Setahun lalu. “Semuanya sudah saya serahkan kepada Indonesia. Semuanya. Tapi kenapa begini jadinya?” Pram tergeletak sakit di kamar depan rumahnya di Utan Kayu. Untuk pertama kali saya melihat Pram menangis. Saya hanya diam sambil memijat-mijat kakinya yang tidak sakit.

Dengan puluhan buku karya sastra dan ratusan cerita pendek serta esai, yang sebagian diterjemahkan ke dalam semua bahasa utama di dunia dan beberapa bahasa lain di Asia dan Eropa, Pram menjadi penulis yang paling giat memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Selama beberapa tahun namanya disebut sebagai calon penerima Nobel. Beberapa universitas di Amerika memberinya gelar doctor honoris causa. Pinggan dan piagam penghargaan menghiasi dinding dan meja kamar tamunya yang luas. Tapi hanya satu, mungkin dua, yang berasal dari Indonesia.

Memang, di negerinya sendiri untuk waktu cukup lama Pram justru dihujat. Setelah dilepas dari kurungan ia masih dilihat seperti penyakit yang harus dijauhi. Entah sengaja atau sekadar ceroboh, sampai akhir 1990-an kantor Telkom masih mencantumkan namanya di halaman kuning buku telepon sebagai Pramoedya Ananta Tour di kolom biro perjalanan wisata. Rumahnya sampai cukup lama ditongkrongi intel yang membuat gerah tamu-tamunya. Sampai sekarang namanya tidak ada dalam kurikulum sastra untuk sekolah menengah, dan hanya beberapa guru yang berpikiran merdeka mau membahas karya dan pemikirannya saat mengajar.

Tapi bukan ketiadaan penghargaan atau pengakuan yang membuatnya menangis. Toh dalam beberapa tahun terakhir, ketika tekanan terhadap dirinya melonggar, pengakuan dari dalam negeri mulai bermunculan dalam berbagai bentuk: mulai dari penghargaan resmi lengkap dengan plakat dan upacara sampai pada perayaan ulang tahun yang megah. Beberapa tahun terakhir bahkan ada yang mengklaim diri “Pramis” atau pengikut Pram, yang membuat Pram menjadi orang Indonesia kedua dengan pengikut yang dengan sukacita mengidentifikasi diri dengan namanya, setelah Soekarno.

Pram menangis karena risau melihat keadaan Indonesia yang dicintainya. Jika Pangemanann dalam Rumah Kaca selalu melihat hantu Pitung dan mendesis “zih!” Pram saat itu seperti melihat hantu kekuasaan kolonial berkeliaran dan berubah ujud dari waktu ke waktu. “Kesalahan ini tidak pernah kita koreksi.” Suaranya parau. “Nama Indonesia saja kita ambil tanpa tahu dari mana datangnya. Para pembesar sampai sekarang tidak berpikir soal ini.” Keadaan Indonesia memang parah dan, seperti kata mantan sekretaris umum LEKRA Joebaar Ajoeb, sekitar sepuluh tahun lalu, mungkin “lambat laun hanya akan tersisa sebagai nama di atas peta.” Sebuah kenyataan geografis dalam bahasa Pram.

Pram mengabdikan seluruh usia produktifnya untuk mempelajari, berpikir dan menulis tentang Indonesia. Seusai perang yang memastikan keberadaan Indonesia secara politik dan hukum, ia angkat pena untuk merajut Indonesia menjadi kenyataan sosial. Sejak 1956 ia mulai sibuk mempelajari sejarah negerinya dengan menjadi tamu tetap di perpustakaan Museum Nasional di Jakarta dan juga berkeliling Indonesia menemui orang untuk diwawancarai. Selama tiga tahun ia tidak banyak menulis. Sepertinya mengumpulkan tenaga dan mengerahkan pikiran untuk sebuah proyek besar.

Pada awal 1960 buku pertamanya mengenai sejarah terbit, Hoakiau di Indonesia. Buku itu sempat membuatnya mendekam di penjara selama setahun. Tulisannya menyentak. Sementara para pejabat saat itu berlomba menonjolkan ‘keaslian’ dan mengobarkan permusuhan terhadap orang Tionghoa yang dianggap ‘asing’, Pram justru menyatakan bahwa darah Tionghoa mengalir deras dalam tubuh Indonesia. Bukan hanya di bidang perdagangan dan teknologi, di bidang sastra pun pengaruh Tionghoa peranakan sungguh besar.

Ia sering mengutarakan pendapat yang mengejutkan dan mungkin terkesan eksentrik. Misalnya, masih di sekitar persoalan hoakiau, ia berpendapat tanda ‘warisan’ Tiongkok di Asia dan Eropa adalah bercak biru pada pantat bayi yang ditinggalkan tentara Mongol saat menyerbu dan menduduki sebagian wilayah di kedua benua itu. Pendapat ini tentu memukul kesadaran tentang keaslian ras dan kebudayaan. Saya tidak percaya ‘tesis’ itu – mungkin karena kurang banyak pantat bayi Asia dan Eropa yang saya periksa – dan akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama tentang ‘keaslian’ melalui jalan berbeda.

Begitulah Pram, dengan caranya sendiri berusaha memahami Indonesia. Sementara banyak ilmuwan sibuk mengunyah teori dan pemikiran orang lain untuk berbicara, Pram memilih menyerap dan mencerna kenyataan lalu mengeluarkannya sebagai kenyataan baru. “Materi hulu ia hilirkan dalam benaknya, dengannya dan dengan kata ia membikin kenyataan baru. Dia bukan menjiplak kenyataan hulu, dia membikin kenyataan baru dengan kenyataan hilir.” Demikian pendapatnya mengenai tugas seorang penulis. “Saya nggak ngerti teori,” katanya suatu ketika. Saya kira ia jujur.

Usaha mempelajari Indonesia mulai mendapat dorongan kuat setelah ia keluar dari penjara karena kasus Hoakiau. Tawaran mengajar di Universitas Res Publica mempertemukannya dengan puluhan mahasiswa yang memungkinkannya melanjutkan proyek penulisan sejarah yang kolosal itu. Setiap semester ia mengirim mahasiswanya mempelajari bahan-bahan sejarah di perpustakaan Museum Nasional, yang lambat-laun membantunya membangun sebuah perpustakaan sejarah yang luar biasa, dengan sekitar 5.000 judul buku, belum termasuk salinan suratkabar dan majalah lama, rekaman wawancara, arsip dan dokumen lainnya.

Dalam periode ini ia mulai menyusun riwayat Indonesia secara sistematis. Tentu tidak semua setuju pada pikirannya, pun pada keinginannya untuk membangun Indonesia seperti yang dicita-citakannya. Dan inilah sumber ‘polemik’ yang menghebohkan itu. Sejak 1962 lembar kebudayaan ‘Lentera’ dalam harian Bintang Timur menjadi corong utamanya untuk bicara. Ia menggasak sastrawan dan tokoh kebudayaan yang tidak sepaham, menyudutkan mereka sebagai ‘agen imperialis’. Ia bahkan dituduh membunuh beberapa tokoh penting dalam sastra Indonesia. Dengan pena.

Tapi jika melihat isi ‘Lentera’ secara keseluruhan maka jelas bahwa kecaman pedas dan ‘polemik’ tajam itu adalah bagian dari kritik sejarah dan kebudayaan yang lebih luas. Setiap minggu ia menulis sekurangnya 40 halaman ketik rapat untuk ‘Lentera’, belasan halaman lain untuk studinya tentang berbagai aspek sejarah negerinya, seperti empat jilid Panggil Aku Kartini Sadja, studi tentang asal-usul sastra Indonesia dan studi tentang perkembangan bahasa Indonesia. Di sini Pram merajut pengertiannya tentang Indonesia dan melahirkan sejumlah tesis penting – yang tidak eksentrik – mengenai asal-usul negerinya.

Polemik dan serangan kadang menjadi keras dan bahkan kasar tidak lain karena Pram menganggap suasana saat itu sungguh genting. Persoalan baginya adalah “memukul atau dipukul” dan peristiwa 1965 yang kemudian mengubah hidupnya secara drastis menjadi bukti bahwa pendapatnya tidak salah. Tidak semua karyanya, baik berupa monografi sejarah atau kumpulan bahan sejarah, seperti antologi sastra pra-Indonesia, kumpulan cerita pendek Soekarno, dan dua jilid sambungan Panggil Aku Kartini Sadja dapat diterbitkan. Kerja kreatif ini terhenti ketika “Orde Baru” menyerbu dan menghancurkan rumahnya pertengahan Oktober 1965.

Di Pulau Buru ia melanjutkan kerja raksasa ini. Ia ingin terus menulis sejarah, “tapi karena takut dikira memalsu sejarah, saya memilih novel,” katanya. Ia tidak salah pilih. Melalui Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah ia memperlihatkan bahwa ‘Indonesia’ dibangun dari keinginan melawan ketidakadilan yang berakar pada kolonialisme dan tradisi feodal Timur. Nasion Indonesia digambarkannya sebagai sebuah proyek politik yang tumbuh dalam masyarakat jajahan. Ia harus dibela dan dirawat untuk berkembang. Rumah Kaca menjelaskan mengapa kisah dalam tiga buku pertama seperti bukan berasal dari “sejarah Indonesia” yang kita kenal.

Bagi Pram, pembelaan terhadap Indonesia dimulai dengan merebut kembali pengetahuan tentang masa lalu yang selama ini dikuasai penguasa kolonial dan para pengikutnya di zaman merdeka. Dekolonisasi pikiran ini dilakukannya tidak hanya dengan menulis tapi juga dengan membuat bahan sejarah dalam bahasa Indonesia, misalnya dengan menerbitkan kembali karya sastra berbahasa Melayu pra-Indonesia, seperti Hikajat Siti Mariah dan Tempo Doeloe. Ia juga gencar memperkenalkan tokoh yang disingkirkan oleh kekuasaan kolonial, seperti RM Tirto Adhi Soerjo dan memperkenalkan segi-segi yang diabaikan dari tokoh terkemuka seperti RA Kartini.

Karena itu, sungguh tragis ketika ia kemudian disingkirkan dan dianiaya seperti tokoh-tokoh yang ia tulis. Tragis bagi Pramoedya, tragis bagi Indonesia, karena hanya membuktikan bahwa Orde Baru tidak lain adalah kelanjutan dari negara kolonial. Baginya, setelah Soeharto jatuh tidak ada perubahan yang berarti. Rumah dan naskah-naskahnya yang dirampas dan tidak pernah dikembalikan sampai jenazahnya diturunkan ke liang lahat, menjadi simbol bahwa kekuasaan congkak yang sama masih tegak. Tapi Pram tak pernah tunduk.

Selamat jalan, Bung! Obor yang kaunyalakan di malam gelap gulita, akan digenggam angkatan kemudian.

Hilmar Farid, 2006

Catatan: versi yang agak berbeda dimuat dalam Tempo, 12/XXXV/15 – 21 Mei 2006