue) men­jadi tambahan yang cukup bermakna.

Hal yang menarik untuk, diperhati­kan adalah gagasan pengarang buku ini mengenai sejarah Indonesia. Perge­rakan tidak dilihat sebagai masa transisi masyarakat Hindia menuju bentuk In­donesia Merdeka. Hal itu secara tegas ditolak dengan mengajukan bukti-bukti bahwa tokoh pergerakan masih banyak yang berbicara dalam bahasa pan-Islam-isme atau pan-komunisme, walaupun konsep ‘Indonesia’ sudah mulai diguna­kan. Pergerakan sebagai proses yang ru­mit dan dinamis memperkenalkan bentuk-bentuk baru dalam dunia politik Hindia. Elemen-elemen yang ditampil­kan jauh lebih berarti dari sekedar tem­pelan pada suatu masa transisi, seperti yang didengungkan selama ini. Justeru dengan memperhatikan apa yang telah ditampilkan dalam pergerakan dengan seksama, Shiraishi mendapat pemaham­an yang mendalam tentang dunia per­gerakan Hindia.

Tetap digunakannya istilah ‘perge­rakan’ dalam karya ini, memperlihatkan sikap teliti dan hati-hati dari penulis­nya. Untuk menerjemahkan konsep ‘ge­rak’ itu pun dia memberikan penjelasan khusus, dan kemudian malah memilih kata motion ketimbang movement yang selama ini digunakan. Dengan kata motion atau to put in motion Shiraishi berhasil menjelaskan keadaan di mana peran-peran “menggerakkan” gagasan-gagasan yang ada dalam bentuk dan bahasa mereka. Shiraishi seakan menyu­sun sebuah cerita, di mana para pelaku sendiri yang membuat panggung dan naskahnya.

Ketika membaca karya ini, saya ke­mudian teringat pernyataan seorang se­jarawan, bahwa manusia yang mem­buat sejarah, di bawah kondisi tertentu yang sebenarnya juga merupakan hasil karya mereka.

Hilmar Farid, 1991

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Prisma edisi Nasionalisme Gelombang Ketiga, Februari 1991. Buku An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 diterbitkan pada 1997 dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Grafiti dengan judul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912 -1926 dan diterjemahkan oleh Hilmar Farid.

Sumber foto: Wikipedia