Pada 16 Agustus 1969 Pramoedya Ananta Toer ikut dalam rombongan tahanan politik pertama sebanyak 500 yang dibawa ke Pulau Buru oleh penguasa Orde Baru. Ia dinaikkan kapal Angkatan Darat yang kondisinya sangat buruk, penuh kotoran manusia, di mana kecoa pun “ikut membonceng berkuasa atas diri kami.”[1] Sesampai di Buru, para tahanan harus membangun kamp tahanan mereka sendiri yang kemudian diberi nama Wanayasa Unit III. Bersama Pramoedya ada sejumlah tahanan penting lain, seperti Oei Hay Djoen dan Rivai Apin dari Lekra, dan RP Situmeang, anggota CC-PKI. Selama bulan-bulan pertama mereka hanya kerja badan. Pramoedya bergabung dengan regu ‘Jantan’ (Jalan dan Jembatan) yang tugasnya membangun fasilitas perhubungan antar unit. Selama enam bulan ia bersama tim kerjanya tinggal di luar kamp hanya beratap dan beralas daun. Persediaan makanan diberikan untuk delapan bulan, tapi dalam tiga bulan sudah habis sehingga akhirnya para tahanan hanya makan bulgur, nasi yang dicampur jagung.

Pramoedya, seperti tahanan lainnya, hidup susah. Makanan senantiasa kurang dan kerja keras di lapangan membuat bobotnya susut dalam waktu singkat. Di tengah keadaan serba sulit ini, kegiatan seni yang spontan kembali mengemuka, sebagai cara menyalurkan kesepian sendiri dan menjaga kesehatan pikiran, dan juga untuk berbagi dengan tahanan lain.[2] Salah satu bentuk yang populer adalah bercerita. Macam-macam cerita yang ditampilkan. Seorang tahanan senior, mantan bupati Karanganyar, memilih dongeng-dongeng terbitan Balai Pustaka 1930-an sebagai bahan ceritanya. Ada yang membuat cerita sendiri berdasarkan pengalamannya semasa revolusi. Seorang aktivis Lekra keturunan Tionghoa sementara itu menceritakan kisah Sam Kok berkeliling dari satu barak ke barak lain. Menariknya hampir semua kisah yang dipilih sebagai bahan cerita itu tidak berasal dari tradisi radikal yang diperjuangkan sebelum 1965. Tulisan Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah bahkan lebih populer. Alasannya karena para tukang cerita mau cari selamat, menghindari telinga para cecunguk yang siap mengadukan tahanan lain untuk kesenangan sendiri.

Kegiatan bercerita ini biasanya dilakukan siang hari saat istirahat di ladang atau sore hari setelah kerja wajib. Para pencerita duduk dikelilingi sekitar 20 tahanan lain di barak atau saung di ladang, dan bercerita selama satu-dua jam sambil sesekali menyelipkan pesan moral untuk membesarkan hati, menyemangati atau merenungi perjalanan hidup mereka. Pramoedya mulai merangkai apa yang kemudian menjadi karya Pulau Buru dengan cara seperti ini. Tapi sementara tahanan lain melakukannya untuk menyalurkan beban mental sendiri, Pramoedya punya misi khusus: menyelamatkan sejarah yang pernah diselidikinya sebelum 1965. Kepada Hasjim Rachman ia mengatakan, “Mana tahu kalau ajal tiba, teman-teman bisa meneruskannya nanti. Jangan sampai cerita sejarah ini hilang.”[3] Cerita mengenai Nyai Ontosoroh kemudian bersambung dari mulut ke mulut, diceritakan oleh tahanan lain kepada sesama dan segera menjadi populer. Ia biasanya bercerita sore hari setelah apel sore, semula hanya kepada beberapa orang saja yang iseng mendengarkan. Tapi setelah populer cukup banyak orang dari barak lain yang nimbrung, dan bahkan menanti-nanti untuk mendengarkan kelanjutan kisahnya.

Popularitas ini kemudian membuat Pramoedya menjadi figur sentral di unitnya. Ia dikenal sering membantu tahanan lain dan terutama mendengarkan keluhan mereka. Menurut Oei Hay Djoen, anggota Sekretariat Pusat Lekra, yang tinggal di barak yang sama:

 “Di Buru itu dia banyak berdiskusi dengan segala macam orang. Mengenai pekerjaan, mengenai teknik tanam, semua! Semua dia layani. Maka itu juga dia bisa berbicara, bisa menulis tentang berbagai hal karena kekayaan itu ada pada dirinya. Dan dia ndak pernah menunjukkan sikep yang angkuh. Selalu orang yang dateng dengan informasi, dengan keluhan, itu selalu welcome oleh dia. Selalu welcome.”[4]

Karena hubungan ini para tahanan kemudian dengan ringan membantunya mengumpulkan informasi mengenai sejarah. Tanpa direncanakan lalu muncul jaringan yang berporos pada Pramoedya dan kegiatannya untuk menyelidiki sejarah. Jaringan ini bukan kelanjutan dari struktur organisasi dari masa lalu, tapi terbentuk semata-mata karena persamaan nasib.

Tiga bulan setelah mendarat di Pulau Buru, Pramoedya mulai punya akses pada alat tulis. Bur Rasuanto, sastrawan yang datang dengan rombongan Jaksa Agung untuk meninjau Pulau Buru pada November 1969 memberinya hadiah buku tulis, sementara komandan kamp Mayor Kusno, saat mengakhiri masa dinas di Pulau Buru, memberinya buku tulis tebal ukuran folio dan pulpen pada bulan berikutnya. Di Jakarta memang ada tekanan kepada pemerintah agar para tahanan diberi kesempatan menulis, termasuk dari kalangan sastrawan seperti Bur Rasuanto. Walau tidak memprotes penahanan itu sendiri, mereka menganggap perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan pun tidak bisa dibenarkan. Harian Kompas dalam tajuknya menulis:

“Kompas mendukung maksud kedjaksaan-agung untuk dikemudian hari sesudah 8 bulan umur projek pulau Buru, memberi kesempatan menulis pada mereka. Sebab bagi orang2 jg memang mempunjai pekerdjaan (kekarjaan) menulis, adanja kesempatan menulis akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi masjarakat kita nanti. Meskipun seandainja tulisan mereka belum oportun (belum tepat) diterbitkan sekarang, tapi kelak bisa merupakan kekajaan kita bersama. Djika kemakmuran sudah bertahta, kita akan mendjadi tidak takut pada adjaran Marxisme jang disebarkan.”[5]

Pemberian buku tulis dan pena ini seperti berkah karena selama empat tahun dalam tahanan ia tidak pernah memegang alat tulis kecuali saat petugas memintanya untuk menandatangani dokumen resmi. Tapi menulis bukan hanya masalah kertas, pena dan izin dari penguasa. Dikatakannya:

 “Penahanan empat tahun tidak menentu ini ternyata telah menimbulkan kerusakan mental pada diriku. Pertanyaan yang kemudian timbul: Adakah aku masih punya sisa kekuatan untuk memulihkan kemampuan lama, ataukah akan selesai di sini saja riwayat hidupku sebagai pengarang, yang selama ini dianggap berforum nasional? Sudah selesaikah fungsi sosial dan fungsi nasionalku sebagai pengarang?”[6]

Keinginan untuk menulis lambat laun mulai timbul lagi dan Pramoedya sempat menyusun verlanglijst, daftar buku dan salinan dokumen dari Arsip Nasional, serta majalah dan koran lama yang diinginkannya. Daftar itu diserahkannya kepada komandan unit, yang kemudian meneruskannya ke komandan kamp dan selanjutnya ke Jakarta. Sampai akhir penahanan, bahan itu tidak pernah diterimanya.[7] Namun ia tetap menulis, walau sebatas catatan-catatan pribadi yang disebutnya “tulisan pengobatan.”

“Tulisan pengobatan ini tak memuaskan, tapi dia pengobatan. Dengan sangat lambat pikiran mulai mau disuruh bekerja. Dan dalam menulis kutemukan kembali diriku sebagai manusia Indonesia, tetap terhormat, hidup dan bergerak dalam nilai-nilai, menemukan kembali manusia dalam segala ketelanjangannya, terbebas dari pretensi dan ambisi, sebagai makhluk yang bukan tidak berdaya, bahkan menentukan dalam sejarahnya sendiri. Akhirnya manusia lebih penting dan menentukan daripada pretensi dan ambisinya sendiri.”[8]

Kesenangan ini tidak berlangsung lama. Pulpen yang diberikan oleh Mayor Kusno berpindah tangan karena ia memerlukan caping penahan panas saat kerja di ladang, sementara buku tulis yang diberikan habis menjadi kertas rokok. Sekitar Juli 1971 ia masuk ‘kelompok teladan’ dan kemudian diisolasi bersama beberapa kader tinggi PKI, antara lain karena tertangkap basah bercerita kepada tahanan lain.[9] Selama diisolasi ia tidak menulis dan semua tulisan yang pernah dibuatnya, ia bakar. Baru dua tahun kemudian saat dibebaskan dari isolasi dan kembali ke Unit III, “aku pergunakan untuk menulis. Impian lama untuk membuat roman tentang periode Kebangkitan Nasional mulai aku wujudkan.”[10] Pram menulis dengan cepat, dan dalam waktu beberapa bulan saja sembilan buku tulis terisi penuh. Namun,

“Pada suatu pagi disita oleh Tonwal, diserahkan pada Dan Unit Kusnadi. Naskah diteruskan pada Wadan Tefaat Letkol Soetarto. Aku sendiri di proses verbal oleh Jaksa Unit dan dipersalahkan. Aku tunjukkan surat dari bekas Dan Tefaat Kusno, tapi tanpa arti malah disalahkan karena tidak melaporkan pada Dan Unit baru. Dalam proses verbal yang harus aku tulis sendiri sebagaimana aku suka aku nyatakan naskah itu kubuat pada waktu senggang kerja, aku memohon – memohon! – agar diberi kesempatan di luar jam kerja untuk sekali lagi memberikan sesuatu pada Indonesia. Naskah itu tidak pernah kembali ke tanganku, seakan hak-cipta, bukan hak milik lagi di Indonesia ini.”[11]

Di luar negeri, terutama Eropa dan Amerika Serikat, nasib para tahanan mulai disoroti antara lain karena laporan yang dilansir Amnesty International dan para jurnalis yang sempat berkunjung ke sana. Bermacam kampanye pun digalang dan rupanya cukup efektif sehingga sampai juga ke Pangkopkamtib Jenderal Soemitro. Saat berkunjung ke Pulau Buru ia khusus berniat menemui Pramoedya karena mendapat banyak pertanyaan dari berbagai pihak di Eropa.[12] Dalam pertemuan ini Pramoedya meminta kesempatan menulis lagi, yang tanpa banyak pertanyaan dipenuhi oleh Soemitro. Tapi bahasa kemanusiaan Soemitro diterjemahkan berbeda oleh penguasa kamp. Tekanan agar para tahanan diberi kesempatan untuk berkarya bersambut gayung dengan kepentingan meningkatkan eksploitasi. Sekitar sebulan setelah kunjungan Soemitro, penguasa kamp mulai melakukan pengelompokan kembali para tahanan berdasarkan keahlian. Tiga belas ‘tapol kreatif’ dikumpulkan di Unit I untuk berlatih kerja di bidangnya masing-masing, termasuk Pramoedya. Di sana mereka dibebaskan dari beban kerja di ladang dan sebagai gantinya menjalani ‘hukuman’ berkarya.

Perubahan suasana di dalam kamp mulai dirasakan. Komandan Tefaat Buru yang baru, Kolonel Samsi MS, memerintahkan anak buahnya agar mengurangi, atau jika perlu menghapus, kebiasaan lama seperti hukuman fisik yang berlebihan dan baris-berbaris yang menguras tenaga para tahanan. Mereka juga diberi kebebasan mengorganisir kerja dengan sistem borongan. Mandornya dipilih dari kalangan tahanan sendiri. Pagar kawat yang semula mengelilingi unit-unit pun dicabuti. Kali ini bukan karena ada pencerahan di kalangan penguasa, melainkan persediaan yang semakin menipis.

Karena lama-lama mbledaknya [meledak] kebutuhan peralatan, terpaksa pagar kawat duri itu dibuat paku, untuk membuat barang. Otomatis kawat harus hilang, kan. Kita terpaksa membuat paku, ya dibuat dari kawat itu. Dibuat kepalanya pakai tang begitu. Ya dibuat sebisanya sudah, satu hari dapat 14. Ya, 14 dijatah perorang dijatah berapa. Yang nggak bisa ya bengong-bengong, pokoknya kena dipakukan, sudah. Sehingga hilanglah pagar kawat itu. Itu agak bebas sedikit. Tapi dalam batas tertentu, bebas itu bukan sewaktu-waktu bisa ketemu, ndak. Harus dapat surat izin resmi dari Komandan Unit, atau Pleton Pengawal.[13]

Di sisi lain ‘perbaikan nasib’ ini juga berarti eksploitasi tenaga kerja yang semakin intensif, dan semua orang, tanpa terkecuali, terlibat dalam produksi atau kegiatan lain untuk memenuhi target yang ditetapkan. Pengerahan tenaga kreatif di Unit I ini dilakukan dengan tujuan serupa. Hasil karya mereka yang semula dinikmati oleh komandan unit sekarang bisa dikontrol langsung oleh Komandan Tefaat. Beberapa bulan sesudah pemindahan 13 orang tersebut, datang usulan dari seorang tahanan, mahasiswa asal Jogja yang dekat dengan penguasa kamp, agar kelompok tukang dan seniman diperluas. Usulan diterima dan penguasa kamp kemudian menyisir unit-unit yang ada, mengumpulkan montir, tukang kayu, pemain musik dan karawitan, dalang, dan tenaga trampil lainnya. Mereka juga bermaksud merekrut penulis seperti Hr. Bandaharo, Rivai Apin, Bujung Saleh, Oei Hay Djoen, Sabar Anantaguna, Harsono Setiadi, Amarzan Ismail Hamid, Hersri Setiawan, JT Rachman, Sutikno WS dan beberapa nama lainnya. Tapi tahanan yang bersikeras menolak apa yang dianggapnya rencana eksploitasi tenaga kreatif oleh penguasa kamp ini, mendekati tahanan lain yang mengurus bagian administrasi, dan menghapus nama-nama mereka dari daftar yang akan dipindahkan.[14] Sampai ditutupnya Tefaat Buru hanya Pramoedya yang resmi menjalani hukuman sebagai penulis.

Sejak 14 November 1973 Pramoedya resmi pindah ke Unit I Wanapura, yang juga dikenal dengan sebutan Markas Komando (Mako).

“[Sejak itu] praktis aku tidak lagi bekerja di ladang atau sawah. Itu berarti aku tidak bekerja untuk nasiku sendiri. Aku hidup dari keringat teman-temanku. Mereka memberi aku makan dan minum. Yang kudapatkan untuk diriku sendiri hanya air mandi. Aku dijatah tiga piring nasi sehari dan sayur kangkung sebagai jatah umum. Tetapi teman-temanku tidak membiarkan aku terbengkalai sendiri. Mereka, bahkan setiap hari, mengusahakan agar aku juga dapat makan lauk. Mereka usahakan agar aku tetap merokok, berpakaian, mendapat gula dan sabun. Setiap bulan mereka sediakan untukku paling tidak 2 rim kertas doorslag, pita dan karbon. Bila mesin tulisku yang bobrok rusak, mereka buru-buru membetulkannya tepat pada waktu itu juga. Bila aku sakit mereka merawat dan mengobati.”[15]

Ia menempati sebuah bilik di loteng ‘gedung kesenian’ Unit I. Untuk menjaga stamina, yang menjadi semacam obsesi baginya, ia giat mengolah badan.

“Bangun pagi jam lima atau setengah lima. Sebelum turun lebih dulu melakukan gerak badan ranjang, termasuk push-up. Setelah turun dari ranjang masak air untuk ruangan atau grup – yaitu grup ukir-lukis-pemetaan. Sehabis ke belakang, gerak jalan barang seperempat jam, sport: katrol, dumble, taisho, akhirnya lari barang 1 atau 2 km. Bukan lari kencang, kakiashi alias jogging. Mengapaki kayu untuk kayu dapur. Setelah itu baru menulis.”[16]

Tidak lama kemudian ia mendapat kiriman mesin tik listrik baru dari Belanda. Tapi kiriman itu diserobot oleh petugas kejaksaan. Mereka kemudian ‘menggantinya’ dengan mesin tik tua yang kotor.[17] Di sini ia bebas menulis, walau ada saja perwira atau prajurit yang datang minta dituliskan riwayat percintaannya atau surat cinta. Keinginannya untuk menulis roman tentang periode kebangkitan nasional pun tumbuh. Namun,

“sekarang ini [aku]menjadi ragu, karena, satu waktu akan dibaca orang lain, bukan olehku sendiri saja. Sedang mengandalkan pada ingatan saja bisa-bisa jadi kedodoran. Kalau toh ditulis juga, dan ternyata tidak akurat, orang akan bisa menuduh aku memalsu sejarah, dan itu memang bukan bidangku. Dan setiap pemalsuan sejarah akan mengakibatkan bencana sosial. Aku ingin menulis sebuah roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman. Jadi aku bukan keluarbiasaan di antara pengarang, nasional maupun internasional sungguhan.”[18]

Ia menyadari keterbatasannya dan sekaligus menyesali penghancuran perpustakaan dan dokumentasi yang dikumpulkannya susah-payah, termasuk bahan langka tanpa salinan. “Nederland sebagai pusat dunia untuk Indologipun takkan bisa membantu.” Rencana menulis novel tentang kebangkitan nasional pun ditunda, dan ia beralih pada masa kejatuhannya, yakni abad ke-16.[19] Arus Balik adalah novel pertama yang ditulis Pramoedya di Pulau Buru, dan rampung Oktober 1974. Dan naskah ini juga mengawali cara kerja yang unik. Untuk mendapatkan komentar dari tahanan lain, dan juga karena tidak yakin pada data-data sejarah dalam ingatannya, ia mengirim bab per bab naskahnya kepada tahanan lain.[20] Naskah itu mendapat sambutan baik dan beberapa tahanan pun mulai berkorespondensi dengannya, memberikan pujian, komentar dan saran perbaikan.

Oei Hiem Hwie, penghuni Unit II yang berdekatan dengan Mako, mulai menggunakan kedekatan ini untuk berkunjung ke bilik Pramoedya.[21] Ia kemudian mengajak dua tahanan se-unit, Harun Rasjidi, mahasiswa UGM asal Jawa Tengah, dan Paimin, aktivis serikat buruh dari Cirebon. Mereka menjadi salah satu tim yang mendukung kegiatan Pramoedya, berkeliling dari satu unit ke unit lain mencari informasi, menemui guru dan peminat sejarah yang ternyata cukup banyak jumlahnya di Pulau Buru. Kelompok ini juga mengetik ulang berlembar-lembar naskah yang diterima dari Pramoedya menggunakan mesin tik unit untuk diedarkan kepada unit-unit lain. Karena kekurangan bahan kadang mereka harus mengolesi pita mesin tik dengan nila sehingga kembali hitam, dan menjual telur ayam peliharannya untuk memberi kertas doorslag dan alat tulis. Dalam waktu singkat barak-barak diwarnai kegiatan baru: mengedarkan, membaca dan membahas karya-karya Pramoedya.

Ketiadaan bahan kadang membuat Pramoedya frustrasi. Di biliknya hanya ada karangan HJ. de Graaf, Geschiedenis van Indonesië yang tentu tidak memadai untuk menulis novel sejarah dari perspektif Indonesia.[22] Seringkali ia menerima sanggahan atau protes dari tahanan lain yang baru selesai membaca naskahnya. Badawi, seorang penulis dan sutradara ketoprak dari Jogjakarta dengan sengit mengkritik Arok Dedes yang dinilainya keluar dari pakem, karena menghilangkan kutukan Mpu Gandring pada Ken Arok. Harsono Setiadi menganggap gambaran tentang buruh industri gula dalam tetralogi itu sungguh tidak tepat, dan kemudian bertekad menulis novel sendiri mengenai buruh perkebunan. Sebagian komentar itu disampaikan secara tertulis, sebagian lain secara lisan melalui para penghubung. Jaringan tutur yang sudah terbentuk sebelum ia dapat kesempatan menulis mulai membesar dan mencakup orang-orang yang tidak pernah ia temui.

Akhir Desember 1974. Pramoedya mengambil ancang-ancang menulis novel tentang periode kebangkitan nasional yang sudah lama direncanakannya. Suatu hari menjelang akhir tahun ia dipanggil menghadap Kolonel Samsi MS. Dan,

“… ia menanyakan apa yang aku rencanakan untuk ditulis, aku jawab roman tentang kebangkitan nasional, Periode Kebangkitan Nasional. Ia menanyakan perbedaan antara Kebangkitan Nasional dengan Periode Kebangkitan Nasional.

Aku terangkan bahwa Kebangkitan Nasional bukanlah satu peristiwa sebagaimana biasanya umum menganggap, dan dihubungkan dengan lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Kebangkitan Nasional adalah suatu proses, satu periode, dalam mana lahirnya Boedi Oetomo bukan satu-satunya peristiwa sejarah, tetap satu mata rantai belaka dan tidak lebih, juga tidak lebih penting daripada yang lain, juga tidak kurang penting daripada yang lain. Dan aku mempunyai dugaan yang tidak sepatutnya, bahwa pidato-pidato tentang Kebangkitan Nasional yang biasa diucapkan pada 20 Mei, pada umumnya dilakukan justru oleh orang yang lebih sedikit pengetahuannya tentang Kebangkitan Nasional itu sendiri daripada diriku. Barangkali dengan penyusunan roman itu bisa memberikan sedikit bantuan pada generasi yang lebih muda untuk mengetahui awal dari sejarah modernnya sendiri. Barangkali. Karena tanpa materi di tangan, roman yang akan kutulis tetap goyah. Bahkan kamus bahasa Indonesia dan atlas pun tak ada padaku.

Penutup dari pertemuan adalah permintaannya agar aku menyusun daftar buku sejarah yang kuperlukan, yang barangkali ada dalam perpustakaan ayahnya almarhum. Daftar itu kubuat, sebagai biasa, tanpa mengharap janji akan dipenuhinya.”[23]

Ia mulai menulis Bumi Manusia awal 1975. Kolonel Samsi MS sudah diganti Kolonel Soetikno, dan Tefaat sudah berganti nama menjadi Inrehab (Instalasi Rehabilitasi). Dalam waktu setahun lebih sedikit ia berhasil menyelesaikan empat jilid, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Di Atas Lumpur atawa Rumah Kaca. Semuanya masih menyandang status “konsep naskah yang belum sempurna.” Ia merasa tidak puas dengan hasilnya, walau senang karena “dapat menulis yang nisbiah tanpa gangguan.”[24] Komentar dan usulan dari tahanan yang membaca konsep naskahnya terus mengalir selama ia menulis. Hr Bandaharo, sastrawan senior Lekra, mengirim surat selembar kepada Pramoedya, memuji: “narrative and imaginative power-nya [yang] sungguh luar biasa, lebih-lebih karena kau harus bersandar pada ingatan mengenai bahan olahmu. Kau tetap Pram yang lama, tidak atau hampir tidak dipengaruhi masa 10 tahun ini.[25] Ada juga tahanan yang menulis berhalaman-halaman komentar rinci tentang tokoh dan jalan cerita novel itu, dan memberi koreksi pada bagian-bagian tertentu. Di barak-barak unit naskahnya dibaca bergantian oleh para tahanan yang kemudian mendiskusikan isinya. Tidak semua kembali kepada Pramoedya dalam bentuk kata. Gono Parwoto, seorang tahanan asal Madiun, menjelang kepulangan ke Jawa, membuat lagu ‘Bumi Manusia’ lengkap dengan notasi dan syair.

Sejak masih berupa naskah karya Pulau Buru sudah membentuk komunitas pembaca yang aktif. Agaknya bukan keindahan atau nilai intrinsik pada teks yang membuat orang berkerumun di sekelilingnya, melainkan usaha aktif dari Pramoedya dan para tahanan sendiri. Dan ada bermacam alasan orang untuk terlibat di dalamnya, mulai dari kejenuhan yang sangat dan keinginan mendapat hiburan, sampai pada kerinduan pada komunitas intelektual yang mereka hidupi sebelum 1965. Tapi keliru jika komunitas ini dilihat sebagai hidup kembali atau comeback­-nya struktur organisasi yang lama.[26] Upaya membangun kembali jaringan partai memang berulangkali dilakukan tapi selalu gagal. Sebagian usaha gagal karena perkelahian di kalangan tahanan sendiri yang berebut pengaruh, sebagian lain karena dilaporkan oleh cecunguk. Struktur dan susunan organisasi lama sejak awal tidak lagi berfungsi dan setiap upaya mengembalikannya justru ditanggapi dengan sinis dan celaan. Kemarahan dan frustrasi para tahanan, terutama yang muda, dilampiaskan kepada para pemimpin yang ternyata tidak berdaya menghadapi gelombang represi. Komunitas pembaca karya Pulau Buru yang terbentuk secara spontan ini tidak pernah diumumkan sebagai kelompok, walau mereka yang terlibat menyadari keberadaan satu sama lain.

Pramoedya jelas bukan satu-satunya orang yang berkarya. Ada Bujung Saleh yang menyusun kembali kisah Pranacitra-Rara Mendut dan menulis naskah dalam bahasa Inggris, Under the Firing Squad. Oei Hay Djoen menerjemahkan buku petunjuk akupunktur yang membantu banyak tahanan politik menekuni bidang tersebut. Ia juga menerjemahkan karya Plato, Republic. Sabar Anantaguna menulis essay panjang mengenai kebudayaan Indonesia dalam tiga buku catatan. Sementara Harsono Setiadi yang diinspirasi oleh karya Bumi Manusia, mulai menulis sebuah novel tentang buruh perkebunan tebu di Jawa Timur akhir abad ke-19, yang sayangnya tidak sempat selesai. Rivai Apin menulis tentang kejadian-kejadian di kamp dan beberapa puisi.[27] Lukisan, patung dan karya ukir tidak terhitung jumlahnya. Hampir semua tahanan dengan sedikit bakat melakukannya sebagai pengisi waktu senggang. Masih terlalu sedikit yang diketahui tentang karya-karya ini untuk mengatakan sesuatu yang bermakna mengenainya.

* * *

November 1979. Pramoedya termasuk dalam rombongan terakhir yang dipulangkan ke Jawa. Di tengah laut, sekitar enam jam di utara Gresik, kapal yang hendak membawanya ke Jakarta berhenti. Ia dipisahkan ke dalam kelompok 40 orang tahanan die hard bersama Rivai Apin, Oei Hay Djoen, Hasjim Rachman, Karel Supit dan beberapa tokoh penting lainnya. Mereka dinaikkan ke sebuah kapal kemudian dibawa ke pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari Surabaya mereka diangkut dengan bis ke Magelang, dan dikumpulkan bersama tahanan dari tempat-tempat lain. Setelah ditahan selama sebulan di sana, ia dibawa ke Semarang dan kembali bermalam di rumah tahanan Salemba, sebelum akhirnya dibebaskan di Kodim Jakarta Timur, di seberang stasiun kereta api Jatinegara. “Sejak 21 Desember 1979, berakhirlah masa penjara selama 14 tahun.”[28]

Kehidupan eks-tapol sekeluar dari penjara tidaklah mudah. Larangan untuk bekerja di bidang yang berhubungan dengan publik, seperti menulis, mengajar dan mendalang, membuat adaptasi semakin sulit. Hanya beberapa eks-tapol yang kemudian menabrak aturan ini dan mulai menulis, kadang dengan nama pena kadang dengan nama asli. Mereka menulis di berbagai media seperti Santana, Tempo, Kompas dan Prisma. Sebagian lain diterbitkan dengan usaha sendiri, antara lain melalui Yayasan Inkultra di Jakarta yang juga merupakan biro penerjemah. Hersri Setiawan, pendiri sekaligus direktur yayasan ini, giat mencari peluang menerbitkan tulisannya sendiri maupun tulisan teman eks-tapol lain di berbagai media. Beberapa kali ia membantu Pramoedya untuk menerbitkan tulisan di Kompas menggunakan nama pena Tasi Jawa. Hersri sendiri kerap membuat liputan untuk Kompas, termasuk saat mantan wakil presiden Hatta dimakamkan di Jakarta.

Hubungan dengan Prisma juga patut dicatat, sebagai salah satu saluran intelektual terpenting kelompok intelektual kiri yang baru lepas dari tahanan. Selama 1981 dan 1982 mereka menulis berbagai artikel tentang sejarah, masalah kebudayaan dan kritik sastra. Daniel Dhakidae, mantan redaktur Prisma mencatat bahwa, “dengan menerima mereka ke dalam dunia kata dan bahasa secara tidak langsung tumbuh suatu perlawanan dan pembebasan bahasa di dalam Prisma.”[29] Perlawanan dan pembebasan di sini bukan hanya terhadap Orde Baru, tapi juga pada paradigma Perang Dingin yang turut membentuk kesadaran politik para pemimpin dan pendukung Orde. Dengan menerbitkan karya ‘orang komunis’ Prisma, yang lahir di masa Orde Baru, menjadi anak durhaka. Dalam bahasa Perang Dingin tentang ancaman komunis, kejaksaan meminta Prisma tidak lagi memuat artikel yang ditulis oleh eks-tapol. Tapi permintaan itu tidak diindahkan. Perlawanan ini juga jadi awal retaknya wacana ‘bahaya laten komunis’ yang dalam tahun-tahun selanjutnya menjadi semakin konyol, sekalipun awalnya memiliki kekuatan yang mematikan.

Pramoedya juga termasuk eks-tapol yang lambat tampil ke permukaan. Sekembalinya dari Pulau Buru ia lebih suka tinggal di rumah. Hari-harinya diisi antara lain dengan menyurati teman dan kenalannya di dalam maupun luar negeri. Ia membangun kembali kontak dengan Wim F. Wertheim, yang saat itu aktif dalam Komittee Indonesië, sebuah kelompok solidaritas yang bermarkas di Amsterdam. Kegiatannya antara lain membela tahanan masih mendekam di Buru. Di Jakarta, Pramoedya mulai membicarakan tindak lanjut rencana menerbitkan naskah-naskahnya dengan Hasjim Rachman, mantan pemimpin Bintang Timur. Rencana itu sudah berulangkali dibicarakan saat keduanya masih ditahan di Pulau Buru. Mereka kemudian bertemu Joesoef Isak, mantan pemimpin redaksi harian Merdeka yang ditahan selama 12 tahun di Jakarta, untuk memulai usaha itu. Setelah beberapa pertemuan disepakati untuk mendirikan sebuah penerbit, Hasta Mitra. Pembagian kerja pun dilakukan. Pramoedya menangani karya-karyanya, Hasjim Rachman mengurus Hasta Mitra sebagai badan usaha, dan Joesoef menangani redaksi. Edy Tahsin, mantan wartawan Bintang Timur yang bermukim sebagai eksil di Belanda, pun turut bergabung sebagai perwakilan perusahaan itu di Eropa dengan menggunakan nama Latinnya, Manus Amici. Kediaman Joesoef Isak disulap menjadi kantor lengkap dengan meja dan perabotan lainnya, lalu beberapa eks-tapol direkrut sebagai pegawai. Modal awal diperoleh dari keluarga Hasjim Rachman, yang merasa berhutang budi dan ingin membantunya setelah keluar dari penjara.[30]

Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan naskah karya Pulau Buru yang berserakan. Naskah yang berada di tangan Pramoedya sendiri ditahan oleh penguasa kamp dan tidak pernah dikembalikan. Tapi sebelumnya ia sempat menitipkan salinan lengkap kepada beberapa orang yang lebih dulu dibebaskan, termasuk Oei Hiem Hwie dan Tumiso.[31] Mereka yang kemudian membawa kumpulan naskah itu kembali kepada Pramoedya ketika ia sudah kembali ke Jakarta. Namun, tidak semua naskah berhasil diselamatkan. Sebagian naskah Ensiklopedi Citrawi kembali dalam keadaan acak, sementara novel Mata Pusaran lenyap tanpa bekas di tangan penguasa. Sekembalinya ke Jakarta, Pramoedya mulai menggarap Bumi Manusia. Ia bekerja cepat dan mulai April 1980 ia mulai menyerahkan naskah itu secara berangsur kepada Hasjim Rachman untuk diketik ulang, dengan pesan bahwa redaksi tidak boleh mengubah satu pun tanda baca, apalagi memperbaiki bahasanya. Awal Juli naskah diserahkan ke percetakan Aga Press dan direncanakan selesai sebelum 17 Agustus. Antusiasme menyambut terbitnya Bumi Manusia juga menyebar ke luar negeri. Sementara naskah dalam bahasa Indonesia sedang diproses, sudah ada pembicaraan dengan Pramoedya Werkgroep untuk menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Belanda.

Namun pada saat bersamaan penulis dan penerbit juga diselimuti kegelisahan karena membayangkan reaksi pemerintah. Strategi pun disusun. Joesoef Isak dan Hasjim Rachman berinisiatif mendatangi Wakil Presiden Adam Malik yang mereka kenal sejak lama dan terhitung kanca dan Hartini Soekarno untuk mencari dukungan. Kedua tokoh itu menyambut baik niat Hasta Mitra untuk menerbitkan karya Pramoedya. Tidak ada tanda atau peringatan apa pun mengenai penerbitan buku itu. Joesoef dan Hasjim merasa yakin bahwa rencana mereka selanjutnya bisa berjalan baik.

22 Agustus 1980. Harian Kompas memuat iklan besar, mengumumkan bahwa Bumi Manusia terbit sebagai persembahan Hasta Mitra pada peringatan kemerdekaan Indonesia. Tapi karena alasan teknis Bumi Manusia baru selesai dicetak 25 Agustus. Beberapa eksemplar pertama yang baru selesai dijilid langsung disambar Hasjim Rachman dan dikirim kepada Kejaksaan Agung, Menteri Urusan Peranan Wanita, Lasyiah Soetanto, Tien Soeharto, Nelly Adam Malik dan beberapa istri pejabat. Pada sampulnya terpampang judul buku dan nama pengarang dalam huruf besar, sementara di bagian atas tertulis jelas: Karya Pulau Buru. Menurut Hasjim sebutan itu untuk “(a) mengumumkan ke segala penjuru, bahwa dari Pulau Buru pun lahir sesuatu yang positif, dan bukan hanya berita-berita sedih dan negatif, (b) membedakannya dari semua karya Pramoedya sebelum ia ditahan, yakni pra-1965.”[32]

Reaksi langsung datang hari berikutnya. Kadit Polkam Kejaksaan Agung menelepon Hasta Mitra dan meminta agar Bumi Manusia tidak diedarkan sebelum ada clearance dari pihaknya. Permintaan itu tidak diindahkan karena aturan hukum tidak membenarkan sensor preventif. Kejaksaan Agung harus mengumumkan terlebih dulu bahwa sebuah buku dilarang sebelum bisa melarang orang mengedarkannya. Tiga hari kemudian kantor yang sama kembali menelepon tapi minta dikirimi beberapa eksemplar lagi untuk diperiksa. Di tengah ketidakpastian, Hasta Mitra terus menjual edisi pertama Bumi Manusia dan dalam 12 hari cetakan pertama sebanyak 10.000 eksemplar sudah habis terjual. Beberapa eksemplar pun dikirim ke pejabat, mantan pejabat, termasuk Jenderal Soemitro yang saat itu sudah pensiun dari dinas militer. Ia membalas kiriman itu dengan surat kepada Pramoedya, berterima kasih atas kiriman buku itu dan sekaligus meminta maaf tidak dapat memenuhi janji mengirim bahan-bahan yang diminta oleh Pramoedya di Pulau Buru, karena tidak lama setelah pertemuan mereka, ia mengundurkan diri dari jabatan.

Cetakan-cetakan berikutnya menyusul dengan cepat dan dalam waktu singkat terjual habis. Memang semasa masih ditahan pun banyak orang yang membaca naskah awalnya menduga bahwa karya itu akan meledak. Wartawan Merdeka yang sempat berkunjung ke Buru dan melihat Pramoedya bekerja mencatat, “kiranya Pramoedya merupakan calon eks-Buru yang tidak akan sulit hidup bila ia dibebaskan. Naskah-naskah sekian banyak itu pasti akan menjadi rebutan para penerbit, nasional maupun internasional, jika Pemerintah dapat memberi izin karya-karyanya tadi diterbitkan.”[33] Dengan dukungan jaringan eks-tapol penyebaran buku itu berlangsung sangat cepat. Oei Hiem Hwie, yang saat itu bekerja pada Gunung Agung, menjadi distributor utama di Jawa Timur. Hanya dua minggu setelah edisi pertama beredar, Pramoedya menerima surat dari eks-tapol di Surabaya yang menceritakan bahwa seorang temannya datang berkunjung membawa Bumi Manusia. Lalu, “langsung saya ambil dan sekarang sedang dibaca rame2 oleh istri dan anak2 serta para handai tolan di kantor istri yang selanjutnya diteruskan dibaca oleh para tetangga.” Kantor Hasta Mitra setiap hari didatangi pembeli, termasuk orang suruhan pejabat-pejabat yang juga ingin memiliki buku itu.

Kalangan intelektual dan sastrawan juga menyambut penerbitan Bumi Manusia dengan baik. But Muchtar dari ITB dalam suratnya kepada Pramoedya mengaku selesai membaca buku itu dalam satu hari dan “sangat mengagumi hasil sastera yg demikian tinggi nilainya. Bung Pram patut mendapat Hadiah Nobel!” Ia lalu memesan 25 eksemplar lagi untuk teman-temannya yang juga menaruh minat. Parakitri Simbolon menulis ulasan panjang di harian Kompas, sementara Jakob Sumardjo dari Bandung dalam ulasannya menyebut Bumi Manusia sebagai “karya novelis terbesar Indonesia.”[34] Ulasan demi ulasan yang memuji karya itu terus berdatangan, termasuk di majalah yang lebih populer seperti Aktuil, Topik. Angkatan Bersenjata yang konservatif dan terkenal anti-komunis sejak awal pun memuat ulasan Ilham Bintang yang menyebut Bumi Manusia sebagai “sumbangan baru untuk khasanah sastra Indonesia.”[35] Pertengahan September, Pramoedya kembali mendatangi Adam Malik yang sudah membaca seluruh buku dan mengatakan isinya sangat baik.

Kurang dari setahun setelah bebas, Pramoedya dan Hasta Mitra sudah menyentak publik sastra Indonesia dengan Bumi Manusia. Kegelisahan Pramoedya di Pulau Buru akan nasibnya sebagai pengarang sudah terjawab. Ia kembali melangkah tegak dalam gelanggang sastra setelah belasan tahun dipenjara.

* * *

Tapi tentu ada juga yang gerah melihat keberhasilan Bumi Manusia. Buletin Tinjauan Teritorial terbitan Dephankam, edisi September 1980 secara khusus membahas penerbitan Bumi Manusia. Disebutkan bahwa buku itu sudah dicetak sebanyak 5000 eksemplar dan mendapat “sanjungan secara berlebih-lebihan.” Padahal penjualan buku dengan harga mahal itu untuk kepentingan komersial, dan

 “bila diamati secara teliti sebagian ceritanya masih terdapat ungkapan-ungkapan yang bernada perjuangan kelas, yang merupakan ciri khas komunis yang terselubung secara rapi, maupun sifat kekiri-kiriannya yang tidak mudah didapati oleh setiap pembaca namun tetap merupakan usaha penetrasi ideologi komunis, yang dibawa oleh sifat diehardnya penulis, serta adanya tujuan pembinaan terhadap kawan-kawan senasibnya, antara lain terlihat pada kata-kata Karya Pulau Buru.”

Penyebutan Karya Pulau Buru di sini ditangkap sebagai tantangan, dan mungkin memang dimaksudkan demikian oleh penerbitnya, sekalipun dalam keterangan resmi mengatakan lain. Tulisan itu selanjutnya menyarankan pada aparatur teritorial – di Jakarta berarti Kodam V Jaya dan lima Kodim yang berada di bawahnya – agar “mengambil langkah-langkah supaya masyarakat luas tidak terpancing dengan judul karya tulis Pramoedya, serta menjelaskan latar belakang serta sasaran yang ingin dicapai oleh penulis maupun kelompoknya.” Sebuah seruan perang.

 Hasta Mitra tidak perlu menunggu terlalu lama. Pada 13 September 1980, atau 19 hari setelah edisi pertama Bumi Manusia beredar, Jaksa Agung memanggil Hasjim Rachman sebagai direktur Hasta Mitra. Ia dihadapkan pada Kepala Direktorat Polkam (yang menelepon kantornya beberapa hari sesudah Bumi Manusia terbit) untuk dimintai keterangan.[36] Dalam pemeriksaan pejabat kejaksaan menuduh Bumi Manusia mengandung teori Marxisme yang terselubung, yakni pertentangan kelas. Dengan fantasi roman spionase bahwa Pramoedya menyampaikan pesan-pesan rahasia yang mungkin ditulis dengan sabun atau cairan jeruk di halaman-halaman Bumi Manusia, mereka menginterogasi Hasjim. Ia antara lain ditanya tentang rencana penerbitan selanjutnya, dan petugas kejaksaan dengan cepat menangkap rencana jahat itu dan pada hari terakhir pemeriksaan menyimpulkannya dengan skema berikut:[37]

Anak Semua Bangsa = Internasionalisme

Jejak Langkah = Manifesto Komunis

Rumah Kaca = Masyarakat Komunis

Reaksi Hasjim: “Urusan Jaksa Agung sudah selesai hari ini. Belum ada kesimpulan. Kita jalan terus. Hari Senin mulai cetak ulang.”[38]

Tekanan juga mulai dilancarkan terhadap pers. Para redaktur dan jurnalis diperingatkan agar tidak “menyanjung secara berlebih-lebihan.” Di lingkungan pers sendiri juga ada intimidasi. Wartawan senior Rosihan Anwar pendukung Manifes Kebudayaan menulis artikel tentang kriminalitas Jakarta di harian Pos Kota. Ia menulis dalam bentuk percakapan antara dua warga Jakarta tentang suasana ibukota yang semakin rawan. Penerbitan buku oleh eks-tapol (jelas yang dimaksud adalah Pramoedya) juga disebut. Dengan nada sinis ia menulis, “buku itu dijajakan kepada khalayak ramai sebagai buku yang tiada taranya. Selama Orde Baru ini, begitulah kesan hendak ditimbulkan, buku-buku yang diterbitkan hanya kerdil belaka, dan hanyalah dengan keluarnya buku karangan orang-orang Pulau Buru, barulah terdapat karya yang betul-betul hebat…” [39] Ia lalu menuding pers sebagai penyebab Pramoedya mendapat perhatian begitu besar. “Apakah wartawan majalah atau koran itu belum juga mengerti, jika bermain dengan orang-orang PKI, satu ketika mereka bisa terbakar sendiri?”

Birokrasi pun mulai berubah sikap. Jaksa Agung yang semula dengan ringan mengatakan bahwa Bumi Manusia “tidak ada apa-apanya,” dan karena itu dipersilakan beredar, kini mengatakan bahwa pihaknya masih memeriksa buku itu dan karena itu melarangnya beredar untuk sementara. Pernyataan itu disambut oleh Depdikbud yang menetapkan seluruh jajarannya, termasuk rektor universitas dan pimpinan unit di departemen tidak diperkenankan membeli atau menyimpan buku itu. Kejaksaan pun semakin aktif mengintimidasi setiap pihak yang terlibat. Pemimpin percetakan Aga Press dipanggil untuk dimintai keterangan. Tidak jelas apa yang terjadi, tapi edisi kedua kemudian dicetak di ‘Ampat Lima’. Pada 2 Oktober 1980 giliran Joesoef Isak yang diminta menghadap. Tetap tidak ada kejelasan karena petugas kejaksaan hanya berputar-putar soal isi buku yang kelihatannya tidak mereka pahami betul.[40] Hasta Mitra memutuskan, pekerjaan harus jalan terus. Bumi Manusia dicetak ulang, sementara Anak Semua Bangsa mulai digarap pengetikannya.

Lingkungan penerbit dan media yang semula mendukung, juga pelan-pelan menarik dukungan mereka. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), alih-alih membantu Hasta Mitra yang sudah menjadi anggotanya, malah menyingkirkan Bumi Manusia dari pameran buku yang mereka gelar awal Oktober. Harian Merdeka menurunkan tajuk “Pelarangan Bumi Manusia,” yang menyimpulkan bahwa buku itu mewakili tesis keempat dari gerakan komunis yang menjunjung humanisme dan liberalisme, karena “dengan humanisme maka PKI bisa dimaafkan. Dengan liberalisme demokrasi maka semua partai bisa dihidupkan kembali termasuk PKI.”[41] Tulisan Pramoedya dan eks-tapol lainnya mulai ditolak oleh para pemimpin redaksi dan catatan tambahan agar mereka tidak lagi mengirim tulisan atau datang berkunjung.

Beberapa penerbitan mahasiswa mengkritik keputusan rektor mereka yang mengikuti tekanan Depdikbud untuk melarang peredaran Bumi Manusia di lingkungan kampus.[42] Sikap pemerintah sementara itu semakin membingungkan. Pada 23 Oktober 1980 Jaksa Agung sekali lagi menegaskan kepada wartawan bahwa Bumi Manusia tidak dilarang,.[43] Tapi diam-diam pada hari yang sama, tanpa pengumuman, Jaksa Agung juga menandatangani surat keputusan yang melarang novel tersebut. Di tengah simpang-siur berita mengenai dilarang tidaknya novel itu, Hasta Mitra memilih jalan terus dengan penerbitan edisi-edisi berikutnya. Pada 1 November 1980 edisi ketiga Bumi Manusia sudah beredar, dan permainan kucing-kucingan antara kejaksaan yang tidak mau mengumumkan pelarangan terus berlangsung sampai novel itu menjadi bestseller sastra dengan penjualan 60.000 eksemplar. Baru setelah Anak Semua Bangsa terbit, sekitar setahun setelah Bumi Manusia, Jaksa Agung mengakhiri sikap mulur-mungkret dan mengumumkan pelarangan kedua novel itu kepada pers.

Pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa memicu reaksi dari berbagai kalangan. Aktivis mahasiswa termasuk yang paling gencar melawan pelarangan. Rendra, penyair terkemuka yang berulangkali jadi sasaran pelarangan menulis artikel mempertanyakan kriteria pelarangan yang digunakan Jaksa Agung. Redaksi Prisma sekalipun tidak melakukan pembelaan terbuka, mengabaikan larangan memuat tulisan para eks-tapol. Senat mahasiswa di Universitas Indonesia sementara itu mengundang Pramoedya untuk berceramah di kampus mengenai peran intelektual dunia ketiga. Sementara itu kalangan elite dan intelektual yang lebih mapan diam-diam mencari karya Pulau Buru lewat jalan belakang.[44] Seorang pembuat film, Hasrat Djoeir, di tengah hiruk-pikuk pelarangan justru berencana mengangkat novel itu ke layar lebar. Di luar negeri pelarangan tidak punya dampak apa-apa, atau malah membuatnya lebih populer. Setelah terjemahan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda, menyusul berturut-turut terjemahan dalam berbagai bahasa Eropa dan Asia lainnya.

* * *

Penulisan, penerbitan karya Pulau Buru dan kontroversi yang muncul di sekitarnya membawa dinamika baru, bukan hanya dalam dunia sastra, tapi juga aktivitas politik. Pramoedya dengan karyanya menggugat establishment sastra dan politik Orde Baru, dan membangun jembatan antara masa lalu dengan masa kini yang susah-payah diputus oleh Orde Baru dengan kampanye tentang ‘bahaya laten komunis’ dan kontrol terhadap kesadaran sejarah. Komunitas pembaca yang diawali di Pulau Buru terus berkembang, mencakup kalangan intelektual, seniman dan mahasiswa angkatan 1980-an, yang menjadi pusat-pusat perlawanan baru terhadap rezim Soeharto. Di kalangan muda, membaca dan mengedarkan karya Pramoedya adalah bagian penting dari identitas ‘aktivis’. Semua ini membuat doktrin anti-komunis Orde Baru yang merupakan ungkapan lokal dari paradigma Perang Dingin terlihat semakin konyol dan tidak efektif.

Hilmar Farid, 2008

 

[1] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jakarta: Lentera, 1995, hlm. 5. Kapal itu kemudian tenggelam dalam perjalanan saat akan diperbaiki di Hongkong.

[2] Informasi berikut, kecuali disebutkan lain, diambil dari wawancara Hersri Setiawan, Jakarta, 17 Juli 2007

[3] Wawancara tertulis Hasjim Rachman, menjawab pertanyaan wartawan asing, Januari 1981. Dokumentasi Pramoedya Ananta Toer dan Karyanya 1981, h. 118-119

[4] Wawancara Oei Hay Djoen dengan John Roosa, Cibubur, 16 Januari 2002.

[5] Dikutip oleh Angkatan Bersendjata, 26 Desember 1969.

[6] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 63.

[7] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 85.

[8] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 64-65.

[9] Wawancara Hersri Setiawan, Jakarta, 25 Juli 2007. Kelompok diskusi seperti itu oleh penguasa bisa dituduh sebagai gerakan bawah tanah yang subversif. Pram sendiri tidak memberi keterangan mengapa dia dipindah.

[10] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 79

[11] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 80.

[12] Ramadhan KH, Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. Jakarta: Sinar Harapan, 1994, h. 291

[13] Wawancara Slamet Utomo dengan Aquino, Banyuwangi, 1 Agustus 2000

[14] Wawancara Oei Hay Djoen, Cibubur, 21 Desember 2006; Wawancara Hersri Setiawan, Jakarta, 25 Juli 2007. Pramoedya sendiri menyadari bahwa penguasa kamp berusaha mengeksploitasi dirinya sebagai penulis dengan membuat rencana program penerjemahan buku dari bahasa asing untuk perguruan tinggi di Maluku. Sebagian waktunya habis untuk melayani permintaan penguasa untuk menulis bermacam dokumen, mulai dari laporan kamp sampai surat cinta untuk pengawal.

[15] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (Jakarta: Lentera, 1997), h. 272.

[16] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 185.

[17] Wawancara Oei Hiem Hwie, Surabaya, 26 Oktober 2006.

[18] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 89.

[19] Seperti pemikir nasionalis di zamannya Pramoedya pun menganggap kerajaan-kerajaan besar di Nusantara sebagai pendahulu Indonesia.

[20] Naskah Arus Balik kemudian disempurnakan lagi sekeluar dari penjara. Banyak bagian yang ia rasa perlu diperbaiki khususnya menyangkut navigasi dan kekurangan informasi tentang sejarah sosial. Lihat “Arus Balik,” naskah ketikan, 22 Oktober 1986 dalam dokumentasi Pramoedya Ananta Toer dan Karyanya 1946, hlm. 477. Naskah itu akhirnya baru selesai digarap dan diterbitkan 1995.

[21] Wawancara Oei Hiem Hwie, Surabaya, 26 Oktober 2006. Hersri Setiawan juga membantu mengedarkan naskah ketikan itu di Unit XIV dan mengirim kembali komentar-komentar yang didengarnya dari orang di unit tersebut.

[22] Wawancara Hersri, Jakarta, 25 Juli 2007.

[23] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h. 100-101.

[24] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, h.114.

[25] Surat kepada Pramoedya, 12 Juli 1975.

[26] Istilah comeback (dalam Inggris) oleh penguasa dianggap sebagai kode rahasia yang digunakan tahanan untuk menghidupkan PKI kembali. Tidak jelas apakah istilah ini memang benar digunakan atau semata-mata merupakan rekaan penguasa kamp untuk menindas tahanan. Sutradara terkemuka, Basuki Effendi, pernah dipukuli oleh pengawal kamp karena menyanyikan lagu Comeback to Sorento. Wawancara Hersri Setiawan, 25 Juli 2007.

[27] Hersri, “Art and Entertainment in the New Order Jails,” (diterjemahkan oleh Keith Foulcher), Indonesia No. 59 (April 1995), hlm. 17.

[28] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, 1997, h. xiv

[29] Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia, 2003, hlm. 495.

[30] Wawancara dengan Joesoef Isak, Jakarta, 28 Juli 2007. Beberapa paragraf berikut mengenai Hasta Mitra dan produksi karya Pulau Buru, kecuali disebutkan lain, diambil dari wawancara ini.

[31] Wawancara dengan Oei Hiem Hwie, 26 Oktober 2006; wawancara dengan Tumiso, 9 Desember 2006.

[32] Pimpinan Hasta Mitra, “Risalah Ringkas Kronologis Mengenai Penerbitan Buku Bumi Manusia,” Penerbit Hasta Mitra, 20 November 1980.

[33] Merdeka, 26 Desember 1977

[34] Pikiran Rakyat, 10 September 1980.

[35] Angkatan Bersenjata, 23 September 1980.

[36] Surat Kejaksaan Agung Republik Indonesia, No. Pang. 038/D.1/9/1980, 11 September 1980

[37] Skema itu disalin oleh Hasjim Rachman dari catatan jaksa sewaktu diinterogasi, yang kemudian dikirimnya kepada Pramoedya.

[38] Nota Hasjim Rachman kepada Pramoedya, 17 September 1980.

[39] Pos Kota, 23 September 1980.

[40] Baru belakangan menjadi jelas mengapa pemerintah berubah sikap. Hasjim Rachman mendapat salinan surat dari Kepala Staf Kopkamtib Yoga Sugama kepada penerbit Pustaka Jaya, bahwa “setelah kami pelajari dengan saksama maka buku-buku atau tulisan-tulisan karya ex-PKI, baik yang ditulis sebelum maupun sesudah ia ditahan untuk sementara waktu belum dapat diizinkan untuk diterbitkan atau diedarkan kembali.”

[41] Merdeka, 23 Oktober 1980.

[42] Lihat misalnya Berita ITB, No. 10 (Oktober 1980)

[43] Kompas, 24 Oktober 1980.

[44] Wawancara Joesoef Isak, Jakarta, 28 Juli 2007. Kalangan elite ini termasuk istri dari Widjojo Nitisastro, salah seorang pemuka ekonomi rezim Orde Baru; Fuad Hassan yang pernah berkunjung ke Pulau Buru dan ikut memeriksa Pramoedya; Mahbub Djunaidi, jurnalis senior yang juga bersahabat dengan trio Hasta Mitra.